Ada Mafia di Persebaya?

bola
Foto: footballskillsandtricks.com

Piala Dunia (PD) 1994 di Amerika Serikat (AS) menyimpan cerita menyedihkan. Ada tragedi pembunuhan terhadap pemain Kolombia bernama Andres Escobar. Dia dibunuh dengan cara ditembak oleh anggota kelompok mafia kartel narkoba di sebuah kafe di Kolombia. Penyebabnya, kelompok itu kecewa akibat gol bunuh diri Escobar di laga PD melawan AS yang membuat mereka kalah judi.

Sepak bola bukan hanya kisah tentang 2×45 menit di lapangan. Banyak sudut lain yang bisa dinikmati. Dari sudut hiburan, suporter akan tetap bergembira meski tim idolanya kalah. Karena pertandingan hanyalah hiburan di tengah kepadatan aktivitas. Dari sudut bisnis, kita bisa membahas siapa sponsor yang memberi dana kepada sebuah klub atau berapa jumlah rupiah yang diperoleh dari setiap pertandingan.

Yang paling memilukan jika ada mafia yang terlibat di sepak bola. Mafia ini memanfaatkan reputasi sepak bola untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Mafia dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan. Dan yang terjadi pada Escobar adalah satu kejahatan yang pelakunya mengambil sudut pandang sepak bola sebagai judi.

Mafia selalu mempunyai jalan dan kekuatan uang yang besar agar apa yang diinginkan tercapai. Indikator yang terjadi sekarang di Indonesia adalah bencana kabut asap yang menyerang beberapa kota di Sumatera dan Kalimantan. Para mafia ini ditengarai melakukan segala cara untuk membakar lahan-lahan demi kepentingan pribadi mereka. Ada yang menuduh mereka melakukannya agar tanah-tanah itu bisa ditanami kelapa sawit dengan biaya murah. Meski banyak pihak dirugikan, rasa kemanusian orang-orang itu sudah mati digantikan uang.

Dunia mafia juga menyerang sepak bola kita. Kasus atur skor demi kepentingan politik hingga tragedi sepak bola gajah di piala AFF yang melibatkan mantan pemain Persebaya Mursyied Efendi menciderai sportivitas. Mursyied dihukum berat. Tetapi orang-orang yang menyuruhnya bebas dari hukuman. Inilah salah satu kehebatan Mafia. Terkadang gengsi dan tuntutan prestasi bisa membuat seseorang tega melakukannya.

BACA:  Hari Ini, Persebaya Berangkat ke Martapura

Banyak suporter kemudian menuduh ada mafia di tubuh manajemen Persebaya. Tuduhan itu mencuat saat manajemen yang terbukti gagal mengelola Persebaya tutup telinga atas tuntutan suporter yang meminta mereka mundur. Jika mereka memang benar-benar peduli dengan klub, manajemen seharusnya sadar diri dan mundur.

Sebagai suporter, wajar jika kita menuntut revolusi di tubuh manajemen. Jika manajemen bersikukuh bertahan, sementara mereka tidak bisa memberi prestasi, maka kita bisa mengatakan jika budaya malu sudah hilang dalam diri mereka. Di Jepang, ketika ada seseorang yang menganggap dirinya gagal maka dia akan melakuan harakiri atau bunuh diri

Tetapi orang-orang yang duduk di manajemen tidak perlu melakukan harakiri. Cukup mundur dari jabatan dan ajak suporter, perwakilan klub internal dan elemen yang terkait untuk membahas masa depan Persebaya. Dengan melakukan “bunuh diri” dengan cara mengundurkan diri, hal itu akan tampak lebih terhormat.

Tidak selamanya “bunuh diri” melahirkan tragedi yang menakutkan seperti kematian Escobar. Persebaya punya kenangan manis terkait bunuh diri yaitu ketika Mat Halil mencetak gol bunuh diri saat melawan Persija, akan tetapi Persebaya tetap juara liga.

Pertanyaannya: apakah para petinggi di manajemen rela melakukan “bunuh diri” demi Persebaya?