Mencari Pemimpin Persebaya yang Istiqomah

persebaya
Foto: tempo.co

Di Islam, Istiqomah berarti berpegang teguh kepada agama dengan kokoh, tegar dan tidak goyah. Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam bukunya Jami’ul Ulum wal Hikam mengatakan Istiqomah adalah penempuhan jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus tanpa adanya pembengkokan ke kanan maupun ke kiri. Hal itu juga mencakup ketaatan kepada agama secara keseluruhan, baik lahir maupun batin serta meninggalkan segala bentuk larangan.

Di dalam konteks sepak bola, istiqomah bisa diartikan tetap berpegang pada konteks sportivitas dan fairplay yang dijunjung tinggi dan tidak memakai sepakbola dengan cara-cara yang licik, bengis dan menghalalkan segala cara.

Semenjak disahkannya sertikat Hak Atas Kepemilikan Intelektual (HAKI), dualisme pada tim kebanggaan kita Persebaya pun berakhir. Jika dirunut pada kata “Hak Atas Kepemilikan Intelektual”, secara logika kita seharusnya bertanya: siapakah pemilik hak tersebut? Siapa yang menciptakan logo Persebaya? Siapa yang membentuk Persebaya pada awalnya?

Dari jurnal dan catatan yang bisa kita baca, kita tahu jika Persebaya didirikan oleh klub-klub sepak bola milik warga pribumi di Surabaya. Tujuannya sebagai sarana perkumpulan olah raga dan ajang perlawanan warga pribumi menentang hegemoni penjajah Belanda. Pemilik asli Persebaya pada hakikatnya adalah publik Surabaya yang menaungi dan memberi sumbangsih pada Persebaya.

Lantas, bagaimana cara pemilik asli ini memilih pemimpinnya? Kita tahu jika selama ini pemegang kekuasaan Persebaya tidak pernah memberi akses kepada para pemilik asli Persebaya dalam memilih pemimpinnya.

Tidak jarang, Persebaya dijadikan sarana mencari keuntungan pribadi, baik dari segi ekonomi maupun politik. Caranya dengan memanfaatkan konflik ataupun isu hangat yang sedang terjadi di Surabaya. Contohnya saat pemilihan walikota ataupun pemilihan anggota DPRD. Persebaya sering dijadikan pentas panggung secara tidak bertanggung jawab yang tidak ada hubungannya dengan pembinaan sepakbola dan kemandirian Persebaya.

BACA:  Sabtu Latihan, Persebaya Diisi Pemain-Pemain Internal

Kita juga bisa menyaksikan jika banyak perusahaan yang menolak membantu keuangan Persebaya dikarenakan trauma dengan perlakuan dan perjanjian sponsorship yang dilanggar sepihak oleh pengurus-pengurus Persebaya.

Di belahan bumi lain tepatnya di Inggris, kita mengenal seorang penggila bola bernama Roman Abramovich. Dia membeli 90 persen saham klub Chelsea. Dia secara gila-gilaan membelanjakan pemain mahal serta pelatih mahal demi meraih prestasi. Dia sangat tahu jika berinvestasi di sepakbola adalah investasi yang merugikan. Meskipun industri sepakbola di Inggris sangat baik.

Di negara tetangga kita, Thailand, ada klub bernama Buriram United. Klub itu berusaha menjaga stabilitas neraca keuangan klub agar bisa mandiri meski mayoritas kepemilikan dipegang seorang politisi. Meski politisi, dia dikenal sebagai penggila bola.

Jika kita hubungkan dengan konteks bola Indonesia, khususnya di Surabaya, kita mungkin sepakat jika pemimpin klub sepakbola adalah orang yang gila bola. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki ketertarikan pada sepakbola bisa menjadi pemimpin yang baik? Apakah mungkin seseorang yang tidak mengetahui sistem permainan sepak bola dan bahkan tidak memiliki pemain idola bisa memimpin dengan baik?

Yang terjadi sekarang adalah orang-orang yang mengurus klub sepak bola tetapi tidak tahu cara mengelola tapi justru menggunakan klub demi kepentingan pribadinya di luar sepakbola.

Facebook Comments