Stadion Ini adalah Pelataran Rumah Saya

Obituari Soepangat, MC Legendaris Persebaya

pak-pangat
Soepangat (paling kanan), saat menjadi penyiar RGS Surabaya. (Foto courtesy @ceritasby)

Suara itu tidak berubah. Tetap membahana, tapi ramah di telinga serta menggelora di dada. Soepangat pemilik suara itu.

Minggu sore, 22 Februari lalu, saya sengaja mampir ke Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya. Kebetulan ada turnamen sepak bola anak-anak di stadion tersebut dan saya ingin menontonnya. Seperti biasanya, setiap ada pertandingan sepak bola di Gelora 10 Nopember, Soepangat selalu ada di tempat tersebut. Dan sore itu saya bertemu Pak Pangat, begitu saya memanggil Soepangat, di stadion tersebut.

”Stadion ini adalah pelataran rumah saya,” katanya. Terdengar berlebihan. Tapi, sebenarnya tidak. Rumah Pak Pangat persis berada di selatan Gelora 10 Nopember. Tembok tribun sebelah selatan jaraknya hanya berkisar 10 meter dari rumahnya.

Stadion kebanggaan masyarakat Surabaya itupun tak ubahnya halaman depan rumah Pak Pangat. Seperti lazimnya pelataran depan rumah, tempat tersebut merupakan area bermain yang nyaman bagi anak-anak si pemilik rumah. Pak Pangat pun seperti itu. Saat kecil, beliau selalu memanfaatkan ”halaman depan rumahnya” tersebut untuk bermain-main. Yang paling sering tentu bermain bola.

”Bukan itu saja. Dulu kalau sore seperti ini sebelum ada temboknya, saya dan adik-adik dimandikan bapak di belakang gawang selatan,” kenangnya. Di belakang gawang selatan Gelora 10 Nopember memang terdapat sumur. Sampai saat ini sumur itu masih ada.

Kecuali mandi, kebiasaan main-main dikala kecil itu masih dijalankan Pak Pangat. Hanya saja keberadaannya di stadion bukan lagi untuk bermain bola. Tapi, untuk memainkan mic yang selalu digenggamnya. Seperti halnya Minggu sore itu. Melalui mic yang dipegangnya, Pak Pangat menghidupkan pertandingan dari pinggir lapangan. Disebutnya nama para pemain satu persatu dengan suara menggelegar sebelum mereka masuk lapangan. Ketika para pemain memainkan bola di lapangan hijau, Pak Pangat menceritakan jalannya pertandingan secara lincah dengan bahasa lisan.

”Saya menjalani ini (menjadi MC) sejak 1973 dan bagi saya ini tak ubahnya bermain,” akunya.

Dulu suara itu selalu diudarakan melalui Radio Gelora Sepuluh Nopember (RGS) Surabaya. Saking piawai dan lincahnya Pak Pangat mengisahkan jalannya pertandingan, seringkali dijumpai penonton yang hadir di Stadion Tambaksari, nama populer Stadion 10 Nopember, juga membawa radio dan memutar siaran RGS. Jadi, mata tertuju ke lapangan hijau dan telinga dipasang untuk mendengarkan siaran Pak Pangat. Sedang yang berada di luar stadion, entah di rumah, di kantor, di warung, maupun di tempat berkumpul lainnya, seolah-olah ikut hadir di tribun penonton, kendati mereka hanya berada di depan pesawat radio.

Satu lagi yang tidak mungkin terlupakan darinya : seruan kepada penonton untuk menjaga stadion dan pertandingan. Yang acap terdengar semisal Rek-Rek ojo obong-obong, genine dipateni atau arek-arek tribun wetan ayo rek mbalek nang tribun.

Kadang seruannya tak didengarkan. Seperti saat terjadi amuk suporter saat Persebaya Surabaya menjamu Arema Malang pada 4 September 2006 silam. Tapi, terlepas dari peristiwa itu, siapapun yang pernah datang ke Gelora 10 Nopember atau menggemari Persebaya, Niac Mitra, dan Mitra Surabaya pasti akan selalu terkenang suaranya.

Dan kini, ketika usianya telah 65 tahun, suara itu tidak berubah. Seperti yang saya dengarkan Minggu sore itu. Suara Pak Pangat masih menggelegar, tapi tetap ramah di telinga dan menggelora di dada, tak ubahnya yang saya dengar ketika saya menonton di tribun timur pada usia tiga tahun. Saat ini usia saya sudah 30 tahun lebih.

”Saya pun akan tetap disini untuk memaksimalkan anugerah suara yang diberikan Tuhan. Sebab, stadion ini merupakan pelataran rumah saya,” ungkapnya. (*)

Catatan ini ada di buku “Mencintai Sepak Bola Indonesia meski Kusut” karya Miftakhul F.S, seorang jurnalis sepak bola.