Derby Persebaya (1927) vs Surabaya United: Siapakah yang Jadi Tetangga Berisik?

Saat ini, diakui atau tidak, Kota Surabaya memiliki dua klub sepak bola. Jika dulu Kota Surabaya identik dengan Persebaya (1927), sekarang ada tim lain yang bernama Surabaya United (SU). Kemunculan SU sendiri berawal dari kisruh dualisme Persebaya meski pada akhirnya Persebaya (1927) yang bermakas di Karanggayam memegang hak atas logo dan nama Persebaya (1927).

Maka jika kompetisi liga Indonesia berjalan kembali, derby Surabaya tidak bisa dihindari. Seperti derby pada umumnya, pertemuan dua klub sepak bola yang berada dalam satu kota akan menimbulkan atmosfer pertandingan yang panas dan gengsi yang tinggi, karena sebagai ajang pembuktian siapa tim yang paling kuat di kota mereka.

AS Roma vs Lazio, Ac Milan vs Inter Milan, Manchester United Vs Manchester City, adalah beberapa contoh derby yang selalu dinantikan oleh penggemar sepak bola.

Lalu bagaimana jika terjadi derby Surabaya yang mempertemukan Persebaya (1927) melawan SU? Pasti pertemuan kedua tim sangat menarik. Ada beberapa hal yang dapat dibahas, mengapa pertemuan kedua tim sangat menarik ditunggu.

Pertama, tentang sejarah berdirinya klub. Klub di luar negeri memiliki latar belakang pendirian yang jelas. Biasanya, sekelompak orang berkumpul untuk mendirikan sebuah klub.

Berbeda dengan derby Surabaya. Derby tersebut muncul karena klub terpecah akibat dualisme. Persebaya(1927) mempunyai sejarah yang jelas, sedangkan SU lahir dari keterpakasaan karena mereka sebelumnya menggunakan nama Persebaya dan harus ganti nama plus logo karena Persebaya (1927) terlebih dahulu diakui HAKI.

Jika kedua tim bertemu, rasa ingin menghajar lawan dengan gol sebanyak mungkin akan timbul dengan sendirinya. Sebab, ada kegeraman karena“sakit hati” dalam perebutan nama Persebaya.

BACA:  Lawan Persik, Manajemen Persebaya Siapkan Sajian Khusus

Kedua, tentu pendukung kedua tim. Untuk sementara basis pendukung Persebaya(1927) lebih banyak dibandingkan SU. Dikatakan sementara karena tidak menutup kemungkinan pendukung SU semakin banyak.

Mayoritas pemain SU adalah pemain yang sudah mempunyai nama di kancah sepak bola Indonesia dan petinggi tim SU adalah orang-orang yang mempunyai “pengaruh” di Indonesia.

Dan SU dipilih oleh panitia turnamen Piala Sudirman untuk mewakili Surabaya, karena SU dianggap lebih siap dan pantas daripada Persebaya (1927).

Apabila derby Surabaya benar-benar terjadi, gesekan supporter kedua tim sangat mungkin terjadi. Bonek yang selama ini totalitas mendukung Persebaya, tidak rela jika ada tim baru yang menguasai kota Surabaya, sedangkan pendukung SU sendiri tidak mau diremehkan meskipun mereka tergolong tim baru.

Kedua supporter bisa belajar dari derby Manchester, sekitar tahun 1900an pendukung Manchester City tidak sebanyak sekarang. Mayoritas memilih Manchester United.

Tetapi seiring berjalan waktu, pendukung Manchester City mulai banyak, sampai Sir Alex Ferguson menjuluki tetangga yang berisik. Hal ini memberi pembelajaran bahwa prestasi klub sangat mempengaruhi ke mana seseorang mendukung ketika ada dua tim sepak bola di satu kota.

Tentu sebagai gibol kota Surabaya, jika terwujud derby Surabaya mengharapkan tidak ada kerusuhan supporter ketika ada pertandingan derby.

Yang diharapkan adalah persaingan yang akan memunculkan pemain-pemain hebat yang kemudian bisa menjadi pilar Timnas Indonesia. Dan tentu pula, tim hebat juga terbentuk karena manajemen klub yang baik pula. Jadi persaingan membentuk manajemen yang baik akan tersaji pula. Karena jika terjadi ketimpangan prestasi, maka potensi kehilangan pendukung memungkinkan terjadi.