Bentrok di Sragen Bukan Ulah Bonek

bus-aremania
Bus berisi rombongan suporter Arema yang hendak berangkat ke Jogja untuk mendukung tim kesayangannya bertanding melawan Surabaya United, diserang di tengah perjalanan, Sabtu (19/12/2015). (Foto: Facebook/Komunitas Peduli Malang)

Turut berduka cita atas meninggalnya suporter Arema Cronus yang bentrok dengan suporter Surabaya United di Kota Sragen. Bentrok tersebut terjadi sebelum laga Piala Jenderal Sudirman yang mempertemukan Arema vs Surabaya United di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu 19 Desember.

Bentrokan yang membuat dua Aremania tewas tersebut kembali memperpanjang tragedi berdarah pertikaian suporter. Semoga ini terakhir kalinya bentrok maut terjadi di lingkungan sepak bola Indonesia. Semoga tidak ada lagi kerusuhan suporter. Daftar korban sudah panjang. Jangan ditambah lagi.

Alasan bentrok juga tidak masuk akal. Hanya karena seseorang mencintai satu klub tertentu dia layak dibunuh. Padahal, mereka berangkat ke stadion hanya untuk bergembira, menonton tim kesayangannya bermain sepak bola. Apa salah mereka?

Namun, sayangnya, kericuhan di Sragen tersebut juga diwarnai kekeliruan dalam pemberitaan. Media tidak bisa membedakan siapa Bonek dan siapa suporter yang “bukan Bonek”. Apakah hanya karena suporter tersebut dari Surabaya maka dia disebut Bonek? Apakah L.A. Mania, Deltras Mania, atau Aremania sekalipun yang tinggal di Surabaya juga harus disebut Bonek?

Bonek adalah para pendukung Persebaya Surabaya. Titik. Masalahnya, yang bermain melawan Arema Cronus di Piala Jenderal Sudirman bukanlah Persebaya. Melainkan Surabaya United.

Semoga kita tidak melupakan sejarah. Persebaya telah menjadi korban politik sepak bola Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Hasilnya, klub mengalami dualisme. Persebaya 1927 yang asli kini sudah berhak atas nama Persebaya Surabaya berdasarkan putusan Ditjen HAKI, KemenkumHAM. Karena tidak berhak menggunakan nama Persebaya, kubu sebelah menggunakan nama Surabaya United.

Dan mereka punya basis suporter sendiri. Namanya, Alligator Mania. Dan nama ini adalah nama resmi suporter mereka. Bahkan, nama tersebut diluncurkan secara resmi di akun Twitter resmi mereka @SurabayaUnited_

Karena itu, adalah kekeliruan yang fatal jika menyebut Bonek sebagai biang bentrok suporter di Sragen.

Perlu diketahui, Bonek sudah tidak lagi peduli dengan turnamen Piala Jenderal Sudirman. Sebab, turnamen tersebut tidak diikuti tim kesayangannya. Bonek kini justru sedang berfokus untuk membersihkan “virus” yang merusak Persebaya. Bukan yang lain.

BACA:  Fanatisme Sepak Bola: Gengsi yang Dibawa Sampai Mati

Pada Rabu, 16 Desember, ribuan Bonek menyerbu pertandingan uji coba antara Persebaya vs PS Kaimana di lapangan Karanggayam. Tuntutan mereka satu: lunasi gaji pemain dan ofisial!

Tak cukup sampai di situ. Bonek juga mendatangi Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Surabaya pada Jumat, 18 Desember, untuk memperjuangkan gaji pemain dan mantan pemain Persebaya. Tujuannya, hutang sebesar Rp 6,5 miliar dilunasi manajemen. Jika hutang-hutang tersebut tidak dilunasi, Persebaya Surabaya terancam tak bisa mengikuti kompetisi pada Maret mendatang.

Dengan agenda perjuangan begini banyaknya, demi klub tercinta, apa Bonek masih punya waktu untuk mengurusi pertandingan lain yang bahkan tidak ada hubungannya dengan klub kesayangannya?

Tidak hanya media yang salah dalam menyebut kelompok suporter tersebut. Media sosial juga keliru menyebut Bonek. Akun Twitter @OngisnadeNet bercuit dengan menyebut suporter Surabaya United sebagai Bonek.

Untuk diketahui dulur-dulur suporter, Surabaya United dan Persebaya Surabaya adalah dua klub yang berbeda. Suporternya juga berbeda. Bonek bukan Alligator Mania, dan Alligator Mania bukan Bonek.

Dengan adanya perbedaan yang jelas antara dua kelompok suporter ini, semoga media dan media sosial bisa membedakan dan berhati-hati dalam memakai istilah.

Ini bukan hanya soal identitas dan kebanggaan. Tapi lebih jauh lagi. Akibat yang ditimbulkan juga berbeda. Istilah yang salah akan keliru dalam proses penindakan hukum selanjutnya. Ini bisa menimbulkan disinformasi yang berlarut-larut. Bagaimana mungkin Bonek harus bertanggung jawab terhadap ulah Alligator Mania?

Semoga penyebutan Bonek tersebut bukan karena memang ada “kebencian” terhadap Bonek. Insiden ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi banyak pihak untuk lebih jernih jika ada kejadian lagi di masa depan.

Tapi, jika Bonek harus terus mendapat citra negatif dari hal-hal yang tidak mereka lakukan, kami ini salah apa?

Facebook Comments