Fanatisme Sepak Bola: Gengsi yang Dibawa Sampai Mati

tribun-bonek
Foto: suryaonline.co

Sepak bola adalah olahraga yang banyak digemari masyarakat luas. Olahraga ini tidak hanya membahas tentang pertandingan kedua tim yang bertanding. Ada sisi lain dari sepak bola seperti bisnis hingga tentang supporter.

Banyak hal menarik dalam soal pendukung tim tersebut. Mulai dari bersaing saling kreatif ketika mendukung tim idola, mengadakan nonton bareng, hingga sampai hal-hal kerusuhan yang melibatkan suporter sepak bola

Suporter tidak bisa dipisahkan dari sepak bola. Sampai ada anggapan mereka adalah pemain ke-12 dalam suatu tim. Totalitas dan loyalitas ketika mendukung tim idola sangat militan sekali. Ada yang rela menempuh perjalanan jauh dan mengoleksi pernak-pernik tim idola. Yang paling dahsyat, ada yang membahayakan nyawanya ketika mendukung tim idola.

Membahayakan nyawa itu bisa seperti naik motor tanpa helm, numpak truk ramai-ramai sampai tidak jarang ada yang bentrok antar supporter. Dan semua itu demi menunjukan siapa yang paling hebat, siapa yang paling militan, dan demi sebuah kata loyalitas kepada tim idola.

Kelompok suporter tidak rela jika tim idola mereka diejek atau diremehkan. Mereka terkesan membela mati-matian tim yang mereka idola. Tidak sedikit saling ejek supporter terjadi di dunia maya (status war, twitwar, Facebook war).

Terhangat adalah terjadi bentrok suporter di Kota Sragen yang menyebabkan kematian dua Aremania. Jika melihat ke belakang, banyak kasus yang bentrok supporter yang menyebabkan kematian seorang supporter. Nyawa menjadi taruhan. Hanya demi sepak bola. Yang seharusnya menjadi hiburan justru menjadi ajang permusuhan yang berakibat bisa hilangnya nyawa.

Sifat fanatisme terhadap sesuatu boleh-boleh saja asal fanatisme tersebut tidak merugikan orang lain dan tidak menimbulkan sifat saling benci antar manusia. Misalnya, kita menyukai tim sepak bola, ya cukuplah untuk menonton setiap pertandingan, mempunyai atribut tim, dan sharing info terbaru tentang tim idola.

BACA:  Bonek Suporter Pengawal Sejarah, Bukan Pembunuh

Bukan malah membenci mereka yang tidak sama idolanya. Saling olok-olok ketika tim idolanya kalah. Jadi harus ada keberanian untuk meredam sifat fanatisme agar tidak terjebak kepada fanatisme yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kita bisa mengambil contoh dari negara yang sepak bola nya sudah maju. Di Inggris, misalnya, ada rivalitas sengit antara Manchester United versus Liverpool dan Arsenal versus Tottenham Hospur. Para pendukungnya saling ejek di dalam stadion lewat nyanyian atau bahkan terang-terangan mengacungkan jari tengah ke pendukung kubu lawan ketika pertandingan berlangsung.

Tetapi kedua supporter “hanya” sampai di situ aja. Tidak ada supporter yang meninggal karena bentrok di luar stadion. Mereka menjadikan rivalitas sebagai “bumbu” dalam hiburan olahraga sepak bola, bukan adu gengsi yang dibawa sampai mati.

Sepak bola Indonesia masih mati karena belum adanya kompetisi resmi yang bergulir. Alangkah lebih baiknya jika semangat fanatisme ini diarahkan untuk menuntut bergulirnya kembali kompetisi.

Semoga tidak ada lagi yang meregang nyawa hanya karena fanatisme berlebihan. Kamu boleh hijau, biru, orange, atau warna yang lainnya. Akan tetapi warna kita masih sama, warna Merah Putih. Dan lagu kita masih sama, lagu Indonesia Raya.