Resolusi 2016 Bonek: Revolusi Sepak Bola Belum Tuntas

bonek-resolusi
Foto: sidomi.com

Jauh-jauh hari sebelum pergantian tahun, di sekeliling saya beberapa orang sedang asik membicarakan resolusi Tahun Baru 2016. Seperti daftar belanjaan kosmetik perempuan, kalau disebutkan satu per satu mungkin tulisan di Emosi Jiwaku ini tidak akan cukup.

Pertanyaannya bukan hanya apa resolusimu. Tapi, yang lebih penting, bisa tidak mewujudkannya?

Tanpa menunggu pergantian tahun sebenarnya resolusi tersebut sudah menjadi doa dan “deadline”. Sama seperti saat merayakan ulang tahun. Perbedaannya adalah resolusi saat pergantian tahun diucapkan melalui akun pribadi sosial media secara bersamaan, diiringi petasan dan nyaringnya terompet.

Tapi itu berbeda dari salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia. Jika orang-orang di luar sana sampai saat ini sedang memperdebatkan resolusi jangka pendek dan panjang di 2016, Bonek sudah terlebih dahulu melakukan beberapa strategi untuk harapan dan mimpi besar.

Bukan lagi tentang resolusi, tetapi mereka telah melakukan revolusi. Upaya terbaik untuk melawan dan menyuarakan perubahan.

Revolusi 2015 berjalan sukses

Apa saja “revolusi” yang telah dilakukan Bonek?

Yang paling monumental tentu saja aksi-aksi perebutan hak kepemilikan Persebaya Surabaya. Bonek sukses meraihnya dengan legalitas dari Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Kemenkumham. Tidak ada organisasi manapun yang berhak menggunakannya.

Selain itu, Bonek juga ikut memperjuangkan agar Mess Persebaya di Jalan Karanggayam yang menjadi homebase selama puluhan tahun tidak menjadi sengketa.

Bonek juga berupaya agar hanya ada satu tim saja di Kota Pahlawan ini. Tim yang sudah lama berdiri dengan deretan juara dan prestasinya, yang mempunyai sejarah dalam perjalanannya, tidak akan pernah ada versi duplikatnya!

Sayangnya, usaha untuk bekerja sama dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak menemui solusi terbaik. Harapan bonek agar Risma mengambil alih Persebaya juga sia-sia.

BACA:  Bu Risma, Bonek Bukan Anak Haram di Kota ini

Tapi, bukan Bonek namanya jika tidak memiliki mental baja. Kami terus maju untuk mengupayakan keadilan. Salah satunya dengan long march di depan Hotel Shangri-La hingga long march di depan hotel J.W. Marriot. Bonek terus melakukan aksi damai dan berupaya membangun soliditas satu sama lain agar terus percaya bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia.

Aksi-aksi itu ikut membuahkan hasil. Long march Bonek se-Nusantara di Hotel J.W. Marriott menuntut perubahan di PSSI menghasilkan perubahan. Federasi sepak bola Indonesia itu secara resmi dibekukan Menpora Imam Nahrawi.

Saatnya suporter mengawal perbaikan manajemen

Ini adalah suatu bukti bahwa perubahan yang digelorakan Bonek mewakili suara-suara di masyarakat umum. Dan Bonek juga berhasil membongkar stigma bahwa kelompok suporter ini hanya tukang bikin kisruh. Terbukti, Bonek adalah suporter perjuangan. Bukan sekadar bernyanyi di stadion. Mereka juga memperjuangkan klub kesayangannya.

Perubahan yang dilakukan Bonek melalui gerakan revolusi semoga mampu membuka mata suporter lain. Bahwa dukungan untuk tim kesayangan bukan lagi sekadar hadir di dalam stadion. Tapi dukungan nyata untuk bersama-sama terus mengawal tim pujaan dengan perbaikan manajemen, pelunasan gaji pemain, dan melakukan revolusi sepakbola yang jauh lebih baik dan bersih.

Kita tidak pernah tau akan sampai kapan revolusi yang dilakukan Bonek akan berakhir. Tapi yang saya tahu, Bonek akan terus melangkah bersama-sama mengawal Persebaya Surabaya untuk menjadi tim yang solid. Bukan lagi sekadar mementingkan uang tetapi kecintaan dan rasa bangga akan Persebaya itu sendiri. Dan perjalanan panjang revolusi ini belum akan berakhir.