Surat Terbuka untuk Saleh Ismail Mukadar

saleh
Abah Saleh. (Foto: mediasepakbola.co)

Assalamualaikum wr wb Abah Saleh…

Sudah lama rasanya kita tidak bersua. Semoga kabar baik dan kesehatan selalu berada dalam keluarga Abah semua. Amin. Terdengar kabar saat ini abah sudah mulai menetap di Pulau Buru Ambon. Istilahnya mudik ke kampung halaman.

Pulau Buru adalah pulau yang menyimpan banyak sejarah dalam perjuangan bangsa Indonesia. Banyak sekali tahanan politik semasa orde baru diasingkan di pulau yang masuk wilayah propinsi Maluku itu. Salah satu yang paling terkenal adalah sastrawan Pramudya Ananta Toer. Karya Pram terbesar dilahirkan semasa dia menjadi orang buangan di pulau itu, yaitu novel Tetralogi Buru atau Tetralogi Bumi Manusia.

Saat ini mungkin Abah bersama keluarga sedang menikmati alam Pulau Buru yang damai. Kebetulan sudah dua kali saya ke sana saat kebetulan bertugas di Maluku tahun 2012 dan 2014. Laut yang indah dan hasil ikan yang lezat. Belum lagi hasil alam lainnya. Abah pasti betah disana setelah sekian tahun berkutat di keramaian politik dan sepak bola, baik di Surabaya atau Jakarta.

Keberadaan Abah di sana mengingatkan saya akan Pram dan perjuangannya dalam novel-novel karyanya. Abah sudah menghilang dari Surabaya. Kota yang membesarkan nama abah dari seorang perantauan menjadi anggota partai merah, anggota DPRD Jawa Timur dan tentu saja menjadi Komisaris Utama PT Persebaya Indonesia (PT PI). Bahkan sejak Abah tinggal di kampung kecil Pogot sampai di perumahan mewah di Pakuwon City.

Abah Saleh yang terhormat…

Persebaya saat ini semakin dalam terkubur. Salah satunya adalah buntunya manajemen dalam mengelola klub dan hubungannya dengan stake holder lainnya. Saat ini saya tahu Abah sudah membuat surat pengunduran diri bermaterai dari pengurus PT PI. Tapi apa daya, sampai sekarang pun secara akte notaris nama abah masih resmi menjadi Komisaris Utama.

Pertanyaan saya: kapan akan diadakan RUPS untuk menyelamatkan Persebaya sebagai klub? Saya tahu Abah juga mencintai Persebaya. Jika selama ini Abah selalu mengatakan semua tergantung Cholid Goromah (CG) maka yang terjadi adalah kebuntuan. Karena 20 klub internal yang ada masih mendukung CG untuk menjadi Direktur Utama PT PI. Padahal seperti Abah ketahui, bonek menghendaki adanya perubahan total di tubuh manajemen. Yang artinya adalah Abah dan CG mundur dari PT PI.

BACA:  Urgent: Dibutuhkan Sopir dan Pemilik Baru untuk Jalankan Mesin Persebaya

Abah Saleh yang terhormat…

Saya ada sedikit pendapat. Jika memang CG dan lainnya tidak segera cepat melakukan RUPS, bagaimana jika Abah menggandeng 10 klub yang dulu menyeberang ke sebelah diajak berkomunikasi lagi. Secara hukum, bukankah 10 klub tersebut masih memiliki hak atas saham yang ada di Koperasi Surya? Apakah hal ini tidak bisa dilakukan karena saham di Koperasi Surya semuanya fiktif kepunyaan klub internal?

Jika bukan, menurut saya dengan Abah memiliki 50 persen saham plus 10 klub yang ada, artinya sudah kuorum untuk melakukan RUPS tanpa perlu CG dan kawan-kawan. Koreksi kalau saya salah, Bah. Semua sudah mendesak untuk dilakukan.

Abah Saleh yang terhormat…

Dengarkanlah suara hati bonek. Hanya bonek yang setia menemani Persebaya. Pengurus, pemain, pelatih, pemilik bisa berganti, tetapi Bonek tetap ada untuk Persebaya. Roda kompetisi memang belum berjalan. Federasi pun belum ada kepastian nasib. Pergantian manajemen memang belum tentu menjadi lebih baik. Akan tetapi mempertahankan manajemen yang telah gagal selama lebih dari enam tahun juga bukan hal yang baik.

Pergantian kepemimpinan atau manajemen adalah hal wajar dalam sebuah organisasi. Tujuannya tentu untuk menjadikan roda organisasi berjalan wajar dan tentu menguntungkan dan berprestasi.

Ayolah Abah! Segera cari jalan keluar bersama stake holder sepak bola Surabaya demi Persebaya. Tanpa ada RUPS, mustahil akan ada perubahan menuju yang lebih baik.

Semoga dengan menetapnya Abah di Pulau Buru akan menemukan cara terbaik untuk menyelamatkan Persebaya. Salam Satu Nyali.

Demikian surat terbuka ini semoga bisa membuka hati dan pikiran Abah Saleh.

Wassalam.

Facebook Comments