Sosios di Persebaya, Bisakah Diterapkan? Bisa!

sosios
Suporter Barcelona yang tergabung dalam sosios Barcelona mengikuti Pemilu Barcelona untuk memilih presiden Barcelona. Bayangkan jika Persebaya dikelola Bonek. Menarik bukan?

Ketika dulu mendengar socios diterapkan Real Madrid, Barcelona, Athletic Bilbao, dan Osasuna, rasanya itu konsep yang sangat memikat. Sempat terpikir apakah mungkin diterapkan di klub sepak bola Indonesia?

Ah, terasa terlampau jauh. Meniru konsep pengelolaan sepak bola Eropa yang sudah begitu maju. Naif. Lalu, pekan lalu wartawan Jawa Pos Narendra Prasetya pulang dari Timor Leste untuk meliput pembukaan Liga Futebol Amadora (LFA) dan membawa cerita soal dua klub di sana yang menggunakan sistem mirip Real dan Barcelona. Cerita itu: SOSIOS.

Ya, ada dua klub yang memakai sistem sosios –istilah yang dipakai di Timor Leste–, yakni Sporting Benfica Dili dan Sporting de Timor. Hebatnya, sistem itu sudah dimulai bahkan sejak Indonesia belum merdeka, apalagi Timor Leste yang baru terbebas pada 2002 lalu.

Baik Benfica maupun Sporting sudah mulai menerapkannya sejak 1938. Mengalami pasang surut karena perjuangan kemerdekaan, toh relasi sosios dengan klubnya tetap terjaga. Hingga kini, kedua klub itu masing-masing memiliki sekitar 500-an sosios. Tak banyak memang, tapi sangat fundamental bagi pendanaan dan dinamika kedua klub itu.

Saat ini, LFA mulai berjalan di Timor Leste. Baru musim pertama. Dan, Benfica serta Sporting tetap kukuh dengan sistem sosios-nya. Bahkan, Benfica bukan hanya menghidupi klub sepak bola, melainkan juga voli indoor, basket, atletik, dan tinju.

Nah, kalau klub di Timor Leste, yang kompetisinya saja belum profesional, sudah menerapkan sosios dalam manajemen klubnya, sungguh penghinaan apabila kita di Indonesia tidak bisa. Apalagi, untuk klub dengan usia setua Persebaya, Persija, Persis Solo, atau PSM Makassar.

Sekarang coba kita telaah apa itu sosios, hak dan juga kewajibannya. Kita ibaratkan sosios itu rakyat. Mereka membayar pajak dan kemudian punya hak untuk memilih dan dipilih dalam sebuah pemilihan umum yang demokratis. Tentu ada hak-hak lain.

Setiap sosios berkewajiban membayar iuran anggota yang nilainya tergantung kesepakatan. Dengan begitu, sosios ini bukan fans biasa, melainkan fans spesial. Karena telah membayar kewajiban, maka ada hak yang mereka dapatkan, meski tidak mutlak-mutlak amat.

Sosios punya hak suara. Setiap lima tahun sekali, atau bisa lebih cepat, tergantung aturan yang dibuat bersama, akan ada pemilihan presiden klub. Saat itulah sosios memainkan perannya. Para kandidat harus mampu meyakinkan sosios untuk memilih mereka. Tentu dengan janji-janji atau rencana-rencana pengelolaan klub.

Dalam pemilihan umum itu, sosios kemudian memilih kandidat yang sesuai dengan kehendak mereka. Setelah terpilih, sang presiden akan mulai menjalankan apa yang sudah dijanjikan. Dan, ingat, sosios bukan berarti selalu bisa menentukan siapa pemain yang dibeli, pelatih yang dipilih, dan lain-lain.

Namun, sosios tetap bisa mengontrol kebijakan klub. Saat presiden terpilih telah menjabat dan menyalah gunakan wewenang atau setidaknya tak menjalankan janji-janjinya, maka sosios bisa beraksi. Caranya, gulirkan mosi tidak percaya, kumpulkan tanda tangan para sosios dalam jumlah tertentu, ajukan referendum.

Apabila tercukupi, maka memungkinkan terjadi pemilihan ulang. Tentu tak gampang menggulingkan seorang presiden klub, karena kalau mudah, maka stabilitas klub sulit terjaga. Hanya, dengan begitu, presiden atau manajemen tahu kalau mereka melenceng, dan banyak yang kecewa, maka mosi tidak percaya bisa berbahaya.

Lalu, bagaimana mungkin itu bisa diterapkan di klub Indonesia. Kita umpamakan saja Persebaya. Saat ini, kabarnya 80 persen saham PT Persebaya Indonesia dimiliki secara perseorangan. Pembagiannya, 50 persen milik Saleh Ismail Mukadar dan 30 persen punya Cholid Goromah serta 20 persen sisanya dikuasai Koperasi Mitra Surya Abadi yang sahamnya dipercayakan kepada Suprastowo.

BACA:  Persebaya dan Bonek Baru, Menjemput Impian Menjadi Kenyataan

Sudah, kita tak perlu berdebat soal validitas saham itu. Coba kita melihat ke depan dan apa yang mungkin bisa dilakukan. Saleh Mukadar sudah mengatakan siap melepas sahamnya kepada Bonek sekalipun, asalkan berbadan hukum. Nah, ini kesempatan luar biasa, Cak.

Bentuklah badan hukum, ambil alih saham 50 persen itu. Lalu, terapkan sistem sosios untuk kepemilikan saham itu. Dan, 20 persen yang dikuasai koperasi apa itu namanya, harusnya diserahkan kepada klub anggota Persebaya sebagai yang berhak. Sisa 30 persennya, tunggu orangnya rela mengembalikan kepada yang berhak.

Bagaimana menerapkan sistem sosios. Kita buat perumpamaan lagi. Sosios diyakini akan memiliki 50 persen saham itu. Begini, saya yakin kalau di Timor Leste mampu menggaet 500 sosios, di Surabaya itu jumlah kecil banget.

Andaikan, dibuka pendaftaran, dibatasi 50 persen saham itu diperuntukkan untuk 10 ribu sosios. Bisa gak di Surabaya?Lha, kalau Persebaya bertanding penontonnya jauh lebih banyak dari itu kok. Persebaya yang mana? Jawab sendiri ya.

Untuk setiap keanggotaan sosios Persebaya, harus membayar di awal sebesar Rp 100 ribu. Coba dikalikan 10 ribu sosios. Akan dapat angka Rp 1 miliar. Bukankah itu modal yang cukup menggiurkan. Itu kalau iurannya Rp 100 ribu untuk semusim kompetisi, kalau lebih? Maka lebih besar lagi. Hanya ingin kasih info, kalau di Timor Leste sosiosnya bayar USD 10 perbulan lho. Itu artinya, sekitar Rp 132 ribu. Perbulan.

Lalu, apa kompensasi untuk para sosios yang sudah membayar Rp 100 ribu permusim itu.

Selain mendapatkan suara saat pemilihan presiden atau manajemen, mereka juga bisa mendapatkan fasilitas lain. Misalnya, potongan 50 persen tiket pertandingan. Atau, potongan pembelian merchandise asli klub. Semuanya bisa diformulasikan dan kemudian dibakukan melalui statuta klub.

Kalau di Real dan Barca, para socios melalui perwakilannya –yang dipilih oleh socios– bisa terlibat dalam penentuan manajemen klub. Para perwakilan socios mengikuti rapat rutin dan tahunan membahas masa depan klub. Itu juga bisa diterapkan untuk konsep sosios di Persebaya.

Dengan begitu, presiden klub atau manajemen tidak bisa seenak udel-nya mengambil keputusan. Apalagi, berani mencoba-coba untuk menyalahgunakan dana yang dikumpulkan sosios.

Bagaimana pun konsep atau sistem ini masih sangat terbuka untuk diperdebatkan. Termasuk apakah begitu mudah menjadi sosios atau lebih tinggi lagi perwakilan sosios. Kalau di Spanyol sana, untuk menjadi socios, syaratnya harus mendapat rekomendasi dari tiga socios yang lebih dulu bergabung selama dua tahun. Juga, tentunya membayar iuran.

Itu dilakukan agar tidak sembarang orang menjadi sosios. Nah, kalau di Persebaya misalnya, bisa dilakukan dengan cara membuat beberapa persyaratan. Contohnya, untuk menjadi sosios harus punya KTP, direkomendasi oleh elemen Bonek yang eksis selama ini, dan syarat lain yang bisa diatur agar tidak liar.

Kalau benar ini bisa diwujudkan, tak ada lagi yang berani mengejek Bonek gak bondo duwekLha wong memakai sistem sosios. Bayar ini, Cak! Sekarang ini mana ada cinta tanpa modal? Hmmm.

Tulisan dan wacana ini masih terbuka untuk diperdebatkan dan dipertajam. Tentu masih ada kekurangan, meski ini ide yang masuk akal. Terakhir, cobalah renungi petuah Mbah Jenggot Karl Marx, ”Para filsuf berupaya menginterpretasi dunia dengan berbagai cara. Padahal, yang penting adalah mengubahnya.” Jadi, ayo lakukan perubahan. Wani. (*)

*) Tulisan ini pernah dimuat di Total Football Jawa Pos edisi Sabtu 12 Maret 2016

Facebook Comments