Ayo Buy Back Persebaya!

Foto: pantaupekanbaru.com

Selama ini Bonek selalu diberi harapan. Dan kita hanya bisa berharap para pemegang saham Persebaya (Koperasi Surya Abadi Persebaya, Saleh Ismail Mukadar, Cholid Goromah) mengembalikan eksistensi tim seperti yang kita tuntut dan inginkan. Tuntutan yang selalu kita dengungkan misalnya manajemen yang bersih, Persebaya segera bermain di kompetisi dan masih banyak lagi.

Menurut Bonek, revolusi adalah harga mati. Namun jika jalan yang dipilih para pemegang saham adalah evolusi? Mau tak mau kita harus mengikuti.

Kekuatan kita selama ini hanyalah sebuah kalimat “Persebaya is nothing without fans”. Maka mari maknai kata itu lebih dalam. Jika kita ada untuk Persebaya, percayalah, kejayaan akan bangkit kembali. Kita miliki Persebaya dalam arti yang sebenarnya. BELI!.

Semua ada prosesnya, semua ada sistemnya, tinggal bagaimana kita mencari celah untuk bisa membelinya secara perlahan. Dari hal yang paling murah yang bisa kita lakukan. Bukan lagi menjadi revolusioner tetapi berubah menjadi visioner. Mempunyai visi seperti kalimat pujaan kita: “Persebaya is nothing without fans”.

How? Bagaimana? Ya Opo Carane?

Apa alasan kuat membeli Persebaya menyikapi hasil-hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Persebaya Indonesia (PT PI)?

Sama seperti pertanyaan “memang rela bagi-bagi?” yang muncul di iklan coklat. Para pemegang saham sadar bahwa Persebaya adalah sebuah nama besar yang punya nilai jual tinggi. Rugi dong jika saham yang mereka miliki harus dibagi-bagi. Apalagi disisihin untuk Bonek yang secara legalitas saja tidak punya.

Anehnya, para pemegang saham tidak mau rugi dengan mengeluarkan uang lagi untuk Persebaya. Jangankan untuk membayar gaji pemain, membeli pembersih lantai untuk mengepel mess saja mereka ogah.

Mereka ingin Persebaya bisa berjalan tanpa mengeluarkan duit sepeser pun atau ikut ribet ngurusi manajemen. Kalau bisa malah dapat duit. Bagaimana caranya?

Yang saya tangkap, pemegang saham hanya ingin satu cara yaitu menjual lisensi kepada investor. Investor inilah yang nantinya menjadi pengelola Persebaya. Mereka ingin investor mengeluarkan dana untuk melunasi hutang pemain dan pelatih.

Trus, apa yang didapat investor? Sebagai pengelola, investor berhak menjalankan klub. Mereka berhak atas brand Persebaya baik nama, logo, dan fasilitas lainnya. Investor bertanggung jawab penuh kepada pemilik baik soal keuangan, keuntungan, maupun prestasi sesuai kesepakatan yang sudah disetujui kedua belah pihak.

Dengan konsekuensi melunasi hutang-hutang Persebaya, membayar gaji pemain dan pelatih, mengikutkan Persebaya dalam kompetisi, mengontrak pemain tapi tidak memiliki saham satu persen pun, apakah ada investor yang mau menjadi pengelola? Ini pertanyaan yang harus dijawab para pemegang saham.

Apakah Bonek bisa jadi pengelola juga? Bisa saja jika Bonek mau. Cara-cara ini bisa dipakai Bonek jika ingin jadi pengelola:

1. Inspirasi dari patungan usaha Yusuf Mansyur

Jika Bonek ingin mengelola Persebaya, saya menyarankan untuk meniru apa yang dilakukan ustad Yusuf Mansyur (YM). Dia mengajak jama’ahnya untuk patungan menjalankan usaha. Konsepnya adalah ekonomi kerakyatan.

Awalnya, YM mengumpulkan orang-orang yang ingin berwirausaha mengeluarkan uang dengan sistem gotong royong atau patungan. Uang yang terkumpul digunakan untuk membeli sebuah unit usaha. Dipilihlah usaha perhotelan dan properti.

Tak disangka, antusias jama’ah sangat besar hingga terkumpul dana sekitar Rp 24 miliar. Jumlah tersebut dikumpulkan dari uang patungan mulai Rp 100 ribu sampai dengan Rp 100 juta.

Dalam perjalanannya, YM sempat disemprit OJK (Otoritas Jasa Keuangan) agar melegalkan patungan usaha menjadi badan hukum koperasi. Sekarang, patungan usaha itu sudah berubah menjadi Koperasi Indonesia Berjamaah. Koperasi itu bisa menjalankan bisnis investasinya dengan legal dan terpercaya.

BACA:  Teruntuk PSSI Yang Tak Kunjung Sehat

2. Belajar dari Sistem Sosios Klub Spanyol

Real Madrid dan Barcelona menggunakan sistem sosios. Sistem ini dijalankan dengan konsep dimana para fans bisa memiliki klub pujaannya dan bisa turut aktif menentukan arah kebijakan klub. Cara mendaftarkan diri menjadi anggota sosios dengan menyetorkan sejumlah uang iuran.

Apakah sistem ini tidak mengandung masalah seperti penyimpangan dana keuangan atau pengemplangan pajak? Tetap ada, namun fans sebagai pemilik mempunyai kekuatan menekan presiden klub jika masalah-masalah tersebut timbul. Fans bisa juga menurunkan presiden klub.

***

Persebaya dibangun dengan konsep anak burung. Klub ini sejatinya berstatus profesional tapi pengelolaannya masih jauh dari kata profesional. Dulu, klub ini dibesarkan dengan asupan APBD. Pengurus tak perlu berfikir keras mencari dana dan keuntungan. Mereka juga tidak perlu repot-repot mengatur pemasukan dan pengeluaran supaya seimbang sehingga tidak rugi. Dana untuk Persebaya pasti tersedia.

Bagaimana jika dana APBD ditiadakan? Ya nasibnya seperti sekarang. Mati segan hidup galau. Menunggu investor masuk, karena pengurus dan pemiliknya terlena dengan kejayaan masa lalu. Kejayaan saat Persebaya masih seperti anak burung.

Bagaimana jika konsep sosios dijalankan? Saya pesimis konsep ini bisa dijalankan jika cara berpikir pemilik masih tradisional dan belum move on dari sisa-sisa kenikmatan masa lalu. Sistem sosios tidak akan dilirik dan masuk dalam rencana jangka panjang Persebaya.

Yang ditunggu pemegang saham hanyalah investor atau siapa saja yang punya uang agar mau mengelola Persebaya.

***

Apa yang bisa dilakukan Bonek menyikapi kondisi sat ini? Sebenarnya, ada dua cara yang bisa dilakukan Bonek untuk bisa masuk dan turut aktif untuk mengontrol dan membesarkan Persebaya:

1. Menjadi Pemilik Saham

Dari hasil RUPS, peluang Bonek untuk bisa aktif di dalam manajemen Persebaya sudah tertutup. Tapi bukan berarti tidak ada celah untuk membeli Persebaya. Salah satunya adalah membeli sebagian saham yang dimiliki pemegang saham Persebaya. Ini pernah dinyatakan Saleh Ismail Mukadar (SIM) sebagai salah satu pemilik saham lewat akun facebook miliknya. SIM menawarkan sahamnya untuk dibeli Bonek dengan syarat Bonek sudah berbadan hukum.

Cara lain dengan mengakuisisi salah satu klub internal jika klaim 70 persen saham PT PI mewakili klub internal itu benar. Karena dengan mengakuisisi, bonek otomatis akan menjadi salah satu pemilik dari 70 persen saham. Namun, menurut info semua klub internal tidak punyabadan hukum. Jadi agak mustahil cara ini dilakukan.

2. Menjadi Pengelola Persebaya

Syarat yang harus dipenuhi sebelum jadi pengelola adalah menyiapkan badan hukum. Badan hukum bisa berupa koperasi. Wacana koperasi sempat mengemuka beberapa waktu lalu. Sayangnya selama ini hanya jadi wacana tanpa realisasi yang jelas.

Beberapa hal yang bisa dilakukan koperasi:

– Koperasi ini dibentuk dari Bonek untuk Bonek. Unit usahanya adalah jasa pengelolaan keuangan dan usaha untuk menjadi investor dan pengelola Persebaya. Jangka panjangnya adalah membeli Persebaya.
– Koperasi dikelola orang-orang profesional sesuai dengan tujuan unit usaha.
– Pengawas/pembina koperasi berasal dari anggota koperasi dan dipilih anggota koperasi.
– Pengurus koperasi dipilih anggota koperasi.
– Karena Koperasi tidak menjanjikan keuntungan bagi anggota, maka sebagai gantinya anggota koperasi mempunyai hak suara untuk menentukan arah kebijakan manajemen koperasi.
– Dana yang terkumpul dan terpakai dicatatkan dengan sistem akutansi keuangan yang profesional. Dana dikelola oleh profesional di bidang keuangan dan dipertanggung jawabkan kepada anggota koperasi.
– Koperasi ini menjadi pengelola Persebaya yang profesional dengan tanggung jawab yang dibebankan kepada pengelola, termasuk melunasi tunggakan gaji, dll. (*)