Melihat Aremania di GBT dan Bonek di Kanjuruhan, Mungkinkah?

Kliping koran Jawa Pos yang memberitakan kehadiran Aremania di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya.

“Football fans everywhere will remember him , he was one of the best forward I’ve ever seen” – Alfredo di Stefano

Saat masih menjabat Kapolda Jatim, Irjen Polisi Badrodin Haiti mengatakan bersatunya suporter merupakan awal yang baik bagi sistem pertandingan dan keamanan. Dia berharap Jatim menjadi pionir persatuan suporter di Indonesia.

“Jika tidak ada tindakan kekerasan dan pertandingan berjalan lancar, akan menjadi sinyal positif bagi persepakbolaan tanah air,” ucap Badrodin (22/2/2011).

Menanggapi ramainya pemberitaan jika Bonek sedikit saja berbuat ulah maka media sangat cepat memberitakannya. Kembali ke tahun 2011, sudah ada langkah positif dari para pimpinan wilayah di Jawa Timur saat itu. Baik dari Gubernur Jatim Soekarwo, Pangdam V Brawijaya Mayjen Gatot Nurmantyo, dan Kapolda Jatim Badrodin Haiti.

Saat itu (22/02/2011), ada 13 kelompok suporter yang diundang ke kantor Polda Jatim untuk membicarakan keamanan di setiap pertandingan sepakbola di wilayah Jawa Timur.

Dalam pertemuan tersebut semua setuju membuat kesepakatan. Ketiga belas kelompok sepakat menjaga situasi Jawa Timur tetap aman dan kondusif. Mereka adalah Aremania, Bonek Persebaya, Persik Kediri, Persela Lamongan, Gresik United, Boromania Persibo Bojonegoro, Delta Mania Deltras Sidoarjo, PSBI Blitar, Ngalamania Persema Malang, Persekam Metro FC Malang, Persipro Probolinggo dan PS Mojokerto Putra.

Dalam pertemuan tersebut ada 8 (delapan) poin yang telah disepakati yaitu :

1. Menjunjung tinggi sportifitas dan tidak saling bermusuhan antar suporter masing-masing klub sepakbola, serta menghilangkan semua rasa kebencian kepada klub atau tim sepakbola yang lain.

2. Bersama-sama bertekad untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam perjalanan dan selama pertandingan berlangsung

3. Mengkoordinir suporter sepakbola yang akan melawat atau bertanding ke luar Jawa Timur

4. Tidak membawa spanduk yang bersifat provokatif serta meneriakkan yel-yel yang dapat menyinggung atau menjelekkan pihak lain

5. Tidak melakukan tindakan anarkis, termasuk melanggar peraturan lalu lintas dan pelanggaran hukum lainnya

6. Dalam setiap kegiatan suporter koordinator lapangan bekerjasama dengan petugas keamanan dalam mengamankan suporter masing-masing

7. Para koordinator suporter mensosialisasikan hasil kesepakatan ini sampai ke lapisan suporter terbawah, bersama-sama dengan forum pimpinan daerah

8. Forum pimpinan daerah pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota mengimbau kepada media massa untuk menyajikan pemberitaan yang berimbang

Setelah adanya kesepakatan, Badrodin mengatakan akan melakukan evaluasi tiap tiga bulan.

“Yang pasti semua sudah sepakat untuk taat pada keputusan bersama tersebut,” kata Kapolda Jatim saat itu.

Gatot Nurmantyo dan Soekarwo pun mendukung semua langkah yang diambil. Bahkan mereka akan melanjutkan forum ini di tingkat muspida di bawahnya.

Rivalitas Bonek-Aremania

Jumat (6/5), terjadi peristiwa di Suramadu. Di mana Bonek sebagai warga Surabaya menyisir kawasan itu untuk memastikan tidak ada Aremania memasuki Madura. Hari itu Madura United dijadwalkan menjamu Arema Cronus dalam lanjutan turnamen TSC A.

BACA:  Salam dari Aremania untuk Bonek yang Rindu Persebaya

Dalam perjanjian tak tertulis antara Bonek dan Aremania disepakati tidak diperbolehkan melewati kota masing-masing secara bersama-sama dan memakai atribut klubnya masing-masing.

Membicarakan rivalitas kedua kelompok suporter ini memang sangat rumit dan pelik. Tidak hanya faktor klub semata tapi sudah mengakar karena budaya, sosial ekonomi, politik, bahkan sejarah antara Surabaya dan Malang.

Dibutuhkan nyali dan jiwa yang sangat besar di antara keduanya untuk bisa menerima kunjungan away fans di tiap laga. Tidak hanya suporternya tapi juga pihak pemerintah daerah dan masing-masing warganya.

Hak Suporter Menonton Pertandingan Klubnya di Mana Pun

Di saat siaran pertandingan luar negeri di televisi lokal maupun berbayar mudah diakses, seharusnya banyak memberi pelajaran baik oleh suporter maupun pihak keamanan. Suporter di liga-liga mancanegara dengan rival terkeras pun masih bisa berkunjung atau awaydays ke stadion lawan. Tidak ada larangan apapun yang bisa membatalkannya. Apalagi larangan dari pihak kepolisian setempat.

Sudah menjadi hak bagi suporter lawan berkunjung. Demikian pula sudah menjadi kewajiban bagi pihak keamanan setempat menjamin keamanan pertandingan dan suporter tandang. Bilakah ini terjadi antara Surabaya dan Malang di kemudian hari?

Mungkin Aremania senior masih ada yang merasakan pengalaman berjingkrak di Stadion 10 Nopember di awal 1990-an. Akan tetapi karena ada sedikit keributan, pihak keamanan Malang melarang kunjungan balasan Bonek ke Gajayana saat itu. Artinya, sebetulnya kunjungan supporter rival ke stadion sudah bisa dilakukan dan hal itu sudah terjadi.

Sekarang saatnya semua pihak membuka diri dan hati. Sepakbola seharusnya bisa dinikmati di mana saja tanpa direcoki hal-hal lain di luar lapangan. Meski berat dan susah, tapi harus bisa diusahakan. Pihak keamanan diminta bekerja lebih keras dan cerdas. Jangan hanya melarang, itu hal mudah. Tapi harus juga mengamankan agar away fans bisa hadir mendukung kesebelasan kesayangannya di stadion lawan.

Perlahan namun pasti, Bonek mulai membuka diri dan senang dengan persaudaraan. Hanya saja memang harus diakui banyak faktor yang menyebabkan Bonek masih sangat susah menerima Aremania.

Tidak hanya fans yang bangga bisa mendampingi klub kesayangannya bertanding. Seperti kata Alfredo di Stefano di atas, pemain pun akan merasakan hal yang sama jika bisa melihat fans-nya terlihat di tribun, baik saat laga home maupun away.

Semoga ke depan hal ini bisa terjadi. Entah kapan. Pingin rasanya memakai atribut Bonek berkunjung di tribun Stadion Kanjuruhan mendukung Persebaya. Jika tidak sekarang, mungkin anak cucu kita nanti yang akan melakukannya. Suatu saat, Bonek bisa menerima Aremania hadir di salah satu sudut Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).

Salam Satu Nyali! Wani!

Facebook Comments