Buaya Makin Tertindas

864

EJ – Surat Keputusan (SK) Pembekuan PSSI resmi dicabut, Rabu (11/5) oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Pencabutan itu menandai berakhirnya drama satu tahun pembekuan federasi. Ada yang senang, namun ada juga yang tidak setuju. Pihak yang senang beralasan jika pencabutan akan membuat sepakbola Indonesia kembali hidup. Sementara yang tidak senang beralasan reformasi sepak bola Indonesia belum tuntas. Masih banyak masalah yang belum terselesaikan.

Persebaya adalah salah satu klub yang kemarin (10/5), meminta menpora menunda rencana pencabutan SK Pembekuan PSSI. Bersama enam klub lain yang tergabung dalam Aliansi Klub Sepak bola Indonesia (AKSI), mereka meminta pemerintah menunda pencabutan SK sampai hak-hak mereka terpenuhi. AKSI meminta status keanggotaan ketujuh klub dikembalikan. Mereka juga meminta kejelasan status hukum dan penuntasan agenda reformasi sepak bola. Sayang keinginan AKSI kandas. Menpora tetap mencabut SK pembekuan. PSSI sebagai organisasi sepak bola di Indonesia akan mulai bekerja.

Menyusul dicabutnya pembekuan, Kemenpora meminta PSSI mengembalikan status keanggotaan klub-klub yang selama ini diabaikan, termasuk Persebaya.

“Harus ada pengakuan kembali terhadap klub-klub sepakbola yang selama ini diabaikan PSSI,” tulis Kemenpora dalam akun twitter mereka.

Apakah semudah itu?

PSSI tentu mempunyai wewenang untuk setuju atau menolak permintaan tersebut. Selama ini, PSSI memang tidak mengakui status keanggotaan klub-klub seperti Persebaya, Arema Indonesia, Persema, Lampung FC, Persibo, Persipasi, dan Persewangi. Sejak dualisme PSSI sampai sekarang, hak-hak klub-klub itu diabaikan federasi. Apakah setelah SK pembekuan dicabut, lantas membuat PSSI mengakui klub-klub tersebut? Sepertinya itu hanya menjadi harapan Kemenpora semata. (iwe)