Usaha Konveksi Pak Win Sukses Setelah Menerima Pesanan Jersey Latihan Persebaya

Skuad Persebaya 1999-2000.

EJ – Liga Indonesia (Ligina) V tahun 1998-1999 adalah liga paling melelahkan dan berakhir menyedihkan. Banyak kisah yang sudah ditulis di media waktu itu. Kali ini saya akan bercerita tentang hal lain. Cerita saat Persebaya akan menjalani pertandingan babak semifinal Ligina V melawan PSMS Medan.

Sesaat setelah laga semifinal mengalahkan PSMS, Persebaya langsung berangkat menuju Manado dengan pesawat Hercules untuk menjalani laga final melawan PSIS Semarang. Sebelum berangkat, saya dikenalkan dengan seseorang yang sedang menunggu pemain di lobby sebuah hotel di Jakarta. Sebut saja Pak Win.

Disaksikan lebih dari 30.000 penonton di Stadion Klabat, Tugiyo membuyarkan harapan Persebaya untuk back-to-back juara Liga. PSIS juara setelah menang 1-0 atas Persebaya.

Pertemuan singkat dengan Pak Win di lobby hotel berlanjut di Ligina VI. Dia berkunjung ke Mess Karanggayam untuk mengantar sejumlah kaos untuk para pemain. Saya tidak tahu untuk apa kaos itu dan siapa yang memakainya. Yang jelas, saya mulai mengenalnya. Menurut cerita beberapa pemain, dia berjualan kaki lima di Stadion Gelora Bung Karno (SGBK).

Bila ada partai pertandingan besar di SGBK, dia pasti menggelar lapak dagangannya. Yang saya ingat, dia selalu ditemani asisten setianya. Menaiki kereta Gaya Baru dari Jakarta, dia dan asistennya langsung menuju Mess Karanggayam. Tujuannya untuk memenuhi sejumlah pesanan pemain dan sekalian mudik pulang ke Surabaya.

Saya dan beberapa pemain sempat berbincang-bincang di lobby mess cukup lama. Saya tertarik untuk meminta bantuannya untuk membuatkan baju latihan dengan bahan bagus dan model sederhana. Dia langsung menyanggupi dan berjanji akan kembali secepatnya.

Dua minggu kemudian, Pak Win menunggu saya di Mess Karanggayam. Dia datang lebih dahulu bersama asistennya langsung dari stasiun kereta membawa baju latihan yang kami pesan.

Saya terima seragam itu dan langsung saya berikan kepada Kit Man Persebaya, Toha untuk dipakai sore harinya. Saat latihan, dia datang lagi untuk melihat seragam garapannya dipakai latihan oleh para pemain Persebaya. Tampak sekali raut mukanya yang senang. Impian agar hasil garapannya dipakai tim sebesar Persebaya sudah tercapai.

Sambil melihat para pemain latihan, saya berbincang dengan Pak Win di pinggir lapangan. Saya tanya, “Kenapa anda ndak coba jual baju-baju latihan seperti ini ke sejumlah klub yang ada di Jatim? Wong buatan anda bagus gitu lho?”

BACA:  Lulut Kistono Tetap Latih Persebaya Meski Tak Ikut Kompetisi

Ndak mungkin diterima mas. Aku iki sopo tho mas?” tegasnya. Ada keraguan dari jawaban yang saya dengar.

Saya yakin karyanya bagus. Saya kasih saran kepadanya. Besok atau beberapa hari ke depan untuk menawarkan hasil pekerjaannya ke beberapa klub di Jawa Timur. Untuk meyakinkan, jersey latihan Persebaya garapannya, saya kembalikan satu untuk dibawa keliling sebagai contoh. Jika masih kurang percaya, saya bilang agar orang klub langsung telepon saya.

Singkat cerita, beberapa minggu setelahnya, saya menerima telepon dari salah satu manajer klub di Jawa Timur. Dia menanyakan apakah benar jika jersey latihan Persebaya dibuat Pak Win? Tentu saja saya menngiyakan dan merekomendasikannya.

Sejak saat itu, saya sering memesan jersey latihan Persebaya sampai Ligina VII saat saya berhenti bertugas.

Saya juga pernah memesan topi untuk tim yang khusus dipakai untuk laga tandang. Setelah saya berhenti bertugas di Persebaya, saya tidak pernah lagi berjumpa dengan Pak Win.

Tanpa sengaja, beberapa tahun kemudian, saya berjumpa lagi dengan Pak Win di bandara Soekarno Hatta. Dia tetap didampingi asisten setianya. Dia masih membuka lapak di SGBK sampai saat itu. Sekarang, dia sudah membeli alat konveksi dan melanjutkan usahanya di Bekasi.

Pak Win bercerita sejak menerima pesanan membuat baju latihan Persebaya, usahanya jadi berkembang pesat. Dia mendapat banyak sekali order membuat baju latihan dan tanding. Saat itu, dia sudah mendapat kepercayaan untuk membuat hampir seluruh baju latihan klub Divisi Utama, Divisi Satu, dan dua kompetisi PSSI. Luar biasanya lagi, saat bertemu dengan saya, Pak Win dan asistennya sedang mengantar dua stel seragam latihan dan satu stel seragam tanding untuk klub berbeda di Sulawesi.

Bukan main senangnya saya melihat keberhasilannya. Pak Win sangat mengakui bahwa tanpa Persebaya, dia tidak mungkin mendapat kesempatan seperti ini.

Demikian besar jaminan mutu nama Persebaya bagi klub lain. Persebaya waktu itu sering menjadi benchmark (tolak ukur) bagi banyak klub di Indonesia.

Itu dulu. Saat ini saya hanya bisa berharap agar Persebaya segera bangkit dari segala permasalahan yang ada. Semua tau Persebaya adalah sebuah brand besar. Persebaya adalah kebesaran itu sendiri di lingkungan sepakbola Indonesia. (*)

*) Edhie RK adalah Bidang Promosi Persebaya di Liga Indonesia III-VII.

Facebook Comments