Apa Salahku Jadi Bonek?

Foto: bonekjabodetabek.com

Akhir-akhir ini, kita mungkin dibuat bingung dan bahkan putus asa dengan kondisi Persebaya. Masalah gugatan kubu sebelah yang masih ngeyel ingin merebut nama dan logo Persebaya, Tim Kecil yang entah apa kinerjanya, atau manajemen yang masih duduk santai tapi gak ada aksi.

Ini tentang pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati saya bahkan mungkin hati pembaca setia EJ: Apa salahku jadi Bonek? Pertanyaan yang tidak akan ditemukan jawabannya. Pertanyaan yang mungkin tidak akan ada ujungnya.

Masih ingat slogan di kaos-kaos yang bertuliskan Dadi Bonek Gak Duso (Jadi Bonek tidak berdosa)? Jika ingat akan slogan tersebut, sepertinya menjadi Bonek bukanlah kesalahan besar, bukan? Lalu, kenapa saat ini kita masih belum merasakan jadi Bonek yang hakiki? Bonek yang benar-benar mendukung Persebaya berlaga di kompetisi resmi, yang pamit dan mencium tangan bapak ibu di rumah sambil berkata: “Pak buk, anakmu pamit dukung Persebaya. Dungakno menang ya”. Lantas, apa yang salah dengan kondisi tersebut?

Kita semua tahu beberapa tahun ini Persebaya dan Bonek sedang dilanda badai masalah yang serius. Masalah dualisme yang sempat terjadi, keretakan sesama Bonek, dan masalah-masalah lain yang belum terselesaikan. Berkaca di awal era 2000-an, rasanya saya ingin kembali ke masa kecil dan merasakan gairah sepakbola Surabaya yang sesungguhnya. Saya ingin melupakan semua masalah yang ada di tubuh Persebaya .

Tapi tuhan berkata lain. Kita diharuskan berada di masa ini. Kita diwajibkan berjuang menyelesaikan masalah yang ada. Bukankah Tuhan selalu bersama orang-orang pemberani? Tuhan selalu bersama Bonek!

Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya Persebaya tanpa Bonek? Apakah kalian bisa bayangkan Indonesia tanpa Persebaya? Persebaya dan Bonek adalah satu kesatuan yang sangat erat. Keduanya tak akan terpisahkan walaupun kita tak peduli sekalipun.

BACA:  Rapat Akbar AB1927: Menpora Bersedia Bantu Selesaikan Masalah Persebaya

Tanpa disadari kekuatan kita bertambah kuat dan berlipat. Maka, kewajiban kita sekarang adalah menyingkirkan benalu-benalu yang telah lama menempel di Persebaya. Agar kelak kita semua dapat merasakan jadi Bonek yang sesungguhnya. Bonek yang mendukung tim dengan segudang prestasi, yang meneriaki pemain dari kursi penonton, dan meneteskan air mata haru ketika kita mengangkat piala. Amin. (*)