Bonek 2.0: Warkop, Gadget, dan Perubahan

Warkop Pitu Likur. (Foto: Fandom.id)

“Semua orang berpikir tentang mengubah dunia, tapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri” – Leo Tolstoy

Generasi telah berubah dengan cepat. Perubahan adalah suatu kepastian. Siapapun berubah. Ada yang menamakan evolusi ada juga yang menyebut revolusi. Semua intinya adalah perubahan. Menuju lebih baik dan bertahan hidup.

Sepakbola menuju era industri. Pun juga para suporternya. Mereka bergerak berubah dan berkembang menjadi lebih dari sekedar menonton di tribun. Berbagai macam gaya ada pada mereka. Tinggal pilih meniru yang sudah ada atau mengembangkan yang baru. Kultur sangat mempengaruhi. Begitu juga era informasi dan teknologi. Tontonan liga luar negeri sedikit banyak membentuk atau mempengaruhi gaya dan perilaku. Belum lagi pengaruh buku-buku atau media cetak dan online. Berbagai komunitas semacam mempunyai “kitab suci” sendiri-sendiri.

Bonek adalah suporter Persebaya Surabaya. Bonek adalah Bonek. Berbagai macam style dan aliran ada di dalamnya. Semua tetaplah Bonek. Era sekarang tidak sama dengan era dulu. Itu poin saat ini. Setiap generasi ada masanya dan setiap masa ada generasinya. Bonek saat ini kalau boleh disebut adalah generasi Bonek 2.0.

Generasi Bonek 2.0 adalah bonek generasi baru. Generasi yang memanfaatkan secara optimal semua fasilitas di jejaring media sosial untuk melakukan gerakan. Warkop atau warung kopi adalah salah satu tempat favorit generasi ini. Menjamurnya warung kopi yang dilengkapi free wifi menjadi alasan mengapa tempat ini menjadi pilihan. Tidak perlu mahal di kafe-kafe franchise luar negeri. Dengan harga kopi terjangkau kantong, banyak aktifitas dimulai dari warkop warkop yang tersebar. Beberapa warkop bahkan mengusung namanya dengan berbagai ikon atau kalimat yang berhubungan dengan Persebaya. Syarat lain warkop itu adalah tersedianya banyak colokan listrik.

Beberapa warkop di Surabaya bahkan dijadikan semacam basecamp beberapa elemen Bonek. Guyub rukun dan rasa egaliter akan berbaur dengan diskusi-diskusi menarik diantara mereka. Asap rokok dan berbagai macam gorengan menemani dengan setia setiap hari. Ada simbiosis mutualisme antara pemilik warkop dan para pengunjungnya. Tidak hanya sepakbola lokal, nonton bareng liga luarpun di adakan di warkop. Meminjam istilah Andie Peci “Mendukung Persebaya adalah kewajiban dan Mendukung klub luar adalah hak”. Bonek bisa “terbelah”. Seperti saat final Liga Champions antara Madrid vs Atletico.

BACA:  Suporter, Cukrik, dan Rasa Paseduluran

Siapa saat ini yang tidak memegang minimal satu gadget atau smartphone? Hampir semua Bonek memegangnya. Bahkan sejak dari anak-anak. Generasi Bonek layar sentuh. Ya, gadget tidak bisa dilepaskan dari generasi Bonek 2.0 ini. Semua informasi mereka dapatkan melalui bantuan teknologi. Baik via media sosial maupun media online. Bahkan beberapa untuk streaming menyaksikan siaran langsung sepak bola. Bonek juga punya Radio AB1927 yang merupakan radio streaming. Juga kadang disiarkan hanya melalui gadget smartphone milik penyiarnya. Begitu juga dengan siaran perdana AB1927 TV via Ustream pada acara Bonek Campus.

Dengan meminum kopi di warkop sambil memegang masing-masing gadget, ini pemandangan yang sangat wajar ditemui di setiap warkop. Bahkan di antara mereka membuka laptop untuk bekerja atau melakukan proses kreatif. Banyak ide kreatif dan perjuangan Bonek berawal dari obrolan ringan di warkop. Berlanjut berkomunikasi via grup WA, BBM, atau media sosial lainnya. Gerakan tersebut akhirnya bisa membesar dan fenomenal. Media sosial adalah kekuatan tersendiri yang tidak bisa diabaikan dan ditinggalkan.

Jaman sudah berubah. Pola pikir dan model gerakan pun menyesuaikan jaman. Tentu saja tetap berpegang pada sejarah yang telah dilewatinya. Tanpa membaca dan mempelajari masa lalu akan sulit menentukan arah masa depan. Selamat datang di dunia Bonek 2.0. Dan kedepan akan datang lagi generasi yang berbeda. Bersiaplah. (*)