Mantan Manajer Persebaya H Agil, Sosok Rendah Hati Namun Berkualitas Tinggi

H Agil H Ali

Abah Agil, begitu panggilan akrabnya. Seorang wartawan dan pimpinan media yang melegenda saat itu. Penampilannya selalu rapi dan perlente. Gaya bicaranya seperti Bung Karno. Meledak-ledak penuh kata-kata kuat dan menggelegar. Memakai kaca mata minus menjadi ciri khasnya. Dialah yang menjadi manajer saat Persebaya menjadi juara Perserikatan tahun 1988.

Yongky Kastanya, salah satu pemain saat itu, menceritakan banyak hal tentang Agil di acara Talk Show Pelaku Sejarah Persebaya yang digelar Bonek Campus, Minggu 22 Mei 2016. Yongky bercerita tentang Abah Agil saat ditanya siapa sosok paling berkesan saat di Persebaya. Bapak Agil, Manajer Persebaya. Manajer 1001 kiat dan akal. Begitu Yongky menyebutnya. Yongky adalah orang Ambon yang memperkuat Persebaya dari klub internal Asyabaab binaan Barmen.

Salah satu kisah yang diceritakan adalah saat melawat ke Makassar. Persebaya datang empat hari sebelum tanggal pertandingan. Karena ada banyak waktu jeda, para pemain senang. Ternyata sampai disana, mereka sudah disambut banyak kegiatan diluar sepakbola yang direncanakan Abah Agil. Mulai mengunjungi panti asuhan, sekolah, dan makam Ramang, seorang legenda PSM Makasar. Tentu saja, semua dilakukan setelah program latihan pagi selesai. Masyarakat Makassar tentu saja kaget. Banyak kegiatan janggal yang dilakukan rombongan Persebaya. Semua di luar kendali kepanitiaan setempat. Ini hal baru saat itu. Kegiatan sosial yang dicetuskan Abah Agil justru dilakukan menjelang pertandingan.

Tibalah saat hari pertandingan. Persebaya tiba di stadion Mattoangin dengan sesuatu yang lebih aneh lagi. Agil memberi saran kepada sopir bis pemain untuk menurunkan rombongan di pinggir lapangan, bukan di depan pintu VIP. Penonton sudah memadati tribun. Semua kaget. Persebaya turun dari bis menggunakan jersey yang sangat lain. Bukan hijau-hijau atau putih-putih. Tetapi memakai jersey kuning biru. Ya, sesuatu yang aneh saat itu. Yongky sampai mendengar teriakan penonton yang mengatakan Persebaya memakai dukun.

Bermain penuh semangat dan sudah mendapatkan “cuci otak” dari Abah Agil di hotel, Persebaya mencatat sejarah di Mattoangin. Puluhan tahun tidak pernah menang di sana akhirnya bisa pulang dengan kepala tegak penuh kebanggaan. Ya, Persebaya mengalahkan tuan rumah dua gol tanpa balas. Sejarah. Setelah pulang dari Makasar pemain Persebaya diarak dari bandara menuju mess pemain seakan-akan mereka juara. Sebuah penghormatan yang layak untuk pencipta sejarah saat itu.

BACA:  Jakarta 2005, Sejarah Kelam Persebaya dan Bonek

Abah Agil tidak bekerja sendirian. Beliau membentuk sebuah tim yang dinamakan Tim Think Thank. Tim berisi para ahli di berbagai disiplin ilmu. Mulai ahli strategi managemen, psikologi, ahli nutrisi, konsultan bisnis, dan konsultan etika. Tim bisa dibilang sebagai paket lengkap saat itu. Beberapa anggotanya diambil dari beberapa perguruan tinggi terkemuka di Surabaya. Jadi, mereka memang ahlinya di bidang masing-masing. Tentu saja saat itu masih didukung langsung oleh Wali Kota Surabaya saat itu dan semua jajaran muspida kota.

Sepakbola ilmu pengetahuan. Ini juga salah satu yang dicetuskan Abah Agil dengan menggandeng beberapa ahli dari perguruan tinggi. Sebuah visi yang sangat jauh ke depan untuk sepakbola Surabaya yang masih di era Perserikatan. Bukan tim profesional (baca: Galatama). Dengan tetap menerapkan disiplin yang sangat ketat. Ada reward dan punishment diterapkan sesuai porsinya ke masing-masing bagian. Segala macam kritikan dan masukan yang disampaikan masyarakat melalui koran mereka anggap sebagai bentuk perhatian dan cinta terhadap Persebaya. Abah Agil sering mengadakan diskusi ilmiah secara terbuka di berbagai universitas. Semua untuk menggali berbagai disiplin ilmu untuk kemajuan Persebaya.

Berkaca dari cerita di atas, manajemen Persebaya bisa menjdikannya pelajaran. Bersikap lebih terbuka dan lebih aktif terhadap pihak luar. Baca dan terimalah semua masukan dan kritik yang ada sebagai salah satu bahan pelajaran. Jadilah sebuah tim yang seperti kata Abah Agil “Low profile high product”. Mulailah mengunjungi para stakeholder bola di Surabaya. Datangi juga para ahli ilmu manajemen, keuangan, marketing, komunikasi, ilmu nutrisi, kedokteran, dan lain sebagainya. Ajak mereka membantu Persebaya menyelesaikan masalah. Minimal mereka bisa berbagi ilmu untuk orang-orang yang ada di dalam tubuh manajemen.

Rendah diri dan mau belajar adalah kuncinya. Jangan menutup diri dan eklusif. Jika Persebaya ingin lebih maju dan modern. Sepak bola saat ini bukan hanya 90 menit di lapangan. Tetapi sudah menyangkut ilmu pengetahuan secara luas. Ada baiknya rangkul semua untuk membuat pondasi awal yang kokoh. Panditfootball pernah menulis tentang sepak bola di Jepang. Mereka memilih mapan dulu dalam semua aspek untuk kemudian bisa eksis di level berikutnya.

Kiat dan cara Abah Agil bisa dicontoh dan disesuaikan sesuai jaman sekarang. Nilai-nilai positif diambil yang kurang diperbaiki. Belajarlah sampai negeri Cina, kata pepatah. Bacalah pertanda jaman.