Surabaya 2055, Kerinduanku Akan Sebuah Kesebelasan

Kembali rasa itu datang. Rasa di mana aku begitu merindukan suatu tempat yang sangat indah. Tribun stadionlah tempat itu. Ya tribun. Mungkin kebanyakan orang akan bertanya, “Di mana letak keindahan suatu tribun?”. Tapi tidak bagiku.

Tribun adalah salah satu tempat terindah di muka bumi ini. Tempat di mana aku bisa belajar setia, belajar mencintai sesuatu, hingga belajar tentang arti sebuah persahabatan. Di tempat itu, beberapa tahun yang lalu aku pernah bernyanyi, menari, berteriak, tertawa bahagia, bahkan menangis haru pun aku pernah. Kini tempat itu senyap, tak ada lagi teriakan, tak ada lagi canda tawa, tak ada lagi suara drum, dan tak ada lagi nyala flare.

Ah, mungkin ini hanya mimpi. Tak biasanya tempat itu sepi tak berpenghuni. Kucubit lenganku dan sakit kurasakan. Tidak, ini bukan mimpi. Aku pun melamun sembari bertanya-tanya, “Apa yang membuat tempat itu ditinggal oleh para penghuninya?”. Pasti ada sesuatu hal penting yang membuat semua ini terjadi.

Tak lama kemudian, aku pun tersadar dari lamunanku dan ingatan itu datang. Dulu 40 tahun yang lalu, pernah ada sebelas orang memakai jersey berwarna hijau yang menjadi kostum kebanggan mereka ketika bertanding sepak bola di lapangan ini. Lapangan sepak bola yang berada tepat di depan tribun tak berpenghuni itu.

Dan kesebelas orang itulah yang membuat puluhan, ratusan, hingga ribuan orang rela datang ke stadion hanya untuk menyaksikan mereka bertanding. Kini pertanyaan lain kembali mengusikku, “apa nama klub sepakbola itu?”. Maklum di usia yang sekarang ini, ingatanku tak sebagus dulu ketika aku masih muda. Semakin aku mengingatnya, semakin sakit ku rasa. Hatiku serasa dicabik kala aku mencoba untuk mengingat nama klub sepakbola itu.

BACA:  Bonek Sejati Bangkitkan Persebaya dari Mati Suri

Tak terasa air mata mengalir di pipiku. Entah apa yang membuat air mata ini begitu mudah keluar hingga aku tak kuasa untuk menahannya.

Lalu, pandanganku tertuju pada sebuah pagar besi yang dibuat sebagai pembatas antara tribun dengan lapangan yang tepat di hadapanku. Di pagar itu tertulis sebuah kata yang mungkin sudah dibuat puluhan tahun yang lalu. Samar-samar namun masih tetap bisa dibaca.

“PERSEBAYA”. Itulah kata yang tertulis di pagar besi tua itu. Kata yang sudah tak asing lagi bagiku. Sedikit mulai sedikit perlahan namun pasti aku mulai mengingat nama klub itu.

Duarrr! Seakan mulutku ingin berteriak namun tidak bisa, PERSEBAYAAAA… Teriakku dalam hati. Air mata kembali bercucuran deras dari mataku. Sambil mengingat memori memori indah bersamanya. Aku pun terlarut dalam rasa rindu. Rindu yang mengusik batinku dan menembus ragaku. Sore itu, 24 September 2055, aku hanya bisa terduduk lemas di salah satu sudut stadion yang bersejarah ini. (*)

*) Fahri Fahrezy (rezyn*****@gmail.com)