Persebaya, Antara Perjuangan dan Kebersamaan

Komunitas Bonek Student Class.

Persebaya adalah perjuangan. Demikian kalimat singkat yang mungkin bisa saya gambarkan sebelum membaca lebih jauh tentang tulisan ini. Sebab sejak awal berdirinya, tim kebanggaan warga Indonesia umumnya dan Jawa Timur khususnya Surabaya ini tak luput dari gonjang-ganjing kepemimpinan yang amburadul, baik dari segi internal maupun eksternal tim.

Surabaya yang dikenal dengan sebutan Kota Pahlawan ini sangat identik dengan perlawanan sejak jaman penjajahan sampai negeri ini merdeka. Dengan kultur berani menyerang dan tangguh bertahan pada keyakinan yang dianggap paling benar. Masyarakat Surabaya paling lantang meneriakkan kebenaran di garda terdepan dan tentunya dibarengi oleh tindakan yang nyata tidak dengan kekerasan dalam setiap aksinya.

Persebaya lebih dari sekedar nama. Begitulah kata arek-arek Bonek yang biasanya bermarkas di Warkop Pitu Likur di Jl. Bagong Tambangan ini. Banyak segala cara mereka lakukan dalam perlawanan. Mulai dari mural, menyebarkan selebaran kertas yang berisi tentang perjuangan, sampai membuat band bernama Scream For Pride (SFP) yang digawangi langsung oleh Capo, Bonek dari tribun utara (Green nord). Dalam setiap aksi pangggungnya, mereka selalu menceritakan apa yang terjadi di tubuh Persebaya dan mengajak masyarakat lainnya untuk menjadi Bonek.

Pandangan masyarakat awam yang terkesan negatif kepada Bonek sebagai biang kerusuhan dan kaum minoritas sebenarnya bisa ditepis dengan apa yang terjadi saat ini. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang intelektual dan berpendidikan. Banyak kita jumpai komunitas Bonek berpendidikan seperti Bonek Student Class, Bonek Campus adalah bukti kecil untuk menunjukkan betapa pentingnya pendidikan di Indonesia. Sedangkan di kaum pekerja, banyak kita jumpai pejabat, artis yang menunjukkan sangat bangganya mereka bisa mendukung dan mengawal tim kebanggaan ini.

BACA:  Persebaya Mengajariku Setia, Nekat dan Berani

Perjuangan Bonek untuk merebut kembali Persebaya patut diacungi jempol. Betapa tidak, setiap aksi yang mereka lakukan tidak satu pun berujung dengan bentrok. Meskipun tak jarang ada pihak-pihak yang mengintimidasi mereka. Tidak hanya aksi di jalan, mereka juga melakukan serangan melalui darat maupun udara. Maksud “darat” adalah langsung mendatangi federasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Yang dimaksud “udara” yaitu melalui jejaring sosial yang saat ini telah menjadi konsumsi utama masyarakat dari segala golongan untuk menyuarakan pendapat. Menurut keyakinan mereka “perjuangan tak akan ada yang sia-sia” .

Faktor sejarahlah yang berbicara sekarang. Mayoritas Bonek lebih memilih mendukung Persebaya yang bermarkas di Karanggayam. Berderet piala yang tertata rapi di wisma Persebaya adalah faktor penting yang membuat mereka mempertahankan klub kebanggaannya dengan segala cara.

Berbicara tentang Persebaya dan Bonek, kurang lengkap jika tidak membahas saat mereka mendampingi persebaya di luar Surabaya. Kekeluargaan, kebersamaan, dan satu rasa ada pada mereka. Susah senang saat perjalanan menuju kota yang akan disinggahi dilakukan bersama. Dari yang sebelumnya saling kenal maupun belum saling kenal. Rasa kebersamaan inilah yang membuat bonek solid seperti saat ini.

Kebanggaan adalah kebanggaan. Semua tak akan surut dan hilang meskipun banyak halang rintang. Semangat mereka tak akan pernah padam. Suara mereka tak akan pernah hilang dan sekali lagi perjuangan tidak akan ada yang sia-sia. Berdoa dan bersabarlah. Persebaya akan kembali secepatnya. Putus asa dan menyerah adalah hal yang sangat memalukan, kawan.

*) Ilham Romadona (ilham*****@yahoo.com)