Bangkitnya Rivalitas Sesungguhnya Antara Surabaya-Malang di Atas Lapangan Hijau

5261
Foto: mirror.co.uk

Momentum itu telah tiba. Klub-klub yang dipaksa mati oleh PSSI kini telah menunjukkan eksistensinya. Dimulai dengan diberikannya sertifikat HAKI kepada PT Persebaya Indonesia (PT PI) yang menandakan tidak ada Persebaya selain yang bermarkas di Wisma Karanggayam. Persibo Bojonegoro sudah mengumumkan skuad resmi untuk mengikuti kompetisi resmi. Kemudian disusul Arema Indonesia yang berada di bawah naungan PT Arema Indonesia (PT AI). Dan yang paling akhir pengumuman kesiapan Persema mengikuti kompetisi resmi di bawah PSSI.

Dengan bangkitnya tim-tim asal Jatim, seakan membuka kembali panasnya rivalitas antar tim-tim Jatim. Namun, di antara sekian banyak derby yang melibatkan tim-tim Jatim, hanya satu derby yang pantas disebut El Classico Indonesia. Tanpa mengesampingkan derby lain di beberapa kota di Indonesia, derby ini adalah perseteruan rivalitas tak berujung antara dua kota besar Jatim. Surabaya sebagai penyandang predikat kota nomor dua di Indonesia yang juga ibukota Jatim melawan Malang sebagai kota nomor dua di Jatim setelah Surabaya.

Berbicara rivalitas Surabaya-Malang dalam konteks sepak bola, tidak hanya tentang Persebaya vs Persema ataupun Persebaya vs Arema. Karena sebelum itu, tercatat beberapa kali tim asal Surabaya bertemu seperti Niac Mitra dan ASGS. Namun tak bisa dipungkiri jika laga yang melibatkan antara Persebaya dengan tim-tim Malang memiliki tensi pertandingan yang sangat sengit bahkan bisa dibilang “ngawur“. Di mana ketika sesi pemanasan sebelum pertandingan dimulai sering terjadi baku hantam antar pemain. Pihak pemain pun pernah jadi korban hingga ada yang sampai matanya buta. Sampai-sampai rivalitas ini melibatkan elit politik waktu itu yaitu Gubernur Jatim Soelarso dengan Ketua Umum Persema Soesamto yang juga Wali Kota Malang. (Baca: Kliping Koran Perseteruan Klub-Klub Asal Surabaya Lawan Persema)

BACA:  Salam dari Aremania untuk Bonek yang Rindu Persebaya

Perseteruan yang tak berujung, gengsi daerah, rivalitas yang pertama kalinya melibatkan elit politik di Jatim. Suporter fanatik dengan militansi sangat tinggi memiliki kultur budaya yang sama-sama keras, ingin saling mengalahkan, dan mendapatkan klaim klub terbaik di Jatim. Faktor-faktor tersebut yang membuat rivalitas Surabaya-Malang pantas mendapatkan predikat derby paling ditunggu masyarakat Jatim bahkan ratusan juta rakyat Indonesia.

Dengan bangkitnya Persebaya, Persibo, Arema, dan Persema, semoga membuat atmosfer sepakbola Jatim kembali bergairah dan semakin menegaskan bahwa provinsi ini merupakan barometer sepak bola Indonesia. Biarkan rivalitas ini terjaga dengan catatan hanya 2 x 45 Menit di atas lapangan. Di luar stadion, kita sama-sama saudara se-Jatim. Karena tidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa. (*)

*) Eka Prasetya Surya adalah Pecinta Persebaya yang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, Malang 

  • Apik cak artikele, aku seneng onok Bonekmania sing berpikiran dewasa. Kudune yo ngono, rivalitas hanya 2×45 di lapangan, selebihnya awak dhewe sik konco-dulur. 🙂

  • Yakin Ainul

    Saat nya bonek lebih dewasa demi persebaya dan nama baik kota surabaya