Belajar Dari Bawahskor, Komunitas Pengarsipan Sejarah PSIM

Acara dialog yang diadakan Bawahskor.

EJ – Jogja menyimpan kenangan manis antara PSIM dengan Persebaya dan Bonek. Ini yang saya tahu dari tulisan Dimaz Maulana, founder Bawahskor, berjudul Jogjakarta, Hubungan PSIM-Persebaya dan Bonek Terjalin yang dimuat di EJ.

Sabtu lalu, tepatnya 25 Juni 2016, saya bertemu Dimaz di Cemeti Art House, sebuah galeri tempatnya bekerja di Jogja. Percakapan yang kami mulai langsung gayeng saat Dimaz menjelaskan bagaimana kelancaran acara yang diadakan komunitasnya bertajuk Turun Minum. Di acara tersebut, dia dan temannya bertindak sebagai pemrakarsa.

Acara ini menghadirkan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Fajar Junaidi yang biasa disapa Mas Fajarjun, Tim dari Kabar Mataram (Katar), PSIM Stats, dan PSIM TV. Mereka membahas media komunitas yang bisa dimanfaatkan untuk nirlaba demi keberlangsungan kelompok kreatif suporter sepak bola nasional.

Saya cukup senang bisa bertemu dan mengenal Dimaz. Kami bertukar ide dan bercerita tentang apa yang akan dan sudah kami laksanakan di kota dan tim masing-masing.

Komunitas Bawahskor sendiri, menurut Dimaz, berdiri sejak 2010. Namun mereka aktif kembali di pergerakan sepakbola seperti melakukan pengarsipan, pameran, dan membuat program mulai 2013. Bawahskor mempunyai semangat dan cara pandang baru tentang sepak bola, terutama untuk tim kebanggaan mereka, PSIM. Mereka juga membuat berita-berita terbaru PSIM dan mengumpulkan sejarah yang berkaitan dengan perjalanan panjang PSIM sendiri. Mereka hadir untuk membantu dan memenuhi hasrat suporter PSIM akan segala info dan berita yang berkaitan dengan tim ini.

Dimaz rela menyisihkan tabungannya agar Bawahskor bisa mandiri dengan memenuhi, membuat, dan berkarya untuk PSIM. Ada kebanggaan yang dia rasakan saat project pertamanya OBA (Open Bawahskor), sebuah event yang mengulas sepak bola Jogja yang diadakan Desember 2015, dapat terlaksana dengan baik. Event yang digelar selama lima hari tersebut tak hanya didatangi Brajamusti dan Maident, pendukung PSIM, namun juga suporter di luar mereka. Semangatnya semakin terlecut ketika dia mempunyai gagasan untuk membuat kelanjutan OBA.

BACA:  Jogjakarta, Hubungan PSIM-Persebaya dan Bonek Terjalin

Melihat dan mendengar celoteh khasnya yang unik, saya menyimpulkan jika Dimaz adalah orang yang mampu memanfaatkan kesempatan untuk mengeksplorasi hal-hal lain namun masih mempunyai korelasi dengan Bawahskor yang dia kemudikan sendiri. Termasuk dengan membuat clothing merchandise Bawahskor yang lebih umum. Tujuannya untuk menopang kelanjutan project Bawahskor. Saya mendengar rencana Dimaz yang akan mengadakan acara Turun Minum di kota lain. Dia juga berencana mengisi sesi presentasi tentang Bawahskor di Perpustakaan Indie, C2O di Surabaya.

Meski bendera dukungan saya berbeda dengan Dimaz, saya cukup beruntung mengenalnya. Setiap bertemu, saya menyempatkan untuk sharing ide dan pengalaman dengannya.

Meski sendirian, Dimaz mampu berkarya dan terus melangkah untuk kemajuan suporter lokal dan tim kebanggaannya. Dia melakukannya di tengah gersangnya induk cabang sepak bola yang saat ini mengalami kemunduran.

Melihat sepak terjang Dimaz dan Bawahskor-nya, apa iya saya dan teman-teman hanya duduk diam, memantau media sosial tanpa mau maju dengan berkarya untuk Persebaya? Mumpung Persebaya belum bangkit sepenuhnya, anggap saja ada hikmah di balik ini semua. Kelak, kami bisa menentukan akan seperti apa kami sebagai suporter Persebaya. Kami akan berusaha mendukung Persebaya tak hanya dalam tribun, tetapi juga mampu berkontribusi di luar tribun. (nin)