Bonek Gresik Titip Kangen untuk Persebaya

Komunitas Bonek Gresik saat acara bagi-bagi takjil.

EJ – Di bawah langit Gresik yang basah karena hujan, do’a bergaung dan cahaya lilin berpendar membentuk angka 1927. Selasa, 28 Juni 2016, puluhan bonek yang berasal dari Gresik berkumpul guna “Titip Kangen untuk Persebaya,” setelah selesai melaksanakan kegiatan berbagi takjil yang diadakan Bonek Domas, Menganti.

Beberapa elemen Bonek berkumpul menjadi satu untuk menyelaraskan visi dan misi. Gresik, kabupaten sebelah barat Surabaya ini memang memiliki banyak pendukung Persebaya. Mulai dari pelosok hingga ke jantung kota. Jumlahnya ribuan. Ada yang masih remaja, ada juga yang telah berkeluarga. Bonek memang dikenal lahir di Surabaya. Tapi nyatanya, di luar Surabaya pun Bonek tumbuh dan berkembang menjadi sebuah semangat yang dihimpun. Mereka menjelma sebagai kelompok/komunitas Bonek.

Di seberang jalan, terbentang spanduk bertuliskan “GRESIK KANGEN PERSEBAYA”. Bonek pun bernyanyi bersama dengan koreo ala stadion.

Bukan tanpa alasan mereka melakukannya. Sebuah kerinduan yang tak ada habisnya pada tim kebanggaan membuat mereka terus membakar semangat. Sebagai Bonek, mereka mutlak telah menjadi lebih dari sekedar suporter. Terbukti dengan dukungannya yang tidak hanya di dalam stadion saja. Bonek di Gresik adalah potret kecil aktifitas bonek-bonek di luar kota.

Flare menyala merah setelah acara bag-bagi takjil selesai.
Flare menyala merah setelah acara bag-bagi takjil selesai.

Melihat aktifitas Bonek di Gresik, tentu juga di kota-kota lainnya, mendukung Persebaya memiliki banyak cara. Mungkin ini yang maksud dengan emosi jiwa. Sayangnya, seringkali kegiatan-kegiatan positif yang digalakkan Bonek semacam ini tidak laku di media mainstream. Brutal, tukang rusuh, atau segala yang buruk seolah menarik diberitakan jika itu berhubungan dengan Bonek. Adilkah? tentu saja tidak. Misalnya yang terjadi di Gresik tempo lalu, ketika beberapa orang yang hendak menonton sepak bola di Stadion Tri Dharma, yang memakai atribut Bonek dilepas oleh petugas. Alhasil beredar foto setumpuk atribut Bonek di sosial media. Di sini penulis tidak menghakimi dan menunjukkan siapa yang benar dan salah. Tetapi, ada apa dengan Bonek? Kenapa Bonek diperlakukan seperti itu? Apakah suporter lain juga?

BACA:  Gresik Kangen Persebaya

Segala aktifitas Bonek yang membawa massa besar, selalu dijaga ketat oleh petugas. Kenapa? Ayolah, pak. Mengertilah. Bonek sudah lama mengerti mana yang baik dan mana yang tidak. Bonek berkumpul bersama bukan tanpa alasan. Mereka hanya ingin bela Persebaya! Penulis jadi curiga jangan-jangan petugas semacam ini tidak menyadari bahwa Bonek juga ciptaan Tuhan.

Kabupaten dan kota Indonesia saat ini ibarat tribun bagi Bonek. Mereka memiliki ribuan Bonek yang telah berkoordinasi dan kembali membela Persebaya 30 Juni 2016 besok. Dari Gresik, mereka telah bersiap untuk berangkat bersama-sama. Kecintaannya yang amat besar terhadap Persebaya memang tidak bisa dibendung. Musuh mereka hanyalah rasa lelah. (irf)