Klub Internal Harus Bersatu Pecat Cholid Sebagai Dirut Persebaya

Klub-klub internal dituntut peran aktifnya untuk membangkitkan Persebaya. Sebagai pemilik Persebaya sekaligus pemegang saham PT Persebaya Indonesia (PT PI), klub internal harus berani menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk memecat Direktur Utama PT PI, Cholid Goromah. Pemecatan Cholid diharapkan mampu membangkitkan Persebaya.

Selama ini, Cholid terbukti gagal mengemban amanat menjadi Dirut. (Baca: Tujuh Dosa Cholid Goromah Sehingga Membuatnya Layak Dipecat Sebagai Dirut Persebaya) Sebagai Dirut, Cholid tidak mempunyai terobosan baru dan miskin inovasi dalam membangkitkan Persebaya. Padahal posisi Dirut adalah posisi nomor satu di manajemen. Roda organisasi sebuah manajemen akan berjalan jika Dirut-nya bekerja layaknya pemimpin.

Ibarat mobil, posisi Dirut adalah sopir. Jika sopirnya malah gak bisa nyopir, mobil gak akan jalan. Jika mobil tersebut adalah Persebaya, maka klub-klub internal adalah para penumpangnya. Tentu penumpang berharap mobil yang ditumpanginya bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Saat ini mobil Persebaya dituntut untuk sampai ke tujuan dengan medan terjal, kanan-kiri jurang, dan jalan berliku. Sopir yang bisa membawa mobil bernama Persebaya dengan baik adalah sopir yang handal dan lincah dalam bermanuver.

Selama ini, sopir Persebaya bernama Cholid terbukti sopir yang tidak becus bekerja. Dia adalah sopir gagal. Akibatnya, mobil tak mampu bergerak kemana-mana. Dan anehnya, sopirnya malah tidur. Semakin aneh lagi, penumpangnya juga ikutan tidur. Padahal di belakang mobil tersebut ada jutaan Bonek yang rela mendorong mobil tersebut.

Coba tanyakan kepada Cholid, apa yang sudah diperbuatnya untuk Persebaya. Para pemilik klub internal sebaiknya meminta Cholid menuliskan daftar keberhasilannya selama memimpin manajemen. Jika Cholid berhasil, tentu mudah membuat daftarnya.

BACA:  Akta Pasca RUPS PT PI Belum Diubah, Saleh dan Cholid Masih Pemegang Saham Mayoritas

30 pemilik klub internal harus segera bergandengan tangan. Tidak waktunya lagi saling bertengkar mementingkan ego masing-masing. Jika Persebaya bisa bangkit, tentu mereka akan merasakan dampak positifnya. Kompetisi internal akan bisa berjalan dan menghasilkan bibit-bibit pemain untuk Persebaya. Pembinaan pemain akan berjalan dengan baik. Anak-anak muda di Surabaya bisa kembali bermimpi bermain untuk Persebaya. Klub-klub internal akan menjadi jalan bagi anak-anak tersebut untuk mewujudkan mimpi indahnya.

Rusdi bahalwan, Soebodro, Rudi Keltjes, Syamsul Arifin, Mustaqim, Bejo Sugiantoro, dan masih banyak lagi adalah produk binaan klub-klub internal. Lihatlah Andik Vermansyah yang dulu juga mengawali karirnya di klub internal Persebaya. Penyerang enerjik itu sekarang menjadi andalan FC Selangor, Malaysia.

Sekarang, klub-klub internal bagai mayat hidup yang bergentayangan. Tak ada kegiatan karena tak adanya kompetisi internal yang digelar manajemen Persebaya. Apakah mereka akan bertahan dengan kondisi seperti ini? Jika mereka masih punya akal sehat, maka kondisi seperti ini harus dilawan. Jangan biarkan Persebaya tersandera demi orang-orang yang mementingkan egonya.

Keberanian adalah DNA orang-orang Surabaya. Lihatlah para pejuang kita yang berani menyobek bendera tiga warna Belanda di Hotel Yamato. Malulah kepada mereka yang berani melawan kesewenang-wenangan penguasa. Atau tak usah jauh-jauh, lihatlah bagaimana Bonek berani melawan orang-orang yang berniat menenggelamkan Persebaya. Tanpa mementingkan ego, Bonek rela berjuang demi Persebaya. Mereka rela kepanasan dan kehujanan demi klub kebanggaan. Relakah anda dikenal sebagai kumpulan orang-orang pengecut yang diam saja ketika Persebaya dikuasai orang-orang yang tidak becus bekerja?

Maka, segeralah bergerak. Bonek akan di belakang kalian jika kalian mau dan berani berjuang demi Persebaya. (*)