Pernyataan SIM, Pintu Masuk Pemkot dan Klub Internal Selesaikan Masalah Persebaya

Foto: avnation.tv

Perlahan tapi pasti, semua pintu satu per satu mulai terbuka. Sekalipun masih sedikit terbukanya. Semua butuh proses dan energi yang sangat besar dan kesabaran yang lapang dalam menjalaninya. Takkan ada kata lelah adalah aplikasi yang pas untuk memberi sebutan untuk apa yang telah mereka jalani bertahun-tahun ini.

Tidak punya tontonan atau hiburan, tidak punya “pelarian” untuk sekedar berteriak di tribun, tidak juga punya tempat untuk berkencan di akhir pekan dengan melihat tim kesayangannya bermain. Itulah nasib yang dialami Bonek dalam beberapa tahun ini. Seperti yang bisa dilihat selama ini, mereka tetap eksis dengan berbagai gerakan dan kegiatan. Kadang sedih melihatnya. Tapi tidak bisa tidak kita harus menaruh hormat yang tinggi buat mereka. Suporter sepak bola tanpa klub yang konsisten dan istiqomah memperjuangkan harga diri dan kehormatan Persebaya. Ya, Persebaya Surabaya.

Setelah melakukan aksi besarnya pada 30 Juni kemarin, saat ini Bonek masih disibukkan dengan perayaan hari raya idul fitri 1437 H. Banyak yang pulang kampung keluar Surabaya. Banyak pula bonek yang balik ke Surabaya. Semua ingin mengisi hari-harinya untuk keluarga besar mereka. Energi mereka dapat dipastikan akan kembali penuh untuk kembali memperjuangkan Persebaya. Bagi Bonek, Persebaya adalah hal lain yang selalu membuat mereka tergerak dan berjuang untuknya.

Pintu masuk Pemkot ke manajemen PT PI

Sekitar empat hari jelang hari raya, ada pernyataan Saleh Ismail Mukadar (SIM) di Facebook. Jika sebelumnya ada berita di EJ bahwa hasil RUPS belum juga ada akta perubahannya, maka SIM membuat pernyataan seakan-akan akta perubahan sudah ada. Dia mengatakan bahwa yang bisa mencabut atau meminta dirinya melepas 15 persen saham dan keluar Persebaya hanya Wali Kota dan para pemilik klub internal Persebaya.

Artinya, ada satu pintu lagi terbuka untuk perubahan dalam manajemen klub. SIM mengatakan jika ada surat kuasa dari Wali Kota yang ditujukan untuknya, dengan sukarela dia akan mengembalikan saham miliknya secara gratis. Tetapi pernyataan SIM tidak serta merta bisa dipercaya. Sudah berkali-kali dalam banyak kesempatan ucapan SIM hanya omong kosong. Dia dengan mudah memutar balikkan pernyataan awal. Sudah sangat sering SIM melakukan itu.

Yang paling menjadi kunci di sini adalah kemauan dan keberanian Wali Kota dalam hal ini Risma sebagai pemangku jabatan tertinggi di Surabaya untuk bisa mengartikan pernyataan SIM tersebut. Sebagai “pemilik” Persebaya saat perserikatan (perkumpulan) 30 klub internal, sekarang saat yang tepat untuk menyatukan mereka kembali. Bukan sebagai perserikatan tapi Pemkot/Walkot bisa menjadi fasilitator atau memediasi semua pihak untuk kembali membuat Persebaya bangkit.

BACA:  Dua Kartu Merah, Duel IM dan Anak Bangsa Berakhir Imbang

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan Pemkot untuk membangkitkan Persebaya. Pertama adalah membuat atau membentuk manajemen baru dalam PT Persebaya Indonesia (PT PI). Mengocok ulang komposisi saham kepemilikan PT PI agar bisa membuat unit usaha yang bisa bergerak fleksibel sebagai pengelola klub sepak bola. Hitung ulang nilai saham sesuai dengan kondisi sekarang dengan nilai wajar. Berdiskusi dan menentukan langkah apa yang akan diambil dengan pemilik asli Persebaya yaitu para pemilik 30 klub internal. Tentu saja melibatkan stakeholder sepakbola lainnya.

Jika melihat 30 klub yang ada, sangat mustahil jika menyerahkan kepada mereka untuk menghidupi PT PI dalam menjalankan organisasinya. Pemkot bisa menawarkan jalan lain. Bisa membentuk konsorsium pengusaha Surabaya untuk memiliki sebagian saham PT PI dan menjadi bagian yang mengelola klub. Atau melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk masuk ke PT PI. Ambil yang paling baik dan menguntungkan. Tentu saja harus sesuai dengan peraturan perundangan yang ada agar tidak melanggar satupun peraturan pemerintah.

Kebesaran hati para pemilik klub internal

Langkah di atas bisa diambil juga harus dengan kebesaran hati dari para pemilik klub internal. Jangan keras kepala dan menutup diri. Buka mata dan telingga. Sejak 2009 saat dimana PT PI didirikan, SIM dan CG telah gagal menjalankan fungsinya sebagai pucuk pimpinan perusahaan. Jika memang tidak ada orang yang sanggup dari pihak internal, ambilah orang dari luar. Tentu saja dengan menjual sebagian saham kepada pihak luar. Ini jalan terbaik dalam sepak bola industri sekarang ini.

Selama ini, SIM dan CG selalu berlindung bahwa mereka dipaksa klub internal untuk tetap menduduki jabatannya dan pemilik sahamnya. Hanya dengan kebesaran hati klub internal, akan terlihat apa benar SIM dan CG berlindung di balik 30 klub. Sudahlah, jika memang semua berfikir tentang Persebaya, lupakan semua kemunafikan dan ego masing-masing. Sekarang waktunya. Momen setelah hari raya ini adalah waktu yang tepat.

Lihatlah Bonek yang berada di luar pagar. Mereka dengan nyali dan hati selalu memperjuangkan Persebaya baik di pengadilan maupun di hadapan federasi. Bonek telah siap ke Jakarta untuk itu. Akankah langkah Bonek yang selalu maju tidak juga diimbangi langkah klub internal?

Semoga klub internal sadar bahwa selama ini mereka hanya dibuat selimut oleh manajemen di bawah SIM dan CG. Bangkitlah! Persebaya hanya akan bangkit dimulai dari sikap dan tindakan kalian. Untuk Persebaya yang lebih baik, bonek akan selalu ada untuk manajemen baru nanti. Revolusi Persebaya!