Bonek Estafetan, Tradisi Lama Yang Muncul Kembali Jelang Gruduk Jakarta

Bonek estafetan.

EJ – Koko, seorang suporter PSS Sleman, dalam cuitannya (17/7) mengatakan jika dia baru saja melihat puluhan Bonek menuju Jakarta melewati kotanya.

“Terlihat puluhan Bonek sudah estafet ke arah barat. Selamat berjuang dab. Perjuangkan apa yang anda yakini,” cuit Koko.

Estafet yang dimaksud Koko adalah tradisi yang dilakukan Bonek menumpang kendaraan untuk menuju ke suatu tempat.

Istilah estafet diambil dari cabang olahraga atletik, yakni lari estafet. Maksudnya, Bonek bergantian naik moda angkutan apa saja yang ditemui menuju kota dan atau stadion di mana Persebaya akan bermain. Kereta barang, kereta kontainer, truk, mobil box, mobil pribadi, semua yang bisa mereka tumpangi dengan gratis atau membayar seikhlasnya kepada sopir.

Bonek memang berencana menuju ke Jakarta untuk melakukan aksi demo di kantor PSSI dan Kemenpora. Aksi berjuluk Gruduk Jakarta ini akan diadakan 2-3 Agustus 2016.

Bagi yang punya dana lebih untuk berangkat ke ibukota, mereka beramai-ramai membeli tiket angkutan umum, seperti pesawat, kereta api, atau bus. Namun bagi yang dananya cekak, mereka melakukan estafetan. Tentu mereka harus berangkat jauh sebelum waktu aksi. Karena estafetan membutuhkan waktu lebih lama ketimbang berangkat menggunakan angkutan umum.

Istilah Bonek mungkin menginspirasi tradisi estafetan ini. Bonek atau Bondo Nekat, bisa diartikan modal tekad dan keyakinan yang besar untuk mencapai cita-cita atau tujuan. Seringkali seseorang khususnya dari Surabaya saat ditanya bagaimana dia sukses dalam pekerjaannya, mereka mengatakan dengan bonek saja atau nekat.

Jika dikalangan pendukung Persebaya, mbonek merupakan kata kerja. Dimana mbonek artinya berangkat kemanapun untuk mendukung Persebaya bermain. Mungkin inilah satu-satunya sebutan bagi kelompok suporter yang bisa diplesetkan menjadi kata kerja versi slang.

Sebagai Bonek dengan passion tinggi terhadap Persebaya namun masih kekurangan dana, mereka estafetan bermodal nekat. Bukan berarti mereka tak membawa uang sama sekali. Namun uangnya tidak cukup untuk transportasi. Mereka biasanya hanya membawa uang untuk membeli tiket masuk stadion. Atau mereka patungan sesama rombongan.

BACA:  Jihad Bonek demi Persebaya

Memang, kelompok Bonek estafetan saat Persebaya bertanding tidaklak sebanyak tahun-tahun lalu. Perubahan tata cara dan karakter mbonek terus terjadi. Namun, hal itu tidak menghilangkan tradisi estafetan di beberapa kelompok Bonek.

Jangankan cuma Jakarta atau Pulau Jawa, luar pulau saja banyak yang mereka capai dengan estafetan.

Slamet, salah satu bonek, pernah bercerita jika dia pernah melakukan estafetan dari Surabaya menuju Banda Aceh. Belum lagi saat away ke Kalimantan dan Sulawesi. Untuk naik kapalnya mereka tetap membayar tiket. Jadi estafetan bukan sama sekali tanpa biaya alias gratis tetapi mereka mengambil cara dengan memilih biaya seminimal mungkin sesuai kantong mereka. Dari sinilah Bonek dikenal memiliki modal dan tekad yang kuat untuk Persebaya.

Tradisi ini lahir saat moda transportasi belum sebanyak sekarang. Kesejahteraan ekonomi waktu itu belum seperti sekarang.

Resiko dalam estafetan sangat banyak dan besar. Nggandol kendaraan terbuka sangat rentan jatuh dan terkena hujan dan panas saat perjalanan. Belum lagi waktu yang dibutuhkan pasti lebih lama. Kendaraan yang akan ditumpangi tidak tahu jadwal keberangkatan dan akan berhenti di mana.

Butuh waktu untuk mengurangi jumlah Bonek yang melakukan estafetan. Dibutuhkan kesabaran dari para sesepuh untuk membimbing dan mengarahkan adik-adiknya menggunakan cara lebih aman dan baik. Bukan lantas melabeli mereka dengan istilah yang kurang baik. Niat mereka adalah baik namun cara yang diambil kurang aman. Ya, keamanan mereka sendiri selama perjalanan. Lalu lintas kendaraan yang semakin padat bisa menjadi dua sisi yang tajam. Satu sisi pilihan untuk estafetan semakin banyak, di sisi lain kecelakaan jalan raya juga tidak malah berkurang. Ini sudah semestinya menjadi bahan evaluasi bersama.

Fenomena mbonek adalah estafetan. Sebuah cara sebuah cerita. Mari membuka lembaran demi lembaran baru untuk masa depan lebih baik. Aman, nyaman, dan bahagia saat menonton Persebaya. Seperti banyak kalimat terkenal dari Bonek: “Budhal moleh slamet”. Demi Persebaya selamanya. (bim)