Kisah-Kisah Di Balik Gruduk Jakarta Yang Dibuang Sayang

Soni Solikin berpose berlatar belakang pesawat yang akan dia tumpangi.

EJ – Dua kisah berikut ini mungkin tidak terasa mengharukan seperti kisah-kisah di balik Gruduk Jakarta sebelumnya. Namun, kisah-kisah ini memberi pengalaman tersendiri bagi mereka yang bisa saja menginspirasi. 

Naik Pesawat Pertama Kali Demi Persebaya

Saya memutuskan naik pesawat ke Jakarta mengikuti aksi Bonek. Ini adalah pengalaman pertama saya naik burung besi. Saya mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Dari Bandara, saya naik bus jurusan Priok. Kemudian saya mencari Gojek yang akan mengantar saya ke Stadion Tugu di Jakarta Utara.

Di stadion, saya bertemu dulur-dulur Bonek se-Indonesia dan luar negeri. Setelah aksi Gruduk Jakarta berakhir, saya dan beberapa teman pergi ke Monas. Di sana, saya menyalurkan hobi saya mencari pokemon dan selfie.

Tak terasa waktu sudah malam. Teman-teman memutuskan pergi ke Stasiun Pasar Senen karena jadwal kereta mereka menanti. Saya pun terpisah.

Saya memutuskan pergi ke rumah saudara dan beristirahat sampai keesokan harinya. Paginya, saya berangkat ke bandara untuk menunggu pesawatt yang akan mengantar saya ke rumah. Sambil menunggu jadwal take-off, saya kembali mencari pokemon dan selfie.

Terus, lucunya di mana? Gak ada. Sekian. (*)

*) Soni Solikin (soni_*****@yahoo.com)

Bapak-Bapak Beri Kami Makan dan Minum di Kereta

Setelah aksi Gruduk Jakarta berakhir, saya naik kereta. Saya membeli tiket sendiri sehingga terpisah dari rombongan Bonek yang pulang ke Surabaya. Hanya ada satu dulur Bonek yang berasal dari Lumajang.

Di dalam kereta, saya duduk bersebelahan dengan bapak-bapak. Berikut percakapan saya dengan bapak itu.

Bapak (B): Mau kemana, Mas?
Aku (A): Mau balik ke Probolinggo, Pak.

BACA:  Nama Besar Persebaya dan Bonek Bikin Maskapai Ganti Tiket Saya Yang Hangus

B: Dari mana?
A: Habis ikut demo di Jakarta soal tuntutan Persebaya ke PSSI.

B: Oalah, rombongan Bonek ta, Mas?
A: Iya pak (karo ngguyu)
B: Yo Alhamdulillah Mas. Persebaya wes diakui. Salut gawe perjuangane arek-arek. Pancen nek musuh wong elit iku kudu di gruduk bareng-bareng.

A: Iya Pak. Bapak mau kemana?
B: Saya mau ke Banyuwangi. Nanti naik kereta lagi dari Stasiun Gubeng. Kalau dari Stasiun Pasar Turi ke Stasiun Gubeng naik apa? Ojek ada, Mas?
A: Ada Pak.

B: Berapa kira-kira ongkosnya?
A: Waduh, kurang tahu Pak. Mending bapak ikut sama saya saja. Tapi bonceng tiga. Soalnya ada anak Bonek Lumajang yang mau nebeng juga.

B: Bener gak papa ta Mas?
A: Iya gak papa Pak. Soalnya satu arah juga. Tapi gak papa kan bonceng bertiga?
B: Iya gak papa Mas.

Selama perjalanan, saya kemudian diberi makanan dan minuman. (Jelas iki rejeki anak sholeh soale duwek yo wes entek). Setelah sampai di Surabaya, saya mengantar bapak itu ke Stasiun Gubeng. Meski bertiga. (*)

*) Latifand Hakim (latifand*****@gmail.com)