Analisis Finansial Stadion GBT sebagai Pendapatan Persebaya

1792
Stadion GBT. (Foto: Tribunnews.com)

Kebangkitan Persebaya Surabaya membangkitkan euforia seluruh pendukung klub berjuluk Bajol Ijo ini. Antusiasme bonek (suporter fanatik Persebaya) yang tinggi dalam menyambut musim kompetisi 2017 dapat dijadikan salah satu sumber pendapatan klub. Biaya operasional rata-rata klub Indonesia yaitu antara Rp 24-30 Miliar per musim (ISL) tentu saja harus diimbangi dengan pendapatan klub yang digunakan untuk menutup biaya operasional tersebut. Klub Persebaya Surabaya sudah memiliki modal bagus yaitu fanatisme yang tinggi dari Bonek.

Analisis finansial yang dilakukan dilandasi oleh beberapa asumsi di mana harga tiket ekonomi sebesar Rp25.000, Very Important Person (VIP) sebesar Rp100.000, dan Very Very Important Person (VVIP) sebesar Rp150.000 dan diasumsikan naik sebesar 16 persen tiap dua tahun karena pengaruh inflasi. Kapasitas yang diasumsikan digunakan yaitu sebesar 50.000 tempat duduk (lihat Tabel 1).

Tabel 1 Asumsi Pendapatan

tabel1

Catatan: 1) Pada musim pertama terdapat 8 laga kandang (5 babak reguler dan 3 babak 8 besar. Hal ini mengacu pada jumlah peserta grup yang diberlakukan pada kompetisi ISC B 2016; 2) Musim kedua sampai seterusnya diasumsikan Persebaya bermain di ISL dengan menggelar 17 pertandingan kandang; 3) Tarif tiket dan jumlah penonton yaitu tarif tiket dan jumlah penonton per satu pertandingan; 4) Tidak termasuk pertandingan Pra-Musim; 5) Seluruh pertandingan Persebaya selama periode tinjauan (20 tahun) dilakukan di Stadion GBT.

Asumsi biaya yang dikeluarkan untuk tiap pertandingan yaitu Sewa Stadion sebesar Rp90 juta, Keamanan dan Kebersihan sebesar Rp 20 juta, Cetak tiket sebesar Rp15 juta, dan Promosi pertandingan sebesar Rp10 juta dan diasumsikan naik sebesar 16 persen tiap dua tahun karena pengaruh inflasi (lihat Tabel 2).

Tabel 2 Asumsi Biaya

tabel2

Catatan: 1) Pada musim pertama terdapat 8 laga kandang (5 babak reguler dan 3 babak 8 besar. Hal ini mengacu pada jumlah peserta grup yang diberlakukan pada kompetisi ISC B 2016; 2) Musim kedua sampai seterusnya diasumsikan Persebaya bermain di ISL dengan menggelar 17 pertandingan kandang; 3) Tarif tiket dan jumlah penonton yaitu tarif tiket dan jumlah penonton per satu pertandingan; 4) Tidak termasuk pertandingan Pra-Musim; 5) Seluruh pertandingan Persebaya selama periode tinjauan (20 tahun) dilakukan di Stadion GBT.

BACA:  Jangan Rekrut Pemain Besar, Optimalkan Pemain-Pemain Internal

Hasil perhitungan menunjukkan pada 2017 Persebaya memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp 10,92 Miliar dan diproyeksikan terus naik hingga 2036 yaitu sebesar Rp 63,78 Miliar. Nett Present Value (NPV) dari analisis finansial pengelolaan Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) selama masa tinjauan 20 tahun yaitu sebesar Rp 341,73 Miliar. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil Perhitungan

tabel3

Sumber: Hasil Perhitungan, 2016.

Catatan: 1) Seluruh penonton masuk menggunakan tiket/ tidak ada jebolan; 2) NPV merupakan keuntungan bersih proyek yang diukur menggunakan nilai saat ini (tidak memasukan unsur inflasi).

Catatan Penutup

  1. Pendapatan yang diperoleh dari tiket masuk stadion sebesar Rp 10,92 Miliar pada 2017 dan Rp 23,20 Miliar pada 2018 dapat menunjang sebagian besar biaya opersional klub Persebaya.
  2. Investor yang mengelola Persebaya mendapat keuntungan yang besar jika dilihat dari aspek finansial. Pendapatan yang dihitung belum termasuk pendapatan lain seperti sponsor, hak siar televisi, dan penjualan merchandise
  3. Keberlangsungan liga harus konsisten, hal ini berdampak pada kemudahan dalam pengaturan jadwal penyewaan stadion. Selain itu, bonek sebagai pendukung Persebaya diharapkan untuk kooperatif dengan membeli tiket resmi dan tidak mengharapkan jebolan demi keberlangsungan klub Persebaya.

*) Megatru Raka Pamungkas (rakapamu*******@gmail.com)