Logika Aremania: Apapun Kerusuhannya, Salahkan Bonek

Mobil yang ditumpangi pelatih Madura United, Gomes De Oliveira, dirusak Aremania saat perjalanan pulang.

Kejantanan suatu kaum diukur apakah kaum itu mau mengakui kesalahannya saat mereka bersalah atau tidak. Kaum pengecut adalah mereka yang suka lempar batu sembunyi tangan. Tak mau mengakui kesalahan tapi malah menuduh orang lain bersalah.

Sebuah peristiwa memalukan terjadi di Stadion Kanjurahan saat pertandingan antara Arema Cronus melawan tamunya Madura United (MU), Jumat, 2 September. Dikatakan memalukan karena Aremania, selaku pendukung tuan rumah, malah menyerang tamunya, K-Conk Mania yang notabene pendukung MU. Mereka melempari tribun yang digunakan K-Conk Mania.

Hal itu dikatakan Presiden K-Conk Mania, Jimhur Saros. “Saat pertandingan berjalan dengan skor 1-0 untuk Arema dan kemudian dibalas Madura United 1-1, pada saat itu Aremania menyerang suporter Madura United yang entah bagaimana terjadi keributan.”

Jimhur juga menyatakan bahwa kondisi stadion sangat mencekam. Tak hanya di dalam stadion, penyerangan kepada mereka juga dialami saat perjalanan pulang menggunakan dua bus saat memasuki kawasan Singosari, Malang. Penyerangan itu menyebabkan kaca depan dan samping pecah.

Pelatih MU Gomes De Oliveira tak luput menjadi sasaran penyerangan Aremania. Mobil operasional yang ditumpanginya juga dilempar batu sehingga menyebabkan kaca belakang pecah.

Peristiwa penyerangan itutak lantas membuat Aremania meminta maaf. Dalam sebuah wawancara di sebuah media, Amin, salah satu pentolan Aremania Korwil Jalur Gaza Pasuruan, malah menyalahkan sikap K-Conk Mania sebagai tamu.

“Kalau sikapnya sebagai tamu, harusnya sopan gak pakai goyang yang mengejek. Kemarin itu suporter Madura terlalu provokasi, sebagai tamu harus sopan,” kata Amin kepada beritajatim.com.

Pernyataan Amin ini sungguh aneh. Sebuah provokasi dengan mengejek dalam sepak bola adalah wajar. Asal tidak dilakukan dengan kekerasan dan tujuannya untuk melemahkan mental lawan saat bertanding, hal itu bisa dibenarkan. Jika tidak siap menghadapi itu maka jangan bermain sepak bola tapi bermainlah catur atau karambol.

Amin juga menuduh jika Bonek menyusup ke dalam K-Conk Mania dan kemudian memprovokasi Aremania sehingga menyebabkan peristiwa penyerangan itu terjadi.

Lagi-lagi, Bonek disalahkan. Sebuah sikap pengecut yang menunjukkan sikap tidak mau mengakui kesalahan. Mencari kambing hitam adalah sebuah cara mudah untuk mengelak. Selama ini, Bonek kerap dituduh di belakang aksi kerusuhan. Jadi melempar tuduhan kepada Bonek adalah cara mudah tanpa mau berpikir panjang.

Padahal, sebuah permintaan maaf kepada korban adalah tindakan jantan yang mudah dilakukan. Namun menjadi berat karena Aremania sudah sering berkoar-koar bahwa mereka adalah suporter terbaik se-Indonesia. Meminta maaf berarti mengakui bahwa mereka pelaku penyerangan. Aremania sering menggunakan kata oknum untuk menyebut para pelaku. Sangat disayangkan di saat Aremania berbuat kebaikan, mereka langsung diakui sebagai bagian dari kelompoknya. Sementara saat berbuat kerusuhan, mereka tak pernah sekalipun dianggap.

BACA:  Berawal Dari Ajakan Nonton Persebaya, Saya Berubah dari Aremania Menjadi Bonek

Di masa lalu, Bonek pernah berbuat kesalahan. Kekerasan demi kekerasan sering dilakukan Bonek dalam beberapa tahun. Tak heran, citra Bonek kemudian memburuk. Perseteruan dengan suporter klub lain juga terjadi. Imbasnya, Bonek dikucilkan dan dijauhi di dunia sepak bola tanah air. Apalagi kemudian klub kebanggaan Bonek, Persebaya, tidak mengikuti kompetisi resmi apapun. Nama Bonek semakin tenggelam.

Namun, ada hikmah di balik sebuah peristiwa. Bonek perlahan mulai berbenah. Saat Persebaya vakum dari kompetisi, Bonek berusaha memperbaiki diri. Mereka sering melakukan hal-hal positif yang berguna bagi masyarakat. Kegiatan seperti bakti sosial, pembagian takjil saat ramadhan, mengunjungi panti asuhan dilakukan Bonek sembari menunggu Persebaya bangkit.

Bonek juga mulai menjalin komunikasi dengan suporter klub lain yang di masa lalu sempat berseteru. Pasoepati, The Jak, bahkan suporter Persela, Curva Boys 67, sudah menjalin hubungan baik dengan Bonek. Suporter Bali United sempat mampir ke Mess Persebaya yang menjadi markas Bonek sebelum mendukung timnya berlaga di Sidoarjo. Hasilnya, Bonek kini mempunyai banyak teman. Memang, semua masih harus diuji saat Persebaya nanti mengikuti kompetisi. Tapi setidaknya ada upaya dari Bonek untuk berubah lebih baik.

Saat aksi Bonek Gruduk Jakarta awal Agustus memperjuangkan nasib Persebaya, Bonek banyak menerima bantuan dari suporter lain. Banyak posko yang didirikan untuk membantu Bonek yang melakukan perjalanan menuju Jakarta. Bahkan saat Bonek berada di Stadion Tugu, Jakarta, pendukung Persitara, The North Jak, dengan sukarela membantu perjuangan Bonek. Hal ini menunjukkan Bonek semakin diterima kelompok suporter lain.

Bonek sadar bahwa mereka tidak bisa hidup seorang diri. Karena suatu saat mereka akan melakukan perjalanan away saat mendukung Persebaya di luar Surabaya. Jika hubungan dengan suporter lain buruk, maka Bonek tak akan bisa kemana-mana.

Sikap untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan harus dimiliki setiap supporter. Mencari kambing hitam dan sibuk melempar kesalahan tak akan membuat nama supporter menjadi baik. Justru sikap itu akan membuat suporter itu dijauhi. Sadarlah, Sam!

  • Rama Satya

    Persebaya aicon sepak bola indonesia smoga kedepannya lebih baik dari biru …kami anak madiun dukung BONEK

  • Moh Arif Riyanto

    Bonjak la mania pasoepati udh damai giliran aremania dan bonek harus berjabat tangan bersumpah utk damai terima kasih