Seger Sutrisno, Bintang Yang Suka Bikin Ketawa

650
Seger Sutrisno.

Banyak orang lebih mengenal kekocakannya. Padahal, dia pernah menjadi andalan Persebaya Surabaya.

***

Teriakannya begitu lantang di lapangan Persebaya, Karanggayam, Surabaya, pada Minggu siang (21/8/2016). Tapi, itu malah membuat para penonton yang tengah menyaksikan pertandingan Kompetisi Liga Pelajar U-16 Piala Menpora Zona Jatim tertawa.

Bahkan, ada yang terpingkal-pingkal. Candaan memang sudah menjadi trade mark dari seorang Seger Sutrisno.

Lelaki 51 tahun tersebut mampu membuat suasana tribune Lapangan Persebaya menjadi hidup. Hal itu bukan hanya Minggu saja.

Hampir setiap ada Seger, penonton akan tersenyum, tertawa, bahkan terpingkal-pingkal. Kalau tak mengenalnya, orang mengira Seger hanyalah penonton iseng.

Padahal, lelaki tambun tersebut merupakan salah satu bintang lapangan tengah yang pernah dimiliki Persebaya, sebuah tim legenda dalam kancah sepak bola Indonesia.

”Saya membela Persebaya 1985 sampai 1996. Mungkin termasuk yang terlama di antara pemain yang lain,” ungkap Seger.

Bapak lima anak ini mengakui, dia memulai karirnya sejak kecil di klub anggota internal Persebaya, sekarang Askot PSSI Surabaya, Indonesia Muda (IM). Kecintaannya kepada sepak bola tak lepas dari lingkungan tempat tinggalnya yang tak jauh dari Gelora 10 Nopember, sebuah stadion yang menjadi kandang Persebaya.

”Kali pertama latihan di Lapangan PJKA (Lapangan Pacar Keling). Setelah besar, saya dipindah untuk mengikuti latihan bersama senior-senior di Lapangan Gelora Pantjasila,” terang Seger.

Penampilannya yang moncer membuat Seger dipanggil membela Persebaya Junior pada 1984 membuat dia pun dipromosikan ke senior. Hanya, di musim pertamanya, dia hanya menjadi pemanis bangku cadangan.

”Menariknya saat seleksi banyak penonton menggoda saya. Mereka berteriak mau membeli kare dan es kelapa muda,” kenangnya.

BACA:  Sikap Kritis Masih Melekat Pada Mursyid Effendi

Ya, saat masih sekolah, Seger membantu kehidupan keluarganya dengan berdagang kare dan es kelapa muda. Tapi, tambahnya, kalimat tersebut tak membuat kecil hati.

Sebaliknya, Seger malah terlecut semangatnya. Hasilnya, dia pun bisa masuk tim impiannya sejak kecil.

Selama membela Green Force, julukan Persebaya, dia mampu membawa tim pujaan masyarakat Kota Pahlawan, julukan Surabaya, menjadi juara Perserikatan di musim 1987/1988. Setelah sebelumnya, Seger dkk dipermalukan PSIS Semarang.

Dia juga menjadi bagian dari Persebaya ketika merajai Piala Utama, sebuah kejuaraan yang diikuti oleh tim-tim perserikatan dan galatama. sebuah model yang akhirnya direalisakan pada 1994 dengan nama Liga Indonesia.

”Saat berganti nama menjadi Liga Indonesia pun saya masih di Persebaya. Hanya, lebih sering jadi cadangan,” ungkap Seger.

Dengan usia yang terus bertambah dan persaingan semakin ketat, akhirnya dia meninggakkan Persebaya pada 1996. Setahun kemudian, Seger membela klub sekota Persebaya, Assayabaab Salim Group Surabaya (ASGS).

”Itu pun hanya semusim. Setelah itu, saya tak lagi berkompetisi di ajang nasional,” kenangnya.

Usai gantung sepatu, kesibukannya banyak tercurah di kepelatihan. Tercatat beberapa tim pernah memakai tenaganya.

Bahkan, Seger pernah menjadi asisten di Persebaya saat ditangani M Zein ”Mamak” Alhadad. Dia pun sempat berkelana di Persewangi Banyuwangi, Persekam Kab Madiun, hingga ke Trenggalek.

Kini, hari-harinya diisi melatih di sebuah klub di Sidoarjo. Tangan dinginnya mampu membawa klub tersebut juara kompetisi Persida. (pl)

*) Tulisan ini juga dimuat di pinggirlapangan.com.