Serial Syamsul Arifin (1): Tawaran Wasit Bawa Karir ke Surabaya

Syamsul Arifin selalu identik dengan gol. Nama besarnya pun selalu disebut-sebut dalam perjalanan sepak bola Indonesia, khususnya Surabaya.

***

Seorang perempuan tengah menjemur baju di sebuah rumah yang ada di kawasan Tenggilis, Surabaya, pada Rabu siang (31/8/2016). Dia langsung menghentikan aktivitasnya saat penulis menanyakan pemilik rumah.

”Bapak ada. Silahkan masuk, saya panggilkan dulu,” katanya.

Penulis pun memasuki rumah bercat putih tersebut. Sebelum bisa duduk di teras, sebuah mobil sedan tua putih ada yang ada di garasi harus dilewati.

Tak lama berselangl, munculah seorang lelaki sepuh dengan rambut yang memutih. Tapi, dari segi fisik, dia masih sehat. Bahkan, otot kakinya masih seperti dia saat aktif di lapangan hijau.

”Saya masih aktif olahraga, khususnya sepak bola. Main bola bisa tiga kali seminggu dan sekali bulu tangkis,” kata lelaki yang bernama Syamsul Arifin tersebut.

Sepak bola memang tak bisa lepas dari aktivitasnya sekarang. Apalagi, olahraga tersebut telah mengantarkannya menjadi salah satu legenda di Indonesia.

”Ya mainnya  lebih banyak sore. Sekalian bisa ketemu dengan teman-teman,” ungkap Syamsul.

Syamsul Arifin di rumahnya di Tenggilis.
Syamsul Arifin di rumahnya di Tenggilis.

Lelaki yang kini berusia 61 tahun tersebut mengakui bahwa sepak bola merupakan olahraga yang ditekuni sejak kecil. Apalagi, orang tuanya mendukung Syamsul untuk terjun sebagai pesepak bola.

”Saya aslinya dari sebuah desa di Kabupaten Malang. Saya main di klub desa di sana,” kenang bapak empat anak tersebut.

Permainannya yang moncer sebagai pemain depan, terang Syamsul, terdengar hingga ibu kota kabupaten. Dia sering diajak bermain jika Persekam Malang tampil.

Nah, pada suatu ketika, Persekam tampil dalam sebuah pertandingan di Pasuruan. Sayang, Syamsul lupa lawan yang dihadapi.

BACA:  Terserang Kanker Pankreas, Mantan Pemain Persebaya Era Perserikatan Butuh Transfusi Darah

”Hanya, wasitnya dari Surabaya. Dia menawari saya untuk bermain di Surabaya karena ada klub baru yang butuh pemain,” lanjutnya.

Awalnya, dia belum bisa mengiyakan. Syamsul perlu minta izin kepada orang tuanya.

”Bapak hanya bilang kalau mau berkembang ya ke Surabaya. Saya pun juga ingin karir bola saya maju,” jelasnya.

Klub tersebut ternyata bernama Mitra. Klub yang disokong tempat hiburan tersebut tengah membangun kekuatan. Syamsul bukan satu-satunya pesepak bola luar Surabaya yang direkrut

“Dari Madiun hingga Solo pun ada. Saya juga nggak ada yang kenal saat bergabung di Surabaya,” ujar Syamsul. (Bersambung)