Serial Budi Johanis (2): Banyak Tawaran Usai Balik dari Brasil

Budi Johanis (tengah bawah) di PSSI Binatama.

Kemampuan Budi Johanis mulai dilirik PSSI. Dia mendapat kepercayaan masuk PSSI Binatama.

***

Budi Johanis masuk ke dalam rumah. Dia mengambil beberapa foto yang sudah dipigura. Salah satunya memakai kostum merah putih. Usia 59 tak mengurangi daya ingatnya.

Budi masih hapal betul nama rekan-rekannya di PSSI Binatama. Ada Joko Irianto yang lolos dengan asal klub Persebaya.

”Sebenarnya ada Subangkit. Tapi, dia masuk dari klub Jaka Utama, Lampung,” ujar Budi.

Dia bersama PSSI Binatama digembleng selama enam bulan di Brasil. Selama di Negeri Samba, julukan Brasil, mereka berlatih dan melakukan pertandingan di beberapa kota.

”Ada yang di Rio de Janeiro. Ada pula yang di Brasilia,” tambah Budi.

Usai balik dari Brasil, tawaran kepada Budi untuk pindah klub banyak yang datang. Mayoritas, ucap dia, adalah klub Galatama.

”Ada UMS 80 Jakarta, Perkesa Sidoarjo, ataupun juga Indonesia Muda,” terang Budi.

Tapi, itu tak membuat dia goyah pendirian. Budi tetap ingin membela klub kota kelahirannya, Persebaya Surabaya.

Namun, ada satu hal yang membuat dia menolak tawaran klub lain. ”Saya sudah bekerja di BRI (Bank Rakyat Indonesia). Dengan di Persebaya, saya bisa bekerja di sana,” ucap Budi.

Bapak tiga putri ini mengaku sangat mencintai pekerjaan. Dengan tetap di Persebaya, dua profesi yang dilakoni bisa berjalan beriringan.

”Karena perserikatan, saya bisa bekerja dan sorenya bermain sepak bola di IM. Zaman itu kan Persebaya latihan kalau persiapan menghadapi kompetisi atau turnamen saja,” ujar Budi.

Hanya saat membela Persebaya, Budi tetap memerlukan surat dispensasi. Dia hanya mau bergabung kalau surat tersebut ditanda tangani oleh wali kota.

BACA:  Serial Budi Johanis (4-Habis): Pensiun dari BRI, Tertarik Masuk Tim Pemandu Bakat

”Kalau sudah gitu, kantor tinggal bilang berangkat. Saya bisa tenang dan lepas membela Persebaya,” jelas lelaki asli Ambengan, sebuah daerah dekat dengan Gelora 10 Nopember, Surabaya, itu.

Bahkan, kantor BRI sempat gempar. Ini, jelasnya, karena datangnya E.E. Mangindaan, yang saat itu menjabat sebagai Danrem Bhaskara Jaya sekaligus manajer Persebaya.

”Di kantor ribut, ada apa Danrem ke Kantor BRI. Ternyata, Mangindaan minta izin memakai saya dan mengucapkan terima kasih atas kelonggaran kantor dalam membantu Persebaya,” papar Budi.

Dengan konsentrasi tak terganggu pekerjaan, ternyata ikut mengangkat penampilannya. Salah satunya dengan terpilihnya Budi menjadi pemain terbaik di Kompetisi Perserikatan musim 1985/1986.

”Padahal, Persebaya hanya duduk di peringkat kelima. Tapi nggak tahu mengapa, saya yang dipilih menjadi pemain terbaik,” ungkap Budi. (Bersambung)