Serial Budi Johanis (3): Punya Tiga Rekan Tangguh di Lini Tengah

Budi Johanis (dua kiri atas) saat juara perserikatan.

Terpilih menjadi pemain terbaik perserikatan 1985 membuat Budi Johanis semakin disegani. Dia pun punya semangat yang ingin dikejar.

***

Seorang anak perempuan terus menganggu Budi Johanis. Beberapa kali disuruh masuk rumah, dia tetap ingin selalu menggoda salah satu legenda Persebaya Surabaya tersebut.

”Dia cucu saya. Anak dari anak perempuan saya,” jelas Budi saat ditemui di rumahnya pada Rabu (7/9/2016).

Lelaki 59 tahun itu pun melanjutkan kisah kejayaannya. Bahkan, dia sempat tak percaya saat terpilih menjadi pemain terbaik perserikatan pada 1985/1986.

Saat itu, kenangnya, banyak pemain yang dianggap punya kualitas dibandingkan dirinya. Budi menyebut trio Perseman Manokwari, Adolf Kabo, Elly Rumaropen, dan Yonas Sawor tengah jadi bahan perbincangan.

Terpilih menjadi pemain terbaik membuat semangat Budi untuk mengangkat Green Force, julukan Persebaya, terlecut. Pada musim 1986/1987, Budi dkk mampu menembus final.

”Kami kalah dari PSIS Semarang dalam pertandingan yang dilaksanakan di Senayan, Jakarta. Tapi, kami yakin bakal lebih baik musim depannya,” lanjut pemain yang didik dari klub internal Indonesia Muda (IM) tersebut.

Benar, di musim 1987/1988, Persebaya mampu mengakhiri dahaga gelar selama 11 tahun, Budi sukses mengantarkan Persebaya menjadi juara perserikatan dengan mempermalukan Persija Jakarta.

Lini tengah yang digalang Budi cukup solid. Dia dibantu tiga rekan-rekannya, Yongki Kastanya, Maura Helly, dan Aries Sainyakit.

”Dengan materi lini tengah ini,  bukan hanya juara perserikatan, berbagai turnamen yang diikuti mampu kami sapu bersih,” lanjut Budi.

Di musim berikutnya, 1989/1990, Persebaya masuk ke final. Hanya, mereka gagal mempertahankan gelar usai kalah dari Persib Bandung.

”Itu masa-masa terakhir menjelang pensiun. Musim 1991/1992, saya masih masuk tim. Persebaya tak lolos ke final,” ujar Budi.

BACA:  Serial Budi Johanis (1): Dua Kali Menembus Skuad Persebaya Junior

Sebenarnya, Budi masih diberi kesempatan bergabung Persebaya di 1993/1994. Hanya, faktor usia dan ingin konsentrasi kepada pekerjaan yang membuat dia memilih pensiun.

”Saya tak pernah pindah klub. Hanya di Persebaya saya berkarir,” tambah Budi.

Rentang 16 tahun,mulai 1976-1992, bukan waktu yang sebenar. Godaan dan gelimang rupiah tak membuat Budi pindah ke klub lain. Hanya berkostum Timnas Indonesia yang dipakainya selain Persebaya.

Nama besar sebagai pemain Persebaya dan Timnas Indonesia gagal diteruskan oleh keluarganya. Tapi, anak-anaknya tetap tahu bahwa sang ayah merupakan legenda Green Force. (Bersambung)