Serial Yongki Kastanya (1): Datang ke Surabaya saat Masih 17 Tahun

Yongky Kastanya.

Persebaya berasal dari Kota Surabaya. Tapi, para pemainnya dari luar Kota Pahlawan. Ada yang dari Ambon yang membuat nama Persebaya terangkat.

***

Agak susah mencari alamat Petemon Timur No 57, Surabaya. Di jalan tersebut tak ada rumah yang ada di pinggir jalan dengan nomor 75.

Usai nomor 56 terus nomor 58. Tapi, di sela-sela kedua rumah dengan kedua nomor tersebut ada sebuah gang kecil.

Saat penulis ke wilayah tersebut pada 13 September 2016, jalan di depan rumah di kawasan Petemon Timur tengah ada galian PDAM. Sehingga, perlu sebuah jembatan kecil untuk  bisa masuk gang.

Ternyata, rumah yang di dalamnya semua memakai nomor 57. Hanya, huruf di dalamnnya yang membedakan. Tempat tinggal Yongki Kastanya cukup dalam. Ada sekitar 50 meter dari jalan untuk sampai. Lebar jalan pun hanya sekitar 2 meter.
Sehingga, mereka yang masuk dalam gang tersebut harus turun dari sepeda motor dan mematikan mesin.

Tapi, semua penghuni di gang tersebut tahu rumah Yongki. Wajar nama besarnya saat membela Persebaya di era 1980-an masih membekas di warga sekitar.

”Rumah Yongki paling ujung, terus saja,” kata salah satu penghuni rumah nomor 57 bagian depan.

Sebuah rumah dalam kondisi pintu tertutup di bagian depan berada di paling ujung. Tapi, sebuah panggilan dengan suara yang tak asing lagi bagi penulis terdengar dari dalam.

”Ini rumah saya. Ayo silahkan masuk,” ujar Yongki.

Dibandingkan rumah-rumah yang lain, tempat tinggal dia termasuk paling besar. Hanya, di ruang tamu tersebut tidak ada foto ataupun penanda Yongki sebagai mantan bintang di sebuah klub besar, Persebaya.

BACA:  Serial Yongki Kastanya (2): Berani Tolak Panggilan Timnas

”Medali dan foto-foto disimpan di kamar. Semuanya masih ada,” ujar dia.

Yongki mengaku membela dan bisa mengharumkan nama Persebaya merupakan sebuah kenangan yang tak akan terlupa. Meski, dia bukan pemain yang lahir di Surabaya.

”Saya aslinya Ambon, Maluku. Klub saya di sana adalah Pusparagam,” ungkap Yongki.

Klub tersebut juga melahirkan para bintang-bintang lapangan hijau. Dia menyebut Rocky Putiray dan Ronald Pieterz yang berseragam sama dengan hanya.

Rocky merupakan mantan pemain nasional yang sukses membawa Indonesia meraih emas di SEA Games 1991 dan juara Galatama bersama arseto Solo. Sedangkan Ronald atau yang akrab disapa Koko menjadi pemain depan Green Force, julukan Persebaya, saat menjadi juara pada musim 1997.

Yongki mengakui kedatangannya ke Kota Pahlawan, julukan Persebaya, karena peran Waskito. Ketika itu, dia datang bersama klubnya, Assayabaab Surabaya, ke Ambon untuk mengadakan uji coba pada 1978.

”Saya masih usia 15 tahun tapi sudah membela PSA Ambon. Usai pertandingan, Waskito menawari untuk bergabung dengan Assyabaab di Surabaya,” ungkap Yongki.

Setelah konsultasi dengan keluarga, dia pun berangkat ke Surabaya. Tujuan utamanya adalah Ampel, yang menjadi markas Assyabaab dan datang ketika usianya masih 17 tahun.

”Saya juga melanjutkan SMA di Surabaya.  Saya tetap latihan,” kenangnya. (Bersambung)