Serial Yongki Kastanya (3): Ngotot Main Saat Sakit Liver

Yongki bersama foto saat juara.

Penantian Persebaya menjadi juara perserikatan selama 10 tahun berakhir. Peran Yongki tak bisa dianggap remeh.

***

Sebuah foto memegang trofi diambil Yongki Kastanya dari sebuah kamar di rumahnya di Petemon Timur, Surabaya. Dia mengaku bahwa foto tersebut selalu dibanggakannya.

”Bagaimana nggak bangga, saya menjadi bagian dari Persebaya menjadi juara kompetisi perserikatan,” ungkap Yongki saat ditemui di rumahnya pada Rabu (15/9/2016).

Di foto tersebut, dia tengah mengangkat trofi juara perserkatan. Ingat, dia berfoto sendiri.

Harus diakui, gelar pada musim 1987/1988 tersebut juga menjadi pelipur dahaga. Sebelumnya, kali terakhir, Persebaya menjadi juara pada musim 1977/1978 di era Djoko Malis Mustafa dkk.

Apalagi, pada musim sebelumnya, 1986/1987, tim kebanggaan warga Kota Pahlawan, julukan Persebaya, tersebut secara mengejutkan kalah 0-1 oleh PSIS Semarang dalam final di Stadion Utama,Senayan, Jakarta. Tapi, semua terbalaskan di musim 1987/1988.

Gelar tersebut juga menjawab suara sumbang di musim tersebut. Ya pada 21 Februari 1988, Persebaya kalah telak 0-12 dari Persipura Jayapura di kandangnya sendiri, Gelora 10 Nopember.

”Tapi saya nggak main karena menolak. Itu semua kan urusan para petinggi Persebaya,” terang Yongki.

Kondisinya di musim tersebut juga tengah fit. Beda dengan musim 1986/1987.

”Pada 1986/1987, saya nggak ikut main di final. Saya hanya sampai mengantarkan lolos ke Jakarta saja,” kenang Yongki.

Kenapa? ”Saya sakit. Di pertandingan terakhir, saya paksa main agar Persebaya bisa lolos ke Jakarta,” lanjut dia.

Klipingan koran saat dia sakit.
Klipingan koran saat dia sakit.

Akibatnya, setelah itu, dia harus menginap di rumah sakit. Ternyata, lelaki kelahiran Ambon, Maluku, 1961 tersebut livernya luka.

”Saya disuruh istirahat sama dokter sebulan. Kecewa sekali saya mendengarnya karena tak bisa bermain di Jakarta,” ujarnya.

BACA:  Serial Yongki Kastanya (4): Kaget Harus Pindah ke BPD Jateng 

Dia mengakui, kekuatan lini tengah Persebaya saat juara cukup menakutkan. Di posisi bertahan dia dan Maura Hally menjadi penopang buat Budi Johanis dan Aries Sainyakit.

”Bukan hanya kompetisi,turnamen-turnamen yang ada pun mampu kami juarai. Saat itu, memang Persebaya lagi bagus-bagusnya,” lanjut Yongki. (Bersambung)