Kemewahan Semu Stadion Gelora Bung Tomo

Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Stadion itu ibarat rumah. Di sana tersimpan peristiwa-peristiwa penting yang terangkum menjadi kenangan, tersusun oleh rangkaian waktu yang berjalan mengikuti zaman. Di dalam stadion juga, kita bisa merasakan kehangatan yang tercipta karena bisa dekat dengan sesama pecinta sepakbola, kenyaman karena beragam fasilitas yang tersedia.

Stadion megah nan mewah, merupakan dambaan bagi setiap klub sepak bola dan para suporternya. Itulah yang membuat seorang Arsene Wenger harus memutar otak ketika melakukan belanja pemain, berhemat untuk mengurangi pengeluaran agar dapat melunasi hutang klub karena pembangunan stadion Emirates. Apa yang dilakukan wenger adalah suatu langkah untuk mewujudkan “rumah” yang nyaman bagi para penghuninya.

Berbeda dengan klub bola di Indonesia, jarang sekali sebuah klub memiliki stadion sendiri. Kebanyakan klub masih menyewa stadion yang dimiliki pemerintah setempat. Bahkan beberapa klub harus menumpang stadion kota tetangga karena alasan-alasan tertentu.

Di Surabaya sendiri, ada dua stadion yang sebenarnya layak digunakan untuk menggelar pertandingan berskala nasional, yaitu stadion Gelora Bung Tomo (GBT) dan Gelora 10 November (G10N). Dari segi kualitas, GBT jelas lebih bagus jika dibanding dengan G10N. Mengingat, dana yang digunakan dalam pembangunan juga lebih besar. Keduanya dibangun dan dimiliki oleh Pemkot Surabaya, bukan Persebaya atau NIAC Mitra apalagi Bhayangkara United.

Stadion GBT sendiri diresmikan dan dibuka pada tahun 2010 dan menghabiskan dana sekitar 500 miliar. Dengan dana sebesar itu, stadion GBT memang menghadirkan kesan mewah jika dilihat dari jauh. Berdiri kokoh di antara lahan tambak dan tak jauh dari TPA Benowo, GBT seakan menjadi oase ditengah padang pasir tandus.

BACA:  Masalah-Masalah Yang ada di Stadion GBT Sebagai Kandang Persebaya

Namun, ketika kita mulai mendekati bangunan itu, kesan mewah mulai luntur. Jalanan di sekelilingnya ada yang belum teraspal, tembok retak di sana-sini, pintu stadion yang terbuat dari besi-besi tebal pun banyak yang tak berfungsi. Semua kemewahan itu semu. Fatamorgana. Sesuatu yang tidak ada seolah menjadi ada.

Kembali lagi ke fungsi awal stadion bagi klub sepakbola, sebagai “rumah”. Menurut saya, Stadion GBT belum layak-layak amat untuk dijadikan kandang bermain klub sepak bola. Boro-boro dijadikan kandang, warga Benowo dan sekitarnya saja, masih belum tertarik untuk sekadar lari-lari pagi atau melakukan aktivitas lain di stadion ini.

Sebagai konsumen, seharusnya klub-klub yang biasa memakai dan menyewa stadion kepada Pemkot, bisa saja meminta perbaikan fasilitas, toh mereka membayar, punya hak untuk itu. Dan Pemkot sebagai pemilik, sudah sepantasnya melakukan perbaikan dan perawatan maksimal kepada aset kebanggaan kota Surabaya ini.

Karena pada dasarnya, “rumah” yang nyaman akan membuat seseorang akan betah tinggal di rumah, kalaupun harus pergi dan berpindah ke rumah yang lain, seseorang akan tetap datang untuk sesekali menengok keadaan rumah yang lama. (*)

Facebook Comments