Serial Yongki Kastanya (4): Kaget Harus Pindah ke BPD Jateng 

318
ongki (dua dari kiri bawah) di Stadion Tambaksari.

Setelah mengantar Persebaya juara, nama Yongki Kastanya semakin terangkat. Namun, dia tak masuk saat mereka mempertahankan gelar.

***

Kuartet gelandang Persebaya cukup disegani. Itu sudah terbukti dengan kesuksesan mengantarkan Green Force, julukan Persebaya, menjadi juara perserikatan musim 1987/1988.

Ketangguhan ini pun membuat Yongki bersama Maura Helly, Aries Sainyakit, dan Budi Johanis bakal menjadi andalan untuk bisa mempertahankan gelar di musim1989/1990. Musim 1988/1989 tidak ada karena perserikatan dilaksanakan dua tahun sekali.

Tapi, siapa sangka, ternyata harapan tersebut tinggal harapan bagi Yongki. Tidak ada badai dan hujan, tiba-tiba dia harus berpindah klub.

”Pak Barmen (manajer klub Yongki, Assayabaab) memanggil saya. Dia menyuruh saya untuk ke Semarang bergabung dengan BPD Jateng,” terang dia.

Alasannya, tambah Yongki, guna mengakrabkan hubungan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sebagai pemain, ujarnya, dia tak bisa berbuat apa-apa.

”Saya nggak kerasan di Semarang. Sehingga, saya hanya satu musim di sana, 1990,” jelas Yongki.

Di BPD, ujarnya, ada juga Aries. Tapi kolaborasi keduanya tak bisa berbuat banyak untuk mengangkat klub milik bank pemerintah Jawa Tengah tersebut.

Kehilangan keduanya juga mereduksi performa Persebaya. Mereka gagal mempertahankan gelar perserikatan.

Di final, tim pujaan Bonek tersebut dihajar Persib Bandung 0-2. Di lini tengah hanya tinggal Maura Helly dan Budi Johanis. Sementara, dua lainnya merupakan pemain muda, Ibnu Grahan dan Yusuf Ekodono.

Usai dari BPD, Yongki ditarik oleh Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS) di musim 1990/1992. Penampilannya tetap masih memikat di lapangan.

”Ini yang membuat saya bisa kembali ke Persebaya pada musim 1993/1994. Itu merupakan musim terakhir perserikatan sebelum digabung dengan galatama,” jelas dia.

BACA:  Serial Yongki Kastanya (5-Habis): Diajak Waskito, Pensiun di Persegres

Kehadirannya seakan kembali membangkitkan kembali era kejayaan Persebaya. Tim dengan warna khas hijau-hijau tersebut merajai di wilayah timur dengan memimpin klasemen.

Persebaya sukses menembus delapan besar. Bahkan, mereka menembus babak semifinal.

”Tapi, kami kalah oleh Persib di semifinal,” kenangnya. (Bersambung)