Serial Jacksen F. Tiago (3): Pilih Carlos de Mello Dibandingkan Luciano 

1895
Jacksen F. Tiago saat membela Persebaya.

Sukses mengantarkan Petrokimia Putra Gresik ke final Liga Indonesia membuat nama Jacksen F. Tiago terangkat. Banyak klub berniat meminang.

***

Penampilan bersama Petrokimia Putra Gresik menjadi awal perjalanan panjang Jacksen . Tiago dengan sepak bola Indonesia. Meski baru kali pertama mengenalnya, dia langsung klop dengan atmosfernya.

Ini yang membuat Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra ingin memperpanjang kontraknya. Keinginan ini pun tak bertepuk sebelah tangan.

”Saya dan Petrokimia sudah mencapai kata sepakat. Saya cocok dengan klub itu,” kenang Jacksen.

Sayang, asa tersebut berbeda dengan agennya. Sang agen lebih memilih tawaran PSM Makassar.

”Persebaya juga sudah nyaris mendapatkannya. Saya sempat berlatih bersama mereka,” lanjut lelaki asal Rio de Janeiro tersebut.

Kehadiran Jacksen sebagai pemain asing di Pasukan Ramang, julukan PSM, tak sendirian. Dia bersama dua rekan senegara, Marcio Novo dan Luciano Leandro, membuat klub tersebut terangkat prestasinya.

Tim asal ibu kota provinsi Sulawesi Selatan itu menguasai Liga Indonesia Wilayah Timur. Di babak penyisihan wilayah, Jacksen dkk menjadi pimpinan klasemen.

Di babak 12 besar pun, PSM menjadi pimpinan. Setelah usai menggebuk Persipura 4-3 di semifinal, langkah tim dengan kaos identik merah tersebut harus mengakui ketangguhan Mastrans Bandung Raya dengan 2-0 dalam laga final yang dilaksanakan  di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 6 Oktober 1996.

”Barulah pada musim 1996/1997, saya bisa ke Persebaya Surabaya,” ujar Jacksen.

Saat bergabung Green Force, julukan Persebaya, pengurus klub tersebut sempat menanyakan pemain yang bakal berkolaborasi dengannya, khususnya lini tengah. Dua gelandang yang sama-sama berasal dari Brasil, Luciano Leandro dan Carlos de Mello, menjadi opsi.

BACA:  Serial Jacksen F. Tiago (6): Bisa Bertahan Lama Disaat Pelatih Lain Hanya Sebentar

Kebetulan, keduanya pernah bermain dengannya. Carlos ke Petrokimia Putra Gresik dan Luciano di PSM. Tapi, Jacksen akhirnya lebih memilih Carlos.

”Saya ada pertimbangan dengan jawaban itu. Kalau mau intertainment ya Luciano sedang kalau membangun tim Carlos lah yang bagus,” ungkap Jacksen.

Ternyata, jawaban tersebut diseriusi oleh manajemen Persebaya. Carlos pun didatangkan ke Persebaya.

Permainan sehati keduanya di Petrokimia kembali terjadi di Persebaya. Hasilnya, tim pujaan Bonek itu merajai wilayah yang ditempati, yakni barat. Jacksen menjadi pencetak gol terbanyak dengan 19 gol.

Lajunya semakin kencang hingga menembus final.  Lawan yang dihadapi adalah Mastrans Bandung Raya, klub yang setahun sebelumnya mempermalukan Jacksen yang berkostum PSM.

Dalam partai puncak di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Persebaya menghentikan perlawanan tim asal Kota Kembang, julukan Bandung, dengan skor 3-1. Hebatnya, Jacksen ikut menyumbang satu gol.

”Tiga musim saya bersama Persebaya. Sebuah masa yang indah,” terang Jacksen. (Bersambung)