Mahasiswa UWM Buat 26 Video Bonek, Rencanakan Kompetisi Video dengan Juri Bonek

Deby Megasari, mahasiswi UWM, sedang berbincang-bincang dengan Bonek saat aksi penggalangan dana di depan Monumen Polri. (Foto: Dok. Pribadi Deby Megasari)

Sekitar 90-an mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UWM), Surabaya, membuat video dokumenter tentang Bonek. Mereka menghasilkan 26 video yang saat ini sebagian sudah ditayangkan di kanal YouTube. Bagaimana behind the scene pembuatan video-video itu?

***

Ada yang berbeda saat pertandingan kompetisi internal Persebaya yang mempertemukan Bintang Timur melawan PSAL di Lapangan Karanggayam, Kamis, 29 September. Sekelompok mahasiswa membawa kamera sibuk menyorot dan mewancarai legenda Persebaya, Bejo Sugiantoro di tribun lapangan. Mereka rupanya sedang membuat sebuah video tentang Bonek.

Kelompok mahasiswa itu adalah satu dari 26 kelompok mahasiswa mata kuliah Sinematografi UWM yang ditugaskan dosen pengampunya untuk membuat video bertema Bonek. Sebelumnya, kelompok lainnya juga mendatangi Mess Persebaya untuk mengambil gambar dan mewawancarai beberapa Bonek.

Pengambilan gambar rupanya tak hanya dilakukan di Mess melainkan di tempat-tempat yang ada hubungannya dengan Bonek, seperti di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari. Ada juga yang mengikuti kegiatan penggalangan dana yang digagas Bonek untuk membantu korban banjir di Garut dan Sumedang.

Deby Megasari adalah salah satu mahasiswi yang mengikuti kelompoknya mengambil gambar saat aksi Bonek di Monumen Polri, Jalan Polisi Istimewa. Kelompok yang mereka namakan Sedulur Production itu terdiri dari 5 orang yang masing-masing mempunyai tugas khusus. Mahasiswi angkatan 2014 ini mendapat tugas sebagai editor video. Sore itu mereka sedang sibuk menyorot Bonek yang sedang mengedarkan kotak kardus sumbangan kepada para pengendara motor.

Saat pengambilan syuting di Taman Mundu.
Saat pengambilan gambar di Taman Mundu. (Foto: Dok. pribadi Deby Megasari)

Deby bercerita jika mereka ditugaskan dosen mereka untuk meliput Bonek. Video itu untuk tugas Ujian Tengah Semester (UTS). Kelompoknya mengambil tema siapa sesungguhnya Bonek.

“Kami mengambil sisi Bonek 1927 termasuk pengetahuan tentang Bonek, sejarahnya gimana, Bonek ada di mana saja, sampai solidaritas Bonek untuk sesama yaitu saat aksi penggalangan dana di Monumen Polri,” ujar Deby kepada EJ, Senin (10/10).

Kelompoknya juga berusaha menampilkan wajah Bonek yang sekarang sudah berubah menjadi lebih sopan dan santun.

Video yang mereka kerjakan selama 3 minggu ini telah selesai dibuat. Judulnya Bonek 1927. Menurut Deby, kelompoknya melakukan riset tentang Bonek melalui media sosial dan website emosijiwaku.com sebelum melakukan syuting. Butuh 7 kali pertemuan sebelum dan saat pengambilan gambar. “Ketemuan sama kelompok itu pas nge-take. Trus di kampus juga. Kira-kira ya 5-7 kali ketemuannya,” ujar arek Wiyung ini.

Selain di Monumen Polri, mereka juga melakukan syuting di Mess Karanggayam. Di sana mereka mewawancarai Andie Peci dan Pakpuh Dadang, orang-orang yang dianggap mengerti tentang Bonek.

BACA:  Dari Komik untuk Persebaya

“Kita bertemu Pak Dadang sama Andie Peci. Jadi langsung tanya-tanya sambil di-take,” ujarnya. Dia tak menyangka atas sikap Dadang dan Peci yang sangat welcome menyambut mereka. “Pertamanya kita takut juga soalnya gak pernah tahu tentang Bonek,” tambahnya.

Saat ini, video karya Deby dkk telah ditayangkan di kanal YouTube. Anda bisa menyaksikannya di sini.

Angkat Tema Bonek untuk Edukasi Masyarakat

Dosen pengampu mata kuliah Sinematografi, Wisang Wijaya, mengaku jika mahasiswanya ditugaskan untuk mengangkat tema Bonek dan mengedukasi masyarakat melalui karya video.

“Bonek adalah salah satu fenomena sosial yang menurut saya sarat dengan nilai-nilai budaya yang mengiringinya, baik positif maupun negatif. Di indonesia, siapa yang nggak tau bonek? Nah, dengan adanya project video ini, kami berharap dapat memberikan pesan tentang “identitas” bonek, tentunya dari sudut pandang kami,” ujarnya saat diwawancarai EJ (12/10).

“Dan setahu saya, belum ada komunitas film yang “berani” mengangkat tema Bonek dalam karya-karyanya. Walaupun sebenarnya, Bonek adalah tema sosial yang tidak akan lekang oleh waktu,” tambahnya.

Bejo Sugiantoro dan Pakpuh Dadang (kanan) saat diwawancarai mahasiswa UWM Surabaya.
Bejo Sugiantoro dan Pakpuh Dadang (kanan) saat diwawancarai mahasiswa UWM Surabaya. (Foto: Bimbim/EJ)

Wisang bercerita jika awalnya sebagian para mahasiswanya takut saat mendapatkan tugas video tentang Bonek. Apalagi mayoritas mahasiswanya adalah perempuan. Ini karena citra Bonek yang selama ini terkesan jelek.

“Awalnya pasti banyak yang takut. Namun saya berikan penjelasan jika Bonek tidak seperti yang kita bayangkan, senyampang pendekatan kita memang baik dan benar,” kata lelaki yang tinggal di Madiun dan Gedangan, Sidoarjo ini.

Wisang juga berencana membuat ajang awarding khusus untuk karya-karya video itu. Dia berencana membuat acara nobar dengan mengundang Bonek. “Rencananya akan ada awarding khusus untuk karya-karya mereka. Ada best movie, best favourite, most informative video. Nanti Bonek yang menjadi juri dari film-film yang diputar,” ujarnya.

Meski untuk itu banyak usaha yang harus dilakukan, dia berharap agar keinginannya terlaksana.

Kegiatan membuat video ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2013. Temanya berbeda setiap tahunnya. Tahun lalu, temanya tentang explore Surabaya. Sementara tahun ini bertema Bonek.

“Saya ingin tema Bonek karena saya melihat Persebaya akan diakui kembali oleh PSSI. Jadi momennya pas,” tungkas dosen yang akrab dipanggil Iyan ini.

Video-video mereka sudah bisa dinikmati masyarakat di kanal YouTube dengan akun “Sinema Surabaya”. EJ sebagai media yang peduli tentang Persebaya dan Bonek juga akan menayangkan karya-karya video para mahasiswa UWM setiap harinya. (iwe)