Serial Uston Nawawi (2): Bawa Indonesia Juara dengan Gol di Detik Ke-15

Uston saat ditemui awal Oktober 2016.

Masa remaja Uston Nawawi mulai dihabiskan di lapangan hijau. Dia mulai mendapat perhatian publik Surabaya. 

***

Di Lion Cup di Singapura, penampilan Uston Nawawi menyedot perhatian.Dia menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Malaysia dengan skor 1-0.

”Golnya saat pertandingan baru 15 detik. Saya yang mencetak gol dan menjadi gol tercepat,” ucap Uston saat ditemui di Rumah Makan Sri Raras miliknya pada awal Oktober 2016.

Pulang  dari Singapura mengikuti Lion Cup, Uston Nawawi semakin semangat berlatih. Meski untuk itu, dia harus rela bolak balik Sidoarjo-Surabaya.

Penyakit yang sering muntah mulai hilang. Dia sudah tak takut lagi naik angkot.

”Pulang sekolah, saya langsung latihan. Balik ke rumah sudah malam,” ungkap lelaki kelahiran 9 September 1977 tersebut.

Usaha tersebut mulai membuahkan hasil. Namanya masuk dalam skuad Persebaya Junior

”Saya tiga kali membela Persebaya Junior di ajang Liga Remaja. Itu mulai1992/1993,1993/1994, dan 1994/1995,” kenang Uston.

Selama itu, jelas dia, dua kali Green Force Muda dibawanya menembus final. Yakni pada 1992 dan 1994.

”Kalahnya oleh lawan yang sama, PSB Bogor. Di sana Imran Nahumaruri (yang akhirnya jadi rekan Uston di Timnas Indonesia Senior,red),” ujar pemain yang mengawali karir dari SSB Warna Agung, Sidoarjo, tersebut.

Di 1993/1994, Persebaya Junior,  tambah Uston, hanya sampai babak semifinal. Kiprah arek Sukodono tersebut tercium oleh pemandu bakat PSSI.

Dia bersama dua rekannya, Agung Prasetyo (kiper) dan pemain belakang Kharis Yulianto, mendapat panggilan seleksi. Ketiga dipantau dalam latihan di Sawangan, Depok.

”Agung yang nggak lolos. Dalam sebuah latihan, tanggapannya saat bola silang lepas,” terang putra dari Suwadi, yang juga wasit di Sidoarjo tersebut.

BACA:  Serial Uston Nawawi (5): Balik dan Bawa Persebaya Juara Lagi

Uston dan Kharis akhirnya berangkat ke Italia untuk masuk proyeksi ambisius PSSI, Barreti. Mereka bersama para talenta-talenta muda terbaik di Indonesia digembleng selama setahun.

Uston dkk melanjutkan proyeksi ambisius. Sebelumnya, sudah ada PSSI Primavera yang ditempa di wilayah Genoa tersebut.

”Kami dilatih asisten Sven Goran Eriksson,Tord Grip. Dari Indonesia, asistennya Danurwindo,” jelas Uston.

Sayang, latihan di Italia tersebut gagal menenuhi ekspeksati. Harapan menembus putaran final Piala Asia U-19 kandas.

”Kami hanya mampu menjadi runner-up di bawah tuan rumah Tiongkok. Jadi gagal lolos ke babak berikut,” kenangnya.

Kegagalan ini membuat program Baretti ikut bubar. Para pemain, termasuk Uston, dikembalikan ke klubnya masing-masing. (Bersambung)