Serial Uston Nawawi (7-Habis): Kelola Bisnis Kuliner, Ingin Latih Klub Tak Jauh dari Sidoarjo

Uston saat ditemui awal Oktober 2016.

Sejak aktif menjadi pemain, sebenarnya Uston Nawawi sudah bersentuhan dengan makanan. Ini dikarenakan keluarga sang istri punya sebuah rumah makan di Sidoarjo.

***

Hidup Uston Nawawi tetap tak bisa lepas dari sepak bola. Kini, hari-harinya masih sering dipakai berlatih dan juga menjadi pelatih di sebuah akademi sepak bola di Sidoarjo, Jawa Timur.

Dengan menjadi pelatih, ilmu yang dimiliki mampu dibagikan kepada anak asuhnya yang berusia belasan. Di akademi tersebut, dia dibantu rekannya semasa kecil yang juga seniornya, Nurul Huda.

Hanya, itu tak setiap hari. Uston dan Huda menangani akademi tersebut pada sore hari dengan intensitas tertentu.

Bisa dikatakan hari-harinya bergelut dengan makanan. Kok bisa? Bersama sang istri, Deny Rahmawati, Uston mengela Rumah Makan Sri Raras yang lokasinya di Cemengkalang, Sidoarjo.

Memang, rumah makan dengan luas 2.200 meter persegi tersebut bukan  didirikan oleh Uston dan istri. Tempat tersebut didirikan oleh mertuanya, Sri Budianto, pada 2000.

Di tangan Uston, Rumah Makan Sri Raras mengalami perubahan. Oleh mantan pemain Persebaya Surabaya tersebut,  tempatnya menjadi lebih asri.

Konsep hutan kota dipakai oleh Uston. Begitu juga dengan adanya joglo di dalamnya.

”Saya renovasi dengan biaya yang tak sedikit. Tabungan ikut terkuras,” jelas dia.

Selain uang dari hasil bermain bola, sebuah rumah miliknya yang ada di kawasan  Sono, Buduran, Sidoarjo, ikut terjual. Rumah tersebut hasil jerih payahnya saat membela Persebaya Surabaya.

”Dulu miliknya Hartono (mantan bek kanan Persebaya). Dia menjualnya saat ada keperluan,” terang Uston.

Hanya, itu tak merembet kepada lahan ataupun investasi lain miliknya. Selain rumah di Sono, mantan gelandang Timnas Indonesia tersebut memiliki sawah dan kos-kosan di rumahnya di Klagen, Wilayut, Sukodono.

BACA:  Serial Uston Nawawi (1): Kali Pertama Latihan Tak Kuat Naik Angkot

”Kost-kostan bisa jadi tempat pemasukan juga saat sudah nggak jadi pemain. Lapangan futsalnya tetap ada, hanya sudah nggak seramai dulu,” ucap Uston.

Dengan renovasi yang dilakukan, kini Sri Raras, lanjutnya, bisa menerima tamu lebih banyak. Bahkan, tempat tersebut bisa untuk pertemuan.

”Beberapa kesebelasan pernah makan di sini. Ini akan membuat Sri Raras bisa hidup,” ujar Uston.

Apalagi, terangnya, pada Ramadan. Bisa dipastikan Sri Raras bakal penuh sesak.

Uston menegaskan bahwa Sri Raras akan dikelola secara serius. Sehingga, dia harus paham tentang masakan serta manajemen.

”Hanya, kalau ada tawaran melatih tetap saya terima. Tapi, klub itu nggak jauh dari Sidoarjo,” pungkas Uston. (Tamat)