Korban Tewas Terus Berjatuhan, Presiden Harus Hentikan ISC

880
Aksi doa bersama untuk korban dari Jakmania yang tewas.

EJ – Ajang Indonesia Soccer Championship (ISC) tak henti-hentinya memakan korban tewas dan luka-luka. Bentrokan suporter versus suporter dan suporter versus warga juga semakin banyak. PSSI sebagai induk organisasi sepak bola sepertinya tidak peduli akan bertambahnya korban. Mungkin, ISC bukan kompetisi resmi alias ilegal sehingga dianggap bukan wewenang PSSI.

Seusai laga Persija melawan Persib di Stadion Manahan Solo yang digelar Sabtu (5/11), anggota Jakmania Korwil Kali Malang, Harun Al Rasyid Lestaluhu alias Ambon tewas. Ia terlibat bentrokan dengan warga Lungbenda, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tewasnya warga Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta ini terjadi di Tol Palimanan, Minggu (6/11). Nyawa Ambon tak tertolong saat dilarikan ke rumah sakit.

Hasil otopsi menyebutkan selain mengalami luka pendarahan di kepala, juga luka memar akibat lemparan batu dan pukulan benda tumpul. Akibat bentrokan tersebut juga diketahui tiga warga atas nama Sanudin (56) mengalami luka robek pada hidung, Bahrun (37) luka robek pada kepala dan Muzaki (18) luka robek pada bagian kepala.

Minggu, 6 November 2016, memang layak disebut hari duka sepak bola Indonesia. Khususnya, The Jakmania, suporter Persija. Maklum, selain Ambon, anggota The Jakmania Korwil Pekalongan bernama Gilang, 24 tahun, juga tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara Didi, The Jakmania Korwil Nganjuk meninggal dunia karena serangan jantung. Didi meninggal murni karena sakit. Bukan akibat anarkisme dan vandalisme. Tapi, tetap meninggalkan duka mendalam.

Sebelumnya, saat pertandingan Persija vs Persib yang berakhir imbang 0-0 juga terjadi kekisruhan antar suporter. Tercatat lima suporter di larikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka. Pertama, Willy Yulianto, 17, warga Dukuh Rt 03/05 Popongan, Karanganyar, tidak sadarkan diri dan dirawat di Rumah Sakit Panti Waluyo. Kedua, Ridwan Maulana, warga Karangbanaran Delangu, Klaten diopname di Rumah Sakit Brayat Minulyo, Surakarta. Ketiga, Albaed Muhammad Naufa asal Komplek Telaga Bersari Balaraja, Tangerang juga dirawat di RS Brayat Mulyo.Keempat, Dedi Jubaedi, 39, asal Dusen Wage RT 12/04 Kelurahan Cileluy, Kuningan, mendapatkan enam jahitan. Kelima, Rian Maulana, 15, warga Kradengan, Ngrambe, Ngawi, mengalami robek kelopak mata kanan, luka memar di pipi kanan dan kiri di Rawat di RS Bhayangkara.

Save Our Soccer (#SOS) sangat prihatin dengan anarkisme dan vandalisme yang sampai menghilangkan nyawa suporter. Sepak bola sejatinya adalah panggung hiburan, bukan tempat pemakaman. Data Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) #SOS mencatat sudah 54 tumbal nyawa di sepak bola Indonesia sejak Liga Indonesia digelar pada 1993/1994. The Jakmania, suporter Persija, tercatat sudah mengorbankan lima nyawa.

“Ini tidak bisa dianggap remeh atau disebut sebagai kecelakaan sepak bola. Ini harus ditangani secara serius pihak-pihak terkait. Terlalu mahal sepak bola harus dibayar dengan nyawa,” kata Akmal Marhali, Koordinator #SOS.

BACA:  #SOS Pertanyakan Kucuran Rp 4 Miliar dari Menpora untuk Kongres PSSI

Khusus 2016, litbang #SOS mencatat sudah enam nyawa melayang. Mulai dari M. Fahreza (The Jakmania), Stanislaus Gandhang Deswara (BCS, Sleman), Naga Reno Cenopati (Singamania), M. Rovi Arrahman (bobotoh), sampai Gilang dan Harun Al Rasyid Lestaluhu (The Jakmania). Mirisnya, semua terjadi dalam kegiatan kompetisi tak resmi: Indonesia Soccer Championship (ISC) yang digagas pemerintah dan dikelola PT Gelora Trisula Semesta (GTS) sebagai proyek percontohan reformasi tata kelola sepak bola Indonesia. “Buat apa ada sepak bola bila masih ada darah, nyawa, dan air mata terbuang sia-sia. Pemerintah dan pihak-pihak terkait harus tanggung jawab terhadap kejadian ini,” kata Akmal.

Atas dasar fakta-fakta di atas #SOS menuntut Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo untuk menghentikan ISC! Setidaknya ada empat alasan yang bisa dijadikan rujukan.

Pertama, ISC tak memiliki legal standing yang jelas. Siapa yang bertanggung jawab terhadap permasalahan yang terjadi sejauh ini terkesan tertutup. Pemerintah, PSSI, GTS? Bila Pemerintah, BOPI sebagai lembaga yang menangani olahraga professional sejauh ini tak mengeluarkan rekomendasi. PSSI sedari awal tidak dilibatkan karena saat ISC digelar posisinya dibekukan Menteri Pemuda dan Olahraga. GTS? Dari mana mendapatkan hak sebagai operator? “Ini sangat riskan dan berisiko di tengah persaingan sengit para kontestan dari Sabang sampai Merauke,” kata Akmal.

Kedua, ISC yang dikelola GTS dan diharapkan sebagai proyek percontohan reformasi tata kelola sepak bola Indonesia tak memberikan contoh yang benar. Mulai dari kasus Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) pemain asing, kontrak pemain, sampai kepada pengelolaan dan pembinaan suporter yang berujung hilangnya enam nyawa.

Ketiga, keinginan Presiden Jokowi agar sepak bola harus tetap jalan sebagai hiburan masyarakat faktanya malah menjadi tempat bersimbahnya darah, nyawa, dan air mata. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan orangtua, sanak saudara, dan tetangga ketika anak kesayangan mereka pulang nonton sepak bola sudah tertutup kain kafan dan keranda mayat.

Keempat, tak adanya langkah-langkah konkret dari pemerintah, kepolisian, PSSI, dan GTS untuk mencegah terjadinya aksi-aksi anarkis di lapangan yang berujung kematian. Tak ada regulasi untuk suporter seperti Football Spectator Act (FSA) di Inggris. Selain itu, dari enam korban tewas belum ada satupun yang diusut tuntas dan pelakunya diberikan hukuman sesuai undang-undang.  GTS dan klub juga tak ada upaya-upaya pembinaan terhadap suporter untuk mencegah potensi kerusuhan dan bentrokan. “SOS berharap Presiden melihat fakta-fakta di lapangan dan menuntut untuk dihentikannya ISC sementara karena sudah tak bisa memberikan hiburan bagi masyarakat. Bahkan, sudah mengalami distorsi menjadi ladang pembantaian dan kuburan massal,” kata Akmal. “ISC silakan bergulir kembali bila operator dan pihak-pihak terkait bisa memberikan jaminan berjalan lebih baik dan tak akan ada nyawa lagi yang jadi tumbal,” Akmal menegaskan. (*)