Meski Bonek Disakiti, Jangan Musuhi Klub dan Kelompok Suporter Lain

Kongres PSSI 2016. (Foto: Liputan6.com)

10 November 2016, mungkin akan menjadi hari yang akan selalu diingat Bonek sampai kapan pun. Hari Pahlawan yang diharapkan menjadi momentum kembalinya Persebaya ternyata menjadi cerita sedih ketika Haruna Soemitro bersama Kelompok 85 (K85) menolak agenda mengenai Persebaya dan klub-klub lainnya, sehingga Persebaya kembali tidak diakui oleh PSSI.

Jagad dunia maya geger, kemarahan Bonek ditumpahkan, di dunia nyata pun begitu. Bonek langsung turun ke jalan melumpuhkan pusat kota Surabaya dalam beberapa saat.

Kemarahan Bonek bisa dipahami, kesabaran ada batasnya. Dalam memperjuangkan Persebaya segala upaya telah ditempuh. Mulai dengan boikot, aksi demonstrasi, sampai dengan jalur pengadilan dan pengurusan Hak Merek.

Dalam kemarahan tersebut, ada yang menumpahkan kekesalan pada suporter dan klub yang tergabung dalam K85. Klub dan suporter memang tak bisa dipisahkan. Namun seyogyanya, semuanya juga harus dipilah.

Yang kita lawan adalah kelompok besar yang penuh dengan intrik politik dan dana yang tak terbatas. Lima tahun perlawanan harusnya mengajarkan kita bahwa revolusi tak dapat diraih jika kita sendirian.

Apa yang kita lakukan di media sosial dengan menumpahkan kekesalan pada klub atau suporter lain yang tergabung dalam K85, saya rasa akan menimbulkan antipati pada perjuangan kita. Yang ujung-ujungnya bisa saja memutus hubungan baik yang telah ada selama ini.

Bonek memang suporter besar, Bonek memang bisa melawan sendirian. Tapi menambah musuh baru, saya rasa itu harga yang terlalu mahal.

Pendahulu kita telah bersusah payah berdamai dengan suporter lain. Lalu jangan karena emosi sesaat kemudian apa yang sudah dicapai selama ini menjadi sia-sia. Namun harus dipahami, bahwa menjaga hubungan dengan suporter lain bukan berarti mendukung klub lain atau mendewakan hubungan pertemanan tersebut. Karena sepertinya hal ini menjadi salah kaprah. Tetap, hakikat kita adalah suporter Persebaya.

BACA:  Trunojoyo Mania Boikot Dukung Madura United

Dengan tetap menjaga hubungan baik, kita bisa berupaya memberikan pemahaman bahwa memang ada yang salah dengan sepak bola kita. Nasib Persebaya sekarang ini bisa saja menimpa klub lain di kemudian hari. Dengan adanya pemahaman akan menumbuhkan kesadaran revolusioner.

Menumbuhkan kesadaran revolusioner untuk melawan, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tidak pula semudah memberikan doktrin tentang surga dan neraka, lantas orang-orang akan patuh. Kesadaran revolusioner harus hadir dari lubuk hati yang terdalam, melalui pengalaman yang didialogkan. Dia mesti bangkit dengan sendirinya.

Yah, membayangkan sebuah revolusi tidak sama dengan meneguk segelas kopi sembari menghisap sebatang rokok, yang hanya sekedar menikmati sensasinya. Tidak sedahsyat menyaksikan film-film dan membaca buku-buku revolusioner, lantas berfantasi tentang revolusi.

Aksi perlawanan kita selama lima tahun ini jika disadari telah memberikan banyak sekutu atau teman baru. Mulai dari media yang lebih memahami Bonek, yang pada akhirnya menuliskan dengan obyektif perlawanan Bonek. Pemerintah yang juga satu suara dalam membenahi PSSI. Sampai dengan simpati dari suporter klub lain.

Dalam masa lima tahun ini, alhamdulillah, hubungan dengan suporter rival ke arah yang lebih baik. Disadari atau tidak, ini adalah buah dari simpati dan respek atas perjuangan Bonek.

Momentum 10 November kemarin, harusnya juga menyadarkan kita, bahwa kita harus bersatu. Manajemen jangan terus berjarak dengan Bonek. Dengarkan aspirasi Bonek. Bonek sendiri harus menyelesaikan api dalam sekam internalnya. Jangan lagi ada gontok-gontokan antar Bonek baik di dunia maya dan nyata. Pinggirkan ego, demi kembalinya Persebaya.

Memang yang saya tulis seperti utopia, namun dari sebuah mimpi semuanya bisa terjadi. (*)