Surat Terbuka Untuk Suporter: Ayo Boikot Laga Klub Pujaanmu

Kepada teman-teman suporter di seluruh Indonesia,

Kita pasti setuju jika kita tidak akan pernah rela untuk tertawa sementara yang lain menderita. Kita tidak tega untuk berjoget ria di saat saudara-saudara kita masih berjuang menuntut keadilan.

Tepat di Hari Pahlawan di mana bangsa Indonesia memberi hormat atas perjuangan arek-arek Suroboyo, Persebaya dan Bonek kembali ditindas federasi. Janji PSSI untuk mengembalikan hak-hak Persebaya yang selama ini dirampas rupanya tidak terbukti. Klub kebanggaan kami dipaksa mati dan tidak diterima menjadi bagian dari keluarga besar sepak bola negeri ini.

Bonek sekali lagi harus berjuang melawan ketidakadilan. Bonek harus berjuang sampai titik darah penghabisan.

Kami tahu jika saat ini tidak ada keadilan di dunia sepak bola kita. Kepengurusan PSSI yang baru rupanya diisi orang-orang lama yang terbukti gagal membangkitkan sepak bola.

Tidakkah kalian tahu dan sadar itu?

Selama ini, pengurus PSSI hanya bisa membuat sebuah kompetisi sepak bola yang tidak ada esensinya untuk prestasi. Semua kebobrokan terlihat jelas menghiasi jalannya kompetisi. Lihatlah bagaimana kekerasan banyak menghiasi setiap laga. Tengok banyaknya perkelahian antar kelompok suporter yang menimbulkan korban jiwa. Tatap dengan jelas bagaimana pemain sering memukuli wasit. Lihat masih ada saja pemain yang gajinya tak dibayar klub. Sementara, penyelenggara kompetisi tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Mereka hanya jago memberi sanksi berupa denda saat klub kalian melanggar aturan namun seenaknya melanggar aturan yang dibuatnya.

Kompetisi itu memang terlihat meriah di layar televisi. Kita bisa melihat kompetisi dikemas sedemikian rupa sehingga mirip liga profesional di luar negeri. Suporter berjoget sambil meneriakkan yel-yel. Mereka gembira dan tertawa menikmati jalannya pertandingan.

Tapi apa arti semua itu jika kebobrokan-kebobrokan masih dilanggengkan? Apa arti kemenangan yang didapat klub kesayangan kalian jika sportivitas tidak diutamakan? Terlebih lagi, di tengah-tengah euforia kompetisi, Persebaya sebagai salah satu pendiri PSSI hingga detik ini hak-haknya dilecehkan.

BACA:  Bertemu Dengan Kekasih Yang Telah Lama Hilang

Semua suporter bersaudara. Bonek, Viking, Jakmania, Aremania, Pasoepati, Brajamusti, dan semua kelompok suporter adalah saudara. Kita mempunyai cita-cita sama agar sepak bola kita berprestasi dengan menjunjung sportivitas tinggi. Namun cita-cita itu masih sebatas angan-angan. Jangankan bisa mewujudkan, Bonek masih saja dikebiri.

Sebagai saudara, relakah kalian melihatnya? Tegakah kalian berjoget menyaksikan striker pujaan kalian mencetak gol sementara Bonek menderita?

Jika masih mempunyai hati nurani dan menganggap kami benar-benar saudara, ayo tunjukkan nyali kalian dengan memboikot semua pertandingan klub kalian. Prihatin dengan nasib kami bukan hanya ditunjukkan dengan menulis status di media sosial, melainkan harus dengan tindakan nyata.

Klub bisa besar karena kita. Kompetisi bisa meriah jika banyak yang nonton. Jika tanpa kehadiran suporter, kompetisi itu akan hampa.

Tirulah klub-klub di Spanyol yang berani memboikot dengan tidak bertanding saat salah satu klub tidak mau membayar gaji para pemainnya. Kami tahu klub-klub kalian tak akan mau menirunya. Kalianlah yang bisa. Boikotlah sampai hak-hak klub kebanggaan kami dikembalikan. Boikotlah sampai sportivitas dijunjung tinggi. Boikotlah sampai PSSI menjadi federasi yang jujur dan amanah. Hanya dengan cara itulah kita bisa memberi pesan agar mereka tidak main-main dengan kita. Tunjukkan bahwa suporter punya kekuatan. Saatnya kita bersatu melawan ketidakadilan. Jangan mau diceraiberaikan dengan diadu domba antar suporter. Jangan mau dininabobokkan hanya dengan sebuah kompetisi yang terlihat mewah padahal aslinya bobrok.

Menyelamatkan sepak bola dari kebobrokan bukan hanya jargon dan hiasan bibir semata. Kita butuh aksi, bukan omongan manis. Segeralah bergerak. Bonek menunggu aksi nyata kalian!