Ngobrol Cerdas UMS Soroti Gerakan Bonek di Masa Depan

282
Dari kiri ke kanan: Gerson Sumolang, Dhahana Adi, Ram Surahman di acara Ngobrol Cerdas yang diadakan BEM UMS, Senin, 21 November 2016. (Foto: Bimbim/EJ)

EJ – Semakin banyak diskusi yang membahas Bonek dan fenomenanya. Saat ini semua telah menyadari arti penting dialog untuk memahami karakter Bonek. Sebuah acara dialog berjudul “Bonek dan Spirit Arek Suroboyo” digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) bekerjasama dengan Arek Bonek 1927, Senin, 21 November 2016. Acara yang digelar siang itu dipenuhi ratusan Bonek yang ikut hadir.

Acara dibuka oleh Ketua BEM UMS, Firdaus Suudi. Sebelumnya, lagu Indonesia Raya dan lagu Persebaya Kau Tak Sendirian berkumandang mengawali acara.

Dalam sambutannya, Firdaus mengatakan bahwa acara yang digelar merupakan awal dari berbagai acara atau kerjasama antara UMS dengan Persebaya dan bonek di masa mendatang.

Rektor UMS, Sukadiono, yang turut hadir menyatakan bahwa ia juga seorang Bonek. “Saya ini walau orang Jombang tetapi saya Bonek tulen,” kata Sukadiono.

Ia dengan lancar bisa menyebutkan berbagai prestasi Persebaya masa lalu bersama para pemain legendanya. Terkait perjuangan Bonek, Sukadiono mengatakan bahwa ini adalah mental dan karakter Arek Suroboyo. Karakter pejuang ini harus terus dipupuk untuk generasi yang akan datang. Terus dibina dalam jalan yang baik dan berkemajuan.

“Kami dari kampus UMS siap membantu dan mendukung kembalinya Persebaya di kancah sepak bola nasional” tegas Sukadiono

Acara dialog ini menampilkan tiga narasumber, yakni Gerson Sumolang dari Grup Pemerhati Sejarah Persebaya, Dhahana Adi penulis buku Surabaya Punya Cerita, dan Ram Surahman, Coorporate Secretary Persebaya.

Gerson Sumolang mengawali diskusinya dengan menceritakan beberapa kilas balik Bonek dan Persebaya dalam perspektif sejarah. Gerson menyatakan bahwa filosofi nekat dalam diri Bonek adalah semacam kasta tertinggi dalam mendukung Persebaya. “Nekad lebih tinggi dari sekedar berani. Karena sudah pasrah kepada yang maha kuasa,” kata Cak Gerson.

BACA:  Mahasiswa Ilmu Sejarah Unair Adakan Pameran History of Persebaya
Bonek yang memenuhi area diskusi. (Foto: Bimbim/EJ)
Bonek yang memenuhi area diskusi. (Foto: Bimbim/EJ)

Sementara Ipung, panggilan akrab Dhahana Adi, lebih menyoroti gerakan Bonek dari sudut ilmu sosiologi bidang ilmu yang dipelajarinya. Menurutnya, Bonek harus lebih banyak melakukan kegiatan brand activation dalam arti bisa melakukan sinergi ke berbagai komunitas di luar bonek, kampus, dunia kreatif, dan lainnya.

“Jangan terkungkung dalam dunia yang sempit. Gerakan Bonek harus meluas dan lebih baik lagi,” kata Ipung. “Bonek adalah sebuah identitas kultural” lanjutnya.

Akan menjadi hal luar biasa bila semua potensi Bonek yang ada di berbagai disiplin ilmu dimanfaatkan untuk masyarakat banyak. Perjuangan B onek akan semakin didukung masyarakat luas jika ini terus menerusdilakukan bonek di lintas generasi.

Ram Surahman melihat fenomena Bonek di era digital. Perjuangan yang sangat masif ini harus diakui ada berkat peran besar media sosial. Hal ini karena perbedaan jaman dibanding Bonek satu dekade silam.

“Bonek generasi sekarang adalah generasi digital. Tidak ada yang bisa menghentikan perjuangan ini,” kata Ram. Media sosial juga akan mempunyai peran besar untuk meningkatkan value dari pergerakan Bonek itu sendiri

Kekuatan media sosial harus diimbangi dengan kekuatan riil di lapangan dalam arti positif. Sebagai kontrol manajemen, Bonek bisa menggunakan berbagai media untuk menyampaikan hal-hal untuk kemajuan Persebaya. Bonek juga melakukan perlawanan terhadap federasi saat ini.

Dalam penutup acara ini, salah satu perwakilan AB 1927 yang juga mahasiswa UMS, Rifi Hadju, mengatakan bahwa kerjasama Bonek dengan kampus akan berlangsung secara berkala dengan format berbeda. (bim)