Hari Penghakiman Buat Persebaya

Hari ini Sabtu, 7 Januari 2017 dan Jam di kamar sudah menunjukan pukul 21.24 WITA saat kata pertama dalam artikel ini saya ketik dan mungkin tulisan ini sedang dulur-dulur baca di hari Minggu, 8 Januari 2017. Ya, itupun juga tergantung pada redaksi yang akan memuat tulisan ini.

Nada lagu Persebaya Emosi Jiwaku mengalun merdu memantul-mantul di dinding kamar, mengingatkan bahwa di Bandung, 8 Januari 2017 dalam Kongres tahunan PSSI, akan menjadi momentum yang sangat penting bagi Persebaya Surabaya. Momentum yang dijanji-janjikan akan menjadi titik tolak kembalinya klub kebanggaan kota Surabaya PersebayaSurabaya ke Kompetisi Nasional.

PSSI Bukan Milik Ketua atau Exco

PSSI sebagai organisasi sepakbola tertinggi di negeri ini bukanlah milik Ketua PSSI maupun anggota EXCO. PSSI adalah milik anggota PSSI. Maka, setiap keputusan PSSI harus berdasarkan atas restu dan ridho dari anggota-anggotanya.

Sehingga, mengenai masalah pengakuan dan pengembalian Persebaya Surabaya ke kompetisi nasional adalah tergantung pada voter. Hal ini didukung juga oleh pernyataan Sekjen PSSI, Ade Wellington.

Dari dan oleh karenanya, atas dasar konsep itulah yang membuat menarik berjalannya kongres PSSI tahun ini dalam membahas status Persebaya. Pertanyaan yang paling mendasar adalah, apakah para anggota voters PSSI akan dan sudah pasti merestui dan meridhoi Persebaya untuk kembali diakui dan kembali berkompetisi. Jika diakui, apakah akan ada dua tim Persebaya? ataukah Persebaya (PT Persebaya Indonesia) akan terdaftar menjadi anggota yang baru?

Beberapa kali diperhatikan, para petinggi klub Persebaya Surabaya tidak tampak melakukan upaya pendekatan kepada para anggota PSSI dan para Voters Kongres PSSI. Hal ini tentu sangat riskan, karena nasib persebaya ditentukan oleh para Voters bukan oleh Ketua PSSI atau anggota Exco. Jadi, meskipun Ketua dan anggota Exco berkali-kali memberi angin segar dan berjanji kepada Bonek bahwa Persebaya akan kembali, ya, jangan senang dulu. Ini PSSI bung, janji seringkali hanya tinggal janji.

Perdebatan Mengenai Nasib Persebaya dan BFC

Pembahasan yang akan menarik dalam kongres mengenai Persebaya adalah mengenai status Bhayangkara FC dan Persebaya (PT PI). Seperti kita semua tahu, BFC bisa tampil di kompetisi nasional dan diakui oleh PSSI eksistensinya tidak lain dan tidak bukan karena menggunakan nama Persebaya Surabaya dalam keanggotaannya di PSSI. Karena, menurut logika PSSI hal ini didasarkan pada sejarah awal dualisme Persebaya. PSSI hanya mengakui Persebaya(PT MMIB), karena yang berkompetisi secara resmi di dalamkompetisi PSSI adalah Persebaya (PT MMIB). SedangkanPersebaya (PT PI) membelot dan berkompetisi di Liga Primer Indonesia (yang tidak diakui PSSI).

BACA:  Operator, Segeralah Rilis Jadwal Liga 2!

Bahkan, sampai saat ini BFC bisa mengikuti Kongres dan diakui eksistensinya oleh PSSI karena terdaftar atas nama Persebaya Surabaya, meskipun status hukum dan status hak merek Persebaya sudah jatuh kepada PT PI.

Ya, meskipun pihak BFC bisa saja membantah, “Eh, kami tidak menggunakan nama Persebaya sebagai merek lho, kami tidak memperdagangkan nama Persebaya ke khalayak umum, kami menggunakan nama BFC. Kalaupun ada nama Persebaya, itu bukan merek, tapi keanggotaan kami terdaftar sebagai Persebaya di PSSI.” Karena, sangat tipis kemungkinan bagi BFC untuk ikhlas melepaskan saja keanggotaanya.

Perdebatan tersebut yang akan menarik diikuti sebenarnya, mungkin saja nantinya akan ada dua nama Persebaya dalam administrasi keanggotaan PSSI. Persebaya untuk BFC dan Persebaya 1927 menjadi anggota baru PSSI untuk Persebaya Surabaya. Atau mungkin bisa saja sebaliknya, nama keanggotaan Persebaya yang saat ini menjadi payung dari BFC kembali kepada Persebaya Surabaya (PT PI) sedangkan BFC akan terdaftar sebagai anggota baru.

Ataupun bisa saja, BFC akan tersingkir di gantikan oleh Persebaya Surabaya, atau bisa saja sebaliknya Persebaya Surabaya yang malah tidak diakui. Dan bisa sajakeputusannya malah disuruh untuk merger. Wallahuallam.

Ibarat kata, Kongres PSSI tahun 2017 ini akan menjadi judgement day (Hari penghakiman) bagi Persebaya Surabaya dan BFC. Siapakah yang akan tersingkir atau dua-duanya malah akan selamat.

Kesiapan Bonek akan Hasil Kongres

Hal lain yang akan menarik untuk dipantau adalah kesiapan para bonek dalam mendengar keputusan kongres terhadap klub kebanggaanya. Apakah bonek sudah siap mental lahir dan batin untuk menang dalam artian Persebaya kembali ke kompetisi nasional dan siap untuk kalah dalam artian status Persebaya Surabaya menjadi tidak dikabulkan. Apakah bonek sudah siap untuk bersikap dewasa?

Akhir kata, Tuhan tidak mengajarkan kita untuk sukses, Tuhan hanya mengajarkan kita untuk berjalan dan terus berjalan tak kenal putus asa, dan kawan-kawan bonek sudah melakukan itu.

Semoga Tuhan ikut terharu dan iba terhadap perjuangan kawan-kawan bonek selama bertahun-tahun terakhir ini. Sehingga, Tuhan menjadi tidak tega dan akhirnyamengabulkan doa bonek agar Persebaya dapat kembali eksis di kancah sepak bola nasional. Mungkin, tidak hanya di level nasional dan internasional bahkan kalau perlu Persebaya bisa eksis dan berkompetisi di level dunia dan akhirat.

“Lho?”

“lho apanya?”

“Cak, kalau di level akhirat, Persebaya malah sudah eksis cak. Di level akhirat, PSSI-nya lebih fair. Persebaya dikapteni oleh Rusdi Bahalwan, bahkan sudah bertanding melawan Legenda Manchester United, Torino dan Caphecoense. Tinggal di dunia ini lho kok ya ruwet soro“

Sekian.

Denpasar, 7 Januari 2017

*) By Ashari Setya