Refleksi Perjuangan Bonek Membela Persebaya

Foto: Joko Kristiono/EJ

Salam Satu Nyali!

Rintik hujan malam dalam balutan dingin ini. Perkenankan diri ini menuliskan refleksi singkat dari apa yang disebut “Perjuangan Bonek Membela Persebaya”.

Kutipan-kutipan di bawah ini adalah cermin dan potret dari apa yang sesungguhnya telah dilampaui Bonek selama ini.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka“.

“Revolusi bukanlah taman mawar. Sebuah Revolusi adalah pertarungan sampai mati antara masa depan dan masa lalu”.

“Revolusi bukanlah sebuah apel yang jatuh ketika sudah matang. Anda harus membuatnya Jatuh”.

Kutipan dari Al Quran, Fidel Castro dan Che Guevara diatas membingkai perjuangan bela Persebaya.

Bonek paham dan sadar betul bahwa kebenaran harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Keadilan tidak tiba-tiba turun dari langit, kemenangan bukan hasil kebaikan budi seseorang. Tak lupa, Bonek juga memahami betul bahwa perjuangan bela Persebaya bukan seperti bau parfum atau balon-balon sabun yang mudah hilang tersapu angin. Perjuangan Bonek sepanas kawah candradimuka.

Bagi Bonek, tidak ada yang tak mungkin untuk diubah selama itu dibuat oleh manusia.
Nalar sehat pun mungkin tak percaya bahwa Bonek sanggup mengembalikan Persebaya.
Logika pun tak mampu menerjemahkan tentang perjuangan Bonek melawan kekuasaan zalim yang super kuat nan perkasa.

Kerikil-kerikil tajam pernah remuk oleh kaki-kaki kekar Bonek. Tembok-tembok beton yang jadi penghalang perjuangan pun roboh oleh militansi Bonek. Taktik adu domba dari lawan pun sanggup dilumpuhkan dengan soliditas Bonek.

Perjuangan bela Persebaya adalah perjuangan membela kebenaran.
Perjuangan terhebat yang akan tercatat dalam sejarah sepakbola.
Perjuangan yang tak akan pernah lekang dimakan zaman.

BACA:  CAP12, Komunitas Mural Pendukung Persebaya

#WANI
Surabaya, 12 Januari 2017

*) Catatan Oldies Mbois