Selayang Pandang, Kisah Perjuangan Heroik Bonek Membela Persebaya

197
Aksi Bonek di GOR Pajajaran. (Foto: Joko Kristiono/EJ)

Sebut saja Bonek, suporter militan klub sepak bola Persebaya. Persepsi publik dan khalayak masyarakat terus dan selalu memberikan labelisasi negatif terhadap aktifitas Bonek saat mendukung Persebaya. Sekecil apapun perbuatan buruk Bonek akan menjadi isu seksi dan berita besar bagi media massa tanah air.

Enam tahun yang lalu, menjadi titik awal bagi Bonek meneguhkan diri secara bersama-sama, berjuang melawan pendzoliman kepada Persebaya. Saat Persebaya dipaksa kalah WO melawan Persik Kediri untuk menyelamatkan anak kesayangan PSSI yaitu Pelita Jaya.

Bisa jadi pikiran PSSI kala itu, meremehkan dan mengkerdilkan perlawanan Bonek. Apa mungkin dan mustahil kiranya jika Bonek mampu bertahan melawan dan berjuang sampai sekarang ini. Kala itu, PSSI tentu beranggapan suporter itu mudah terbeli, tidak konsisten dan “joget” belaka.

Siapapun boleh memperdebatkan tentang posisi Persebaya sebagai klub inisiator lahirnya Liga Primer Indonesia (LPI) dan Indonesia Premier League (IPL). Perdebatan apapun dalam situasi apapun pula, yang tak bisa disanggah adalah bahwa Persebaya adalah klub sepakbola yang berani melawan ketidakadilan dalam sepakbola Indonesia.

Upaya PSSI dengan kelompok-kelompoknya mengkloning Persebaya tidak menyurutkan perjuangan arek-arek Bonek. Mayoritas suporter Bonek tetap berada dan setia bersama di rumah besar jalan Karanggayam No. 1 Surabaya

Tak cukup itu saja, didatangkanlah pemain-pemain nasional di Gelora Bung Tomo untuk menarik dukungan Bonek agar menonton Persebaya kloningan.

Bagaimana respon Bonek? Mayoritas Bonek tak tergiur sedikitpun. Mayoritas Bonek meneguhkan sikap, tidak akan hadir di Stadion Gelora Bung Tomo jika bukan Persebaya yang asli yang bertanding.

Tak perlu ada yang ditutup-tutupi dan disembunyikan dualisme Persebaya mengakibatkan gesekan dan konflik di antara Bonek itu sendiri. Tapi Mayoritas Bonek mendukung Persebaya Jalan Karanggayam No 1 Surabaya.

Gesekan fisik, fitnah, dan kampanye hitam untuk menjatuhkan perjuangan mayoritas Bonek tak terhindarkan. Ejekan menjadi makanan rutin setiap hari.

April 2013, dalam Kongres PSSI di Hotel Shangrila, Surabaya, semakin menegaskan bahwa PSSI ingin mengubur dalam-dalam Persebaya yang asli dalam kiprahnya di sepak bola nasional.

Lantas apakah Perjuangan Bonek berhenti? Tidak, perlawanan arek-arek Bonek semakin membesar. Perjuangan Bonek justru semakin masif, kontinyu dan militan. Gesekan dengan ormas, konflik dengan aparat keamanan, dan bersitegang dengan media massa yang pro PSSI menjadi cerita yang berulang-ulang.

Bonek meneguhkan diri sebagai pejuang sejati kala mampu memaksa pemerintah untuk membekukan PSSI. Dan ini tidak pernah terjadi dalam sejarah sepakbola se-dunia.

Bonek juga mampu memberi pengaruh yang luar biasa sehingga putusan Pengadilan Niaga Surabaya memenangkan Persebaya yang asli di bawah naungan PT Persebaya Indonesia.

Yang tak kalah pentingnya, Bonek mampu memaksa Persebaya Kloningan berubah nama menjadi Persebaya United, Bonek FC, Surabaya United, Bhayangkara Surabaya United, hingga menjadi Bhayangkara FC.

Seharusnya Permasalahan Persebaya selesai karena sudah tidak ada dualisme. Tapi tidak, Bonek masih terus berjuang untuk mengembalikan Persebaya. Tak terhitung berapa banyak aksi Bela Persebaya yang dilakukan Bonek dengan mengambil banyak tema aksi.

Perjuangan Bonek yang eksplosif dan mencengangkan ketika gruduk Jakarta 1 dan 2. Bagaimana bisa Bonek mampu hadir di Jakarta dengan ribuan massa dengan terbuka dan bisa diterima oleh Jakarta yg notabene mayoritas ada suporter Persija yang masih jadi rival Bonek.

Phobia dan ketakutan yang berlebihan bahwa akan ada kerusuhan selama Bonek berada di Jakarta terbantahkan sudah. Puncak perjuangan Bonek mengembalikan Persebaya diakhiri di Bandung. Bukan tanpa masalah dan lurus-lurus saja. Ketum PSSI mengultimatum Bonek untuk tidak datang ke Bandung. Ketum PSSI akan mencoret Persebaya.

Bonek paham dan sadar betul bahwa PSSI masih berisi orang-orang yang tidak ingin Persebaya yang asli kembali. Bagi mereka, kembalinya Persebaya adalah kekalahan mereka. Bonek meneguhkan sikapnya untuk tetap datang ke Bandung. Apapun resikonya apapun konsekuensinya. Susah senang ditanggung bersama.

8 Januari 2017 menjadi saksi dan sejarah terhebat dari perjuangan membela kebenaran dan menegakkan keadilan.

8 Januari 2017 menjadi catatan penting bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Bagi Bonek,
Keadilan adalah ibunda perjuangan dan perlawanan
Melawan dengan sebaik-baiknya
Berjuang dengan sehormat-hormatnya

Tabik,
Ditulis dengan ditemani kopi hitam
Direngkuh nikmatnya Kretek

*) Bonek Oldies