Mengangkat Kembali Istilah Bondo Maling (Boling)

Warung makan di GOR Pajajaran yang perlengkapannya dirusak Bonek.

Fenomena Bonek yang membuat onar dan melakukan penjarahan pada Final Liga Kansas tahun 1997 membuat berbagai pihak geram. Mulai dari Basofi Sudirman (Gubernur Jawa Timur pada saat itu) sampai dengan bapake Bonek Cak Narto (Wali Kota Surabaya) memunculkan istilah Boling sebagai pembeda dari Bonek yang telah berbuat santun dalam mendukung Persebaya.

Istilah Boling sepertinya perlu diangkat kembali ketika fenomena yang sama yaitu adanya penjarahan yang terjadi dalam aksi “Menjemput Persebaya” di Kota Bandung (8/1/2017). Ulah segelintir orang yang melakukan penjarahan telah mencoreng mayoritas Bonek yang mendukung dengan santun. Sebelum hal ini menjadi tradisi yang sulit untuk dilawan, perlu upaya lebih dari Bonek untuk menertibkan hal semacam ini.

Dalam buku yang berjudul Bonek: Berani Karena Bersama (1997), Basofi Sudirman mengidentifikasikan penonton sepakbola menjadi tiga, yaitu:

Pertama, mereka yang dapat diidentifikasi sebagai pecinta murni olahraga yang tahu pula mencintai olahraga. Kalangan ini adalah mereka yang selain suka terhadap olahraga, juga suka terhadap kondusifitas dan “suasana” perolahragaan yang baik.

Kedua, mereka yang sesungguhnya murni mencintai olahraga, dan mencurahkan segala potensinya -terkadang dengan tanpa mempertimbangkan keterbatasan dirinya- demi olahraga yang digemarinya. Tipologi kalangan ini dikenal dengan Bonek (Bondo Nekat).

Ketiga, mereka yang pura-pura murni mencintai sepakbola, tapi perilakunya justru murni tidak mencintai sepakbola. Inilah tipologi Boling (Bondo Maling).

Bonek sendiri identik dengan subkultur Arek, yang ada nilai berani meskipun kasar, berpikiran bebas, jantan, terbuka dan heroistik seperti digambarkan Harvey, sosiolog Australia yang meneliti tentang Kultur Jawa Timur. Subkultur Arek Suroboyo ini bisa jadi terbentuk lama dari genegrasi ke generasi. Paling tidak seperti dicatat William H. Frederick, Guru Besar Sejarah pada Universitas Ohio, AS, fenomena subkultur ini telah kental pada awal abad ini. Proses perkembangannya berlangsung secara linier, juga kompleks. Sejak awal Arek Suroboyo tidak menunjukkan pada etnik dan sosial tertentu (Anwar Hudijono, 1997).

Namun pada fenomena Boling, sepertinya telah terjadi bias pada subkultur arek, sehingga mengarah pada perbuatan destruktif yang menyimpang dari perwatakan heroisme itu sendiri. Keberanian dan heroisme alias sikap kepahlawanan dipahami secara menyimpang dengan cara menghalalkan segala cara bahkan melakukan penjarahan untuk bisa mencapai tujuan, yang seolah bagi mereka linier dengan pengekspresian pendahulunya ketika terlibat dalam peristiwa 10 November. Padahal itu adalah salah kaprah, tindakan seperti itu akan mencoreng citra Bonek sebagai supporter Persebaya dan nama baik Surabaya.

BACA:  Persebaya di Antara Gegap Gempita HUT Surabaya ke-723

Menurut Basofi Sudirman, Bonek ketika dipahami secara positif sesungguhnya menempati posisi yang strategis. Salah satu yang menonjol dari Bonek adalah kekuatan atau gairah dukungannya yang luar biasa dicurahkan untuk tim andalannya. Bonek dalam perspektif yang positif, merupakan sebuah simbol bagi kesungguhan yang dahsyat untuk mencapai atau memperjuangkan sebuah kemenangan.

Sayang sekali jika Bonek dalam perspektif positif, dicoreng dengan adanya fenomena Boling. Bisa dikatakan Boling telah menghitamkan dan memanipulasi citra Bonek untuk menciderai olahraga dengan bertamengkan fanatisme. Jumlah Boling sesungguhnya tidak banyak namun mereka menjadi setetes tinta masuk ke air. Terkesan mewarnai, meskipun, dengan warna kemungkaran.

Oleh karena itu, Cak Narto, ketika menjadi Wali Kota dan Ketua Umum Persebaya, pernah berujar, “Mereka itu bukan Bonek (Bondo Nekat) lagi tapi Boling (Bondo Maling)”.

Sudah lama fenomena ini ada, namun semenjak awal tahun 2000 sudah mulai banyak Bonek yang masif bergerak menghapus citra jelek tersebut. Saat ini banyak sekali kegiatan Bonek yang sungguh-sungguh baik, seperti penggalangan dana untuk korban bencana, bakti sosial, pembagian takjil, dsb. Dalam mendukung Persebaya pun Bonek lebih terkoordinasi. Saat gruduk Jakarta 1 dan 2, hingga aksi menjemput Persebaya di Bandung, Bonek yang selama ini menjadi momok bagi PT Kereta Api Indonesia bisa menjadi penumpang yang santun dan membeli tiket. Sepanjang perjalanan pun tidak ada gangguan seperti lemparan batu, dsb. Hal ini menunjukkan bahwa Bonek telah lebih dewasa yang akhirnya bisa diterima oleh warga dan supporter lain sepanjang jalur kereta yang dilewati.

Kembalinya Persebaya, jangan sampai dihiasi oleh fenomena Boling lagi. Oleh karenanya mumpung masih belum terlalu jauh, mari kita hadapi fenomena tersebut dengan mengangkat kembali istilah Boling selain dengan penegakan hukum tentunya.

Dengan adanya istilah Boling, adalah bentuk dikotomi yang jelas terhadap Bonek. Sehingga ketika terjadi penegakan hukum yang tegas, tidak ada dalih solidaritas kelompok lagi kepada mereka, karena mereka bukan Bonek. Sudah lama Bonek mentoleransi adanya fenomena Boling, jika bukan Bonek sendiri yang meluruskan, beban psikologis akan selamanya melekat pada Bonek.

Apakah mau anak keturunan anda yang mencintai Persebaya (Bonek) dianggap sebagai penjarah seperti Boling? Tentunya tidak, begitupun saya. (*)

*) Andhi BJ, Bonek Jabodetabek