Menyelesaikan Masalah-Masalah Menuju Klub Profesional

Tulisan ini sambungan dari tulisan berjudul “Persebaya Bisa Jadi Inspirasi Klub-Klub Lain untuk Jadi Profesional”. Tulisan juga merupakan bagian dari serial tulisan tentang Persebaya dan bagaimana mengelola sebuah klub agar menjadi profesional. Diawali dengan belajar bagaimana pengelolaan klub di Thailand hingga pencarian sumber pendapatan agar Persebaya tetap bisa hidup.

***

Setelah masalah sumber pendanaan tuntas, selanjutnya adalah membuat estimasi biaya awal untuk masterplan ke depannya. Jika kita bisa mendapatkan sumber pendanaan dari investor serta sponsorship klub. Untuk masalah sponsorship, harusnya kita tidak perlu dibuat bingung harus bersusah payah dalam mendatangkan sponsor. Persebaya merupakan klub yang memiliki Image Value yang besar, karena merujuk sejarah masa lalu Persebaya dalam segi prestasi, basis suporter yang tersebar hampir di seluruh Jawa Timur sehingga menjadikan Persebaya menjadi tujuan untuk dijadikan mitra kerjasama.

Setelah kesepakatan dengan beberapa sponsor tuntas, kita rekap ulang dan memaksimalkan beberapa aspek klub agar didanai sponsor. Misal dalam segi akomodasi, ketimbang kita harus menyewa atau membeli bus, alangkah baiknya kita menggandeng sebuah merek kendaraan yang bisa memberi kita sebuah armada bus ataupun kendaraan lain secara cuma-cuma. Sehingga dapat menghemat dan mengalihkan pendanaan untuk aspek lain yang lebih perlu untuk ditingkatkan (mengingat untuk akomodasi klub dapat menghabiskan anggaran yang tidak sedikit).

Setelah masalah sponsorship sudah terpenuhi dan sudah mendapatkan dana awal untuk membangun tim beserta infrastrukturnya, kita melakukan perincian dana untuk apa sajakah anggaran tersebut. Katakanlah kita telah mendapatkan dana awal Rp 35 Miliar di tahun pertama untuk membangun klub. Kita tetapkan Rp 10 Miliar untuk membangun sebuah kompleks lapangan yang akan dijadikan tempat latihan milik klub dan memiliki opsi untuk dijadikan tempat lain seperti gym, recovery center, Office center, bahkan mess untuk pemain. Pengalokasian dana tidak bisa selesai dalam satu tahap. Harus dilakukan dari tahun ke tahun dan bertahap. Tetapi bagian terpenting yang harus dibangun adalah kompleks lapangan latihan. Alokasi dana tersebut kita belikan tanah di pinggiran kota Surabaya untuk dibangun sebuah lapangan latihan dan berkemungkinan bertambah setiap tahunnya. Setelah pengalokasian dana untuk infrastruktur sebesar 30 persen dari anggaran utama dalam 7-8 tahun pertama semenjak rencana awal.

Selesai dalam mengatasi urusan infrastruktur, kemudian dibarengi dengan menghidupkan liga internal klub beserta pengembangan bakat muda lokal Surabaya. Untuk masalah bibit muda, Persebaya bisa dkatakan menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Selama ini Surabaya sudah tersohor dengan suksesnya pemain hasil pengembangan liga internal dan pengelompokan pemain junior sejak U-7 hingga primavera. Nilai lebih jika Persebaya dapat mengembangkan lagi dan bahkan memajukannya adalah secara tidak langsung mereka akan menghemat anggaran untuk belanja dan gaji pemain. Persebaya dapat mengandalkan pemain orbitan atupun bisa juga menjualnya ke klub lain.

Masalah selanjutnya yang menurut saya cukup kompleks dan perlu pembenahan serius adalah permasalahan mental suporter. Selama ini Persebaya memiliki basis suporter yang sangat besar dan dikenal militan. Suporter yang dikenal dengan nama “Bonek” ini juga memiliki track record yang cukup panjang dalam dunia persepakbolaan kita. Salah satu yang masih diingat dalam benak para Bonek senior adalah waktu lawatan mereka ke Jakarta guna mendukung Persebaya di tahun 1988.

Untuk saat ini dengan basis suporter yang begitu besar merupakan sebuah nilai lebih untuk sumber pemasukan mengingat saat ini tim harus profesional dan tidak mendapatkan anggaran pemerintah daerah. Menurut pandangan saya sebagai pengamat dan pendukung Persebaya, saya seringkali melihat di lingkungan saya sering nonton Persebaya. Tapi ketika saya tanya apakah membeli tiket, numpang orang lain, atau menek.

Beberapa jawaban mereka adalah menek dan numpang orang lain untuk masuk ke stadion. Jawaban tersebut mengagetkan. Dan saat saya amati secara seksama, terdapat semacam stigma bahwa ketika kita melakukan pelanggaran tersebut (menek dan numpang orang lain), malah akan terkesan keren dan Bonek sejati. Stigma tersebut yang harus kita minimalisir atau bahkan kita hilangkan.

Manajemen Persebaya harus memberikan edukasi serta memberi solusi atas permasalahan tersebut. Dimulai dengan mengedukasi bahwa menek dan numpang orang lain untuk bisa menyaksikan pertandingan membuat Persebaya kehilangan sumber pemasukan yang akan berakibat pada kemungkinan tersendatnya keuangan. Merubah agar mental mereka tetap dengan bondo nekat tapi tetap konstruktif dan berimbas positif kepada klub. Manajemen harus mengubah secara perlahan sembari memberikan apresiasi kepada suporter, seperti memberikan akomodasi ke stadion gratis, dan menghargai hal positif apapun yang telah dilakukan oleh suporter.

BACA:  Persebaya dan Bonek Baru, Menjemput Impian Menjadi Kenyataan

Permasalan tersebut terjadi karena mereka sangat ingin menonton tim kesayangan bertanding tetapi tidak memiliki uang yang cukup. Atas dasar itulah mereka lalu nekat untuk menek dan numpang tiket untuk masuk ke stadion. Berbagai siasat digunakan untuk menanggulangi pelanggaran tersebut dimulai dari tiket terusan sampai adanya ide untuk mendirikan koperasi suporter.

Koperasi suporter mungkin ide yang sangat cemerlang dimana tujuan nya adalah untuk suporter sendiri, “dari suporter untuk suporter”. Koperasi suporter tersebut dapat dijalankan dengan menggandeng atau tanpa manajemen. Cara kerjanya adalah dengan menaikkan sedikit harga tiket biasanya. Ambil saja contoh dengan menaikkan tiket menjadi Rp 28-30 ribu (yang biasanya Rp 25 ribu). Uang tiga ribu tersebut kemudian diakomodir oleh koperasi suporter untuk dikumpulkan dan digunakan untuk membeli tiket untuk para suporter yang pada saat itu dalam posisi tidak memiliki uang untuk menonton pertandingan. Tetapi jangan karena adanya koperasi suporter, para penggemar dengan seenaknya bisa memanfaatkan program tersebut sesuka hatinya. Harus diiringi dengan penanaman dalam hati bahwa ketika dalam posisi keuangan menipis saja kita dapat menggunakan fasilitas tersebut.

Permasalahan ketika awayday juga harus kita rubah. Sebagai suporter tamu, ada baiknya kita menghargai tuan rumah yang telah memberikan kita kesempatan untuk bertandang ke rumah mereka. Menjaga attitude menjadi hal yang wajib kita tanamkan dalam diri sendiri jika ingin merubah mental suporter. Pihak manajemen sebaiknya melakukan koordinasi dengan pihak suporter guna mencari solusi agar rencana baik tersebut dapat terealisasi.

Setelah mengalami break pertandingan yang lama akibat banned dari federasi, tampaknya momen tersebut juga dijadikan sebagian suporter Persebaya untuk berkaca dan menata ulang diri mereka. Dan hasilnya kini sudah mulai sedikit demi sedikit dirasakan oleh para penikmat sepakbola. Dengan adanya suporter kreatif dan santun tentu akan menjadi suatu goals untuk tim yang sedang bertanding. Karena di samping mereka mendukung tim kesayangan, mereka juga tidak bertindak kekerasan. Adanya suatu kelompok suporter yang telah sadar dan berubah menuju ke arah yang baik tentu saja menjadi kabar gembira bagi manajemen (karena ketika suporter melakukan tindakan yang dilarang dalam peraturan dan mendapat denda, klub yang harus menanggungya) dan berharap mereka dapat menularkan kepada para suporter lain secara internal. Terlepas dari itu, suporter tetap harus dibebaskan dalam mengimplementasikan kecintaan mereka terhadap klub. Biarkan mereka cinta dengan caranya sendiri untuk tim kesayangan, selama tidak merugikan sebuah klub.

Masalah pelik terakhir yang sering saya lihat adalah permasalahan pengelolaan merchandise Persebaya. Seringkali saya atau para pembaca mungkin melewati depan Stadion 10 November ketika tidak ada pegelaran sepakbola selalu ramai dengan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan berbagai barang. Setelah kita amati, para pedagang tersebut kebanyakan menjual kebutuhan olah raga dan salah satunya adalah jersey Persebaya. Yang menjadi permasalahan adalah jersey yang dijual tersebut merupakan jersey KW atau bukan official kit Persebaya. Tentu miris dan mau bagaimana lagi karena untuk para pedagang “memodali diri” membeli jersey official tim memang terkadang tidak murah.

Mata rantai tersebut yang kini kemungkinan dapat manajemen putus dan dapat diubah. Mahalnya harga official kit Persebaya dapat disiasati dengan menggadeng apparel lokal yang berkemungkinan lebih murah dalam harga jual jersey dan dapat menghasilkan win-win solution (karena kebanyakan apparel luar menjadikan produknya mahal karena mereka mengikuti acuan profit negaranya), atau dengan membuat brand apparel sendiri agar tidak menyebabkan harga jersey yang mahal. Setelah masalah apparel dapat teratasi kemudian pihak manajemen dapat berkoodinasi, berkonsolidasi dengan pedagang agar mereka dapat dapat menjual official kit Persebaya tanpa harus takut dagangan mereka tidak laku karena terampau mahal.

Momen pasca dibebaskannya pembekuan untuk Persebaya oleh federasi semoga dijadikan waktu yang tepat untuk restrukturisasi menuju arah yang, menjadi tim yang benar-benar profesional, tim yang memiliki jati diri kuat, tim yang bermartabat, dan bersahabat. Dengan banyaknya suporter beserta fanatismenya yang bisa diandalkan, semoga manajemen dapat memanfaatkan Blessing in Disguise tersebut untuk kemajuan serta kesejahteraan klub. Dan goals akhir yang dicapai adalah output untuk tim nasional kita. Ketika tim nasional kita menjadi juara, bukankah yang bangga kita sendiri? (habis)