Surat untuk Penguasa Persebaya

Salam hormat tuan penguasa Persebaya,

Beratus terima kasih saya sampaikan kepada anda beserta prajurit media sebab telah berusaha menyelamatkan laju pengelolaan klub kebanggaan. Beribu apresiasi saya haturkan kepada manajemen yang baru atas nama Jawa Pos yang telah berhasil mengakuisi 70 persen saham Persebaya. Pun juga berjuta kehormatan saya sematkan sebagai bentuk sembah atas kemauan anda untuk menyisihkan dana.

Tidak lupa saya memintakan maaf atas kelalaian saya sebab tak segera menuliskan surat ini di bulan Februari lalu, tepat di saat anda mengangkat syal mahal tertuliskan nama Persebaya yang sangar. Banyak sekali faktor yang menyebabkan kebodohan bisa menguasai kesadaran saya hingga berujing kelalaian. Terlepas dari faktor apapun, kelalaian itu harus saya akui sesuai dengan falsafah Jawa: Sifate kesenengan iku ngelalekno marang sembarang dengahe (sifat dari kesenangan adalah melupakan segala-galanya). Ya, akibat kuatnya rasa senang melihat “Bajol Ijo” kembali membuka mulutnya, ditambah dengan membumbungnya harapan sebab anda dengan janji akan memperbaiki segalanya, maka tangan ini tak bisa lagi berkompromi dengan akal untuk menuliskan pesan yang lama terpendam.

Dalam kesempatan menggores beberapa kalimat tulisan ini, izinkanlah saya memberi tahu beberapa hal yang tampaknya paling esensial untuk anda dalam membuat kebijakan pengelolaan. Saya menyadari betul bahwa mengelola klub sebesar dan sedigdaya Persebaya tidaklah sama dengan mengatur kepala di meja kantor yang tak seberapa banyak pasukannya. Dibutuhkan tidak hanya sekedar instruksi, aturan, dan gertakan agar berbagai komponen atas identitas Persebaya ini tetap survive. Memang sangat susah, sebab proses di dalamnya teramat sangat kompleks pun menggiurkan untuk diselewengkan. Sebagaimana teori sistem Easton menyatakan, bahwa kebijakan tidak akan bisa berjalan efektif pun efisien, jika menganggap bising suara dan keadaan sekitar, mengelola Persebaya sangat membutuhkan komunikasi secara membumi. Tidak sebatas “yang penting bertatap muka”, komunikasi yang saya maksud adalah memfungsikan telinga secara baik dengan mendekatkannya pada mulut setiap lapis komponen yang terkait dengan Persebaya, bahkan ke penduking yang tak terlihat dari lubang pintu kantor anda.

Salam takdzim tuan pengelola Persebaya,

Mungkin anda tidak asing dengan dinamika yang mentradisi di Persebaya. Suatu tradisi yang diciptakan oleh nama dengan berbagai kewibawaan dan ketauladanan. Sebuah nama yang pernah tetua anda sematkan di sekitar tahun 1980-an akhir dalam headline berita. Adalah “Bonek” tulisan yang kala itu dengan bangga ditempatkan di depan halaman koran sebagai pemberian identitas akan fenomena massa yang bergerak menuju Jakarta atas nama mengawal Persebaya berlaga. Ya, saya yakin anda tidak lupa dengan budaya “Bonek” yang dipraktekkan secara istiqamah dari generasi ke generasi.

Tak perlu rasanya saya uraikan tentang tradisi tersebut, sebab cukup saya menyebut “seduluran saklawase” dan “Persebaya sampek matek” anda akan langsung memahaminya. Meski begitu tradisi yang demikian tampaknya ambigu dalam sudut pandang anda sekalian. Tampak sekali anda begitu ragu memberi apresiasi dan kepercayaan pada substansi nama Bonek. Seakan dua kata luhur akronim dari Bonek, yakni Bondo dan Nekat, anda kecilkan maknanya hanya sebatas militansi tanpa koordinasi dan dana administrasi. Sebagai buktinya, mari kita bersama mengoreksi kebijakan anda terkait pengelolaan awal “Green Force”.

Sebagai contoh jika ditanya tentang prioritas utama pengelola klub, saya dengan tegas menjawab “menertibkan suporter”. Bukan tanpa alasan jawaban itu saya lontarkan. Ingatkan anda dengan kebijakan “No Ticket No Game”? Bagi kalangan selain “wong jero”, itu adalah kalimat yang paling diketahui pertama kali oleh kalangan manapun dari pada berita pembelian pemain. Sekilas kebijakan tiket tersebut laksana oase di tengah padang pasir. Akan tetapi seiring implementasinya, saya justru mendapati hal yang celaka bak cerita kematian raja di Persia sebab menyangka baju hadiah yang dikenakannya tidak mengandung bahan berbahaya. Saya mengakui kebijakan anda sangat strategis, sayang sekali harus mendapat hujatan karena tidak terpraktekkan dengan penuh pertanggungjawaban.

Pertama, sudahkah anda membandingkan antara rasa kepemilikan, verstehen menurut Weber, para pecinta Persebaya dengan keuangan mereka? Menurut saya, Bonek berbeda dengan suporter lainnya karena diajarkan untuk meninggikan rasa dari pada pertimbangan dana. Hal itu membawa sisi positif pada ketidakabsennya Bonek dalam setiap laga Persebaya, penuh keramaian dan kekreatifan. Namun sisi negatifnya akan ada beberapa oknum yang memanfaatkan loyalitas Bonek tersebut dengan melakukan tindakan “benalu” dan perilaku “mbobol”, suatu kejadian yang wajib disadari sangat merugikan klub.

Dalam pertimbangan yang demikian, kebijakan anda alangkah lebih baiknya jika diawali dengan mengakomodir bersifat mendidik kepada suporter tanpa memberatkan. Keadaan yang memulai ini telah menasehatkan kepada anda untuk tidak mencekik leher, melainkan hanya perlu memberikan terapi pada nalar. Tampaknya saya perlu menyatakan, bahwa minimal suporter sudah berani untuk tidak merugikan klub kebanggaan. Bahwa minimal mereka telah sadar untuk berani tertib administrasi tanpa meninggalkan militansi. Bahwa kita sudah harus meyakini suatu saat Bonek akan memiliki akomodasi yang mapan, sebab tuntutan atas nama Bondo yang melekat di pojok hati. Bahwa kita musti mengutuk diri masing-masing jika sampai suatu saat Persebaya sepi, bukan karena “nekat” yang telah mati dari hati Bonek, melainkan karena “nekat” yang dipasung oleh materi atas apologi “tertib administrasi”.

BACA:  Memandang Bonek dari Sudut Pandang Berbeda

Kedua, pernahkah anda melakukan tindakan preverentif agar kecurangan yang berujung membunuh budaya tanggung jawab, misal di dalam transaksi pembelian tiket, benar-benar hilang? Bukankah sampai detik ini oknum “calo” selalu berkeliaran dan membuat kebijakan anda mendapat resistensi? Apakah tidak dosa sosial jika “mewajibkan” lebih diutamakan daripada ‘menjamin amannya hak’ pecinta klub bersejarah?. Mengenai itu, saya ingin mengambarkan dengan gaya hyperbola kepada anda tentang keadaan salah satu sedulur yang layak untuk dijadikan bahan renungan, sebab mengajar kepada kita tentang arti sebuah i’tikad yang terpaksa mengalah karena ganasnya administrasi dengan logika ketat padahal sedikit sesat.

Kala itu ia bergumam di sela capeknya: “mau berlaku tertib susahnya melebihi merangkai kata “restu” di depan mertua. Pengen “mbobol” khawatirnya melebihi berjumpa dengan malaikat pencabut nyawa. Duh Gusti, ya opo iki carane iso nonton Persebaya“. Awalnya saya menanggapinya dengan gelak tawa, angin lalu, karena kondisi dia yang setengah merebah tak tampak matanya. Akan tetapi sontak saya tertampar melihat lebam matanya, “selesai menangis ini orang,” gumamku. Saya beranikan bertanya tentang siapa yang berani menjebol bendungan air matanya. Tegas tanpa nada bertele-tele dia menjawab: “gadaian Hp-ku tak cukup menjadi syafaat agar bisa melihat Persebaya berlaga.” Lagi-lagi dari situ semakin teballah keyakinan saya, bahwa bukan faktor dana seperti serangan media mainstream, melainkan keberadaan calo yang memonopoli administrasi sembari bermain mata tak peduli kata “jaim”.

Selamat berbenah tuan bermaterai Persebaya,

Saya ingin bertanya, apakah benar kalau tidak diperbolehkan membawa giant flag di stadion? Kalau iya, apa alasan kebijakan itu dicatat seperti bunyi perundangan? Baiklah saya hanya akan memberi pertimbangan sebagai suporter yang tidak menghendaki kekacauan pun menolak segala bentuk kungkungan kreatifitas sesuai batas.

Saya sadar kebijakan anda selalu berorientasi pada ketertiban, tapi bukan lantas arogan. Tampaknya saya tidak segan lagi untuk menjustifikasi anda dengan label “menghamba pada Eropa”. Bagaimana tidak, meskipun sepak bola Indonesia juga bertalian (chains) dengan Eropa, akan tetapi tidak selamanya harus ‘membeo’ terhadapnya. Sepak bola kita merupakan respon atas hegemoni Eropa yang justru sering kali menyingkirkan tradisi ekspresif kita. Sepak bola kita adalah wadah eksistensi diri sebagai tuntutan dari sisi humanistik diri. Secara teoris, semua itu terejawentahkan lewat praktek-praktek kreasi dalam bentuk apapun, termasuk yang paling sederhana adalah kreasi giant flag.

Jikalau dikatakan anomali alasan dibalik pelarangannya adalah karena mengganggu kenyamanan menonton, sekarang saya balik bertanya apalah gunanya aturan jika terlepas dari kebijaksanaan akan common sense? Bukankah giant flag bisa dikondisikan tanpa mengacaukan kegembiraan dengan cara membuat aturan yang tetap seimbang? Apakah anda kehabisan cara sehingga memilih menghancurkan tradisi yang baik hanya agar terkesan tertib? Tidakkah lebih baik jika giant flag tetap ada hanya saja di tempat tertentu dan diancam jika menyalahgunakannya? Lagi pula, saya beranggapan, berdasar common, bahwa tidak ada yang merasa terganggu selagi bisa tahu tempatnya masing-masing. Justru dengan adanya kebijakan pelarangan itu, kebanyakan pendukunglah yang merasa terganggu. Bukankah di Persebaya posisi euforia berada sangat signifikan, tuan?

Mungkin sampai di sini curahan tulisan untuk keberlangsungan Persebaya. Meskipun berasal dari suporter yang jauh dari pusat Surabaya, tetapi sungguh bijaksana jika anda membaca minimal judul tulisannya. Sebab bagaimanapun juga, kebanyakan para petinggi akan merugi jika telinganya berada jauh dari masyarakat bahkan yang paling bawah, demikian Revolusi Prancis menceritakannya.

Akhirnya penting kiranya saya kutip perkataan tokoh yang dulu pernah berpidato di depan punggawa Persebaya sebagai nasihat sederhana penuh makna bagi panjenengan beserta lainnya: “memaksakan kebenaran kepada orang lain adalah cara yang tidak rasional, meskipun kandungan isinya sangat rasional” (KH Abdurrahman Wahid ‘Gus Dur’).

*) Ferhadz Ammar Muhammad, Kalijaga Class Bonek Jogja

Facebook Comments