Bertemu Dengan Kekasih Yang Telah Lama Hilang

Hari ini adalah hari Minggu ketiga di bulan Maret. 19 Maret 2017 adalah hari yang saya tunggu, bahkan mungkin ditunggu oleh Bonek di seluruh Surabaya maupun di luar Surabaya. Kenapa? Karena ada sesuatu yang sangat berharga dan sangat dinanti, yaitu pertandingan antara Persebaya Surabaya melawan PSIS Semarang.

Pertandingan itu bukanlah pertandingan biasa. Pertandingan itu menjadi laga kembali pulangnya Persebaya Surabaya dari perjalanan panjang. Sudah hampir empat tahun klub kebanggaan arek-arek Suroboyo ini dipaksa tenggelam dan mati oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Bukan rindu tribun. Saya lebih rindu Persebaya berlaga dengan komposisi pemain dan manajemen yang jelas, seperti pada hari Minggu kemarin. Jika hanya tribun, saya sudah berulang kali datang ke tribun seperti saat menyemarakkan pesta ulang tahun Persebaya di Gelora Bung Tomo pada ulang tahun yang ke-88, dua tahun lalu. Dan tentunya laga Persebaya All Stars pada tahun kemarin. Tapi, kapan Persebaya bangkit dan resmi bertanding melawan klub sepak bola lainnya?

Terima kasih untuk Bonek di seluruh Indonesia maupun yang di luar Indonesia yang mendoakan dan memberikan support agar Persebaya bisa bangkit kembali dari tidur panjangnya. Karena doa juga adalah senjata untuk melawan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang telah menghilangkan Persebaya.

Open gate Stadion GBT jam 13.30 oleh panitia dimajukan menjadi jam 12.30. Saya berangkat dari rumah jam 12 dan harap-harap cemas karena open gate dimajukan. Takut saja di depan stadion sudah penuh sesak orang, karena yang saya harapkan masuk dengan gampang dan lancar agar dandanan saya tidak rusak untuk menemui “kekasih yang telah lama hilang”.

Alhamdulillah, sampai di stadion GBT, area parkir dan jalan masuk stadion masih lancar jaya. Di jalan menuju ke stadion terlihat rombongan Bonek lain yang sengaja berangkat bersama-sama. Merinding, itu yang saya rasakan saat berada di jalan, di pinggir jalan kami (Bonek) di sambut dan diteriaki oleh orang yang memang sengaja menunggu rombongan Bonek lewat. Kami bagaikan pahlawan yang akan berangkat ke medan perang. Diteriaki dan ditunggu oleh orang banyak, inilah hebatnya Bonek (kata saya dalam hati).

Setelah lama keliling di luar stadion, akhirnya sampai juga di gate 10. Dari gate 10 saya langsung menuju ke tribun utara. Jam 3 sore stadion masih lengang, sampai akhirnya sekitar jam 3 lebih 15 menit stadion sudah penuh sesak oleh Bonek.

Berbagai acara disuguhkan oleh panpel sebelum pertandingan yang sangat amat menghibur untuk anak-anak maupun orang dewasa. Inilah bukti bahwa tribun sudah aman untuk anak-anak dan wanita.

BACA:  Sosios di Persebaya, Bisakah Diterapkan? Bisa!

Pertandingan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya segera dimulai. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Tepuk tangan bergemuruh, dan disusul oleh nyanyian dari segala penjuru tribun stadion. Lagu sambutan untuk Panser Biru dan Snex (suporter PSIS Semarang) dinyanyikan oleh Bonek. Indahnya stadion jika antara kedua suporter saling menyapa dan bernyanyi bersama mendukung tim kebanggaan. Seperti inilah seharusnya seluruh suporter di Indonesia. Jadi datang ke stadion mendukung tim kebanggaan dan adu kreatifitas, bukan adu jotos-jotosan.

Di babak pertama, kedua tim bermain dengan sangat baik yang akhirnya skor sama 0-0 masih bertahan. Kemudian di babak kedua, Persebaya sudah mulai gencar menggedor pintu pertahanan PSIS. Pelanggaran demi pelanggaran terjadi dilapangan. Tapi sampai akhirnya Persebaya mendapat hadiah penalti pada menit ke-83. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Rachmat Irianto untuk melesatkan bola kegawang PSIS. Sampai diakhir laga, skor tetap 1-0 untuk kemenangan Persebaya.

Haru dan senang, bercampur jadi satu melihat “kekasih yang telah lama hilang” ini menang. Dan semoga kedepannya bisa lebih berjaya di kancah sepak bola Indonesia. Aamiin.

Selesai pertandingan, saya memutuskan untuk keluar stadion agak belakangan karena saya yakin di luar stadion akan penuh sesak oleh Bonek yang baru keluar. Setelah agak lama, saya keluar dari stadion dan apa yang terjadi? Di jalan keluar stadion menuju ke jalan raya penuh sesak oleh Bonek yang mau menuju keparkiran. Akhirnya saya tekadkan saja desak-desakan untuk sampai ke parkiran.

Di tengah jalan banyak anak kecil dan gadis yang ikut kakaknya, pacar maupun orangtuanya, pingsan ditengah jalan dan harus dibawa ke pinggir jalan untuk mendapatkan pertolongan. Tidak hanya di situ saja, di parkiran antrian Bonek juga masih banyak dan tidak berjalan sediktipun antrian tersebut. Menuju ke parkiran, hampir menempuh waktu 1 jam dikarenakan harus ekstra hati-hati karena penerangan yang kurang dan harus menyusuri jalanan tambak. Diparkiran saya menunggu 3 jam lebih, dan sempat diguyur hujan karena tidak ada tempat berteduh. Rumah warga sudah sesak oleh anak kecil dan wanita yang berteduh dari hujan. Jadi dahulukan anak kecil dan wanita.

Tiga jam lebih menahan haus dan kantuk diparkiran, jam 10 malam akhirnya antrian motor bisa berjalan menuju ke arah kota Gresik. Perjuangan yang tidak gampang dihadapi Bonek dan Bonita untuk melihat dan mendukung klub kebanggaan mereka berlaga untuk pertama kalinya setelah hilang tenggelam. Semoga kedepannya panpel bisa membuat parkiran dan akses ke stadion yang lebih baik dan mudah. Aamiin.

PERSEBAYA SAK REMUK’E. SALAM SATU NYALI, WANI!

  • Decha Prasetya

    WANI..!!!!!
    Catatan panpel, tentang 1 pertandingan yang di gelar di stadion INTERNATIONAL tetapi akses TRADITIONAL.